Pengalaman Buruk di Kantor Samsat Karangasem
Ini kejadian lama, sekitar 8 tahun lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2016. Saat itu saya pergi ke Karangasem untuk mengurus samsat motor Vario Techno saya. Biasanya sih saya mengurus samsat ke Klungkung atau di Denpasar (di Tiara Dewata) karena jarak keduanya lebih dekat dari tempat tinggal saya, hanya saja saya sengaja menyempatkan diri ke Karangasem karena setahun yang lalu saya belum mengambil Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) alias plat nomor kendaraan.
Setahun yang lalu saat melakukan samsat 5 tahunan, saya belum mengambil TNKB karena memang pihak samsat belum menyediakan bahan material untuk TNKB. Material untuk TNKB memang tidak sembarangan, bahannya harus yang berkualitas agar nanti sekalipun motor mengalami kecelakaan plat kendaraan masih mudah bisa dikenali. Tidak heran biaya untuk plat ini mencapai 30 ribu (kalau tidak salah).
Agak menyebalkan sebenarnya saat itu, material TNKB belum ada tapi masyarakat disuruh membayar dulu. Seandainya ini adalah proses jual beli yang normal, saya ogah banget mau bayar, kecuali jika barangnya bersifat terbatas dan barang itu sangat dibutuhkan, hanya saja saya sebagai masyarakat tidak diberi pilihan. Tipikal layanan pemerintah dan BUMN lah: monopoli, memaksa, lantas seenaknya memberi pelayanannya buruk.
Seminggu pasca membayar TNKB itu, saya mencoba ke kantor samsat, dan ternyata masih belum ada material. Seminggunya lagi, juga belum ada. Bahkan sebulannya lagi (sekitar akhir Desember 2015) juga belum ada. Ini apa-apaan coba, ini masyarakat datang jauh-jauh dan menyempatkan diri untuk membayar pajak tapi kok dibeginikan? Lelah diberi harapan palsu, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil TNKB saat samsat tahun depan, yaitu tahun 2016 ini.

Nah, kemarin itu, setelah membayar samsat untuk tahun ini, saya lantas menuju ke tempat pengambilan TNKB yang gedungnya ada di belakang. Dari awal saya agak kesal dengan petugasnya yang berjumlah 2 orang, datang tidak disapa mereka malah asik ngobrol, kalau dalam Bahasa Bali istilahnya “nyaru-nyaru” alias dicuekin. Setelah saya dekati baru mereka baru memberi respon. Saya jelaskan tujuan, kronologi kejadian tahun lalu, serta menunjukkan slip samsat tahun lalu (yang berwarna kuning), dan ternyata mereka menolak untuk memberikan TNKB karena untuk pengambilan TNKB saya perlu menunjukkan kuitansi pembayaran yang berwarna biru, sedangkan saya tidak memilikinya.
Seingat saya, saya memang tidak mendapatkan kuitansi pembayaran itu. Setelah melengkapi dokumen dan melakukan pembayaran uji kendaraan dan plat kendaraan, semua kuitansi saya serahkan ke petugas samsat dalam satu map, dan petugas hanya mengembalikan KTP serta selip samsat dan STNK yang baru, tidak ada kuitansi yang diberikan kepada saya, dan ketika saya tanya tentang TNKB, petugas hanya mengatakan bahwa saya langsung bisa mengambilnya di gedung belakang. Mana saya tahu ada syarat berupa kuitansi saat itu, petugas TNKB saat itu juga tidak menanyakan kuitansi karena begitu datang saya langsung diminta pulang saja karena material belum ada tanpa mengingatkan soal kuitansi.
Oke, anggap lah bahwa saya juga salah atas ketiadaan kuitansi ini, walaupun saya juga menyesalkan ketidakjelasan alur, proses, syarat-syarat pengambilan TNKB, serta bagaimana mereka tidak mampu memberikan layanan TNKB sampai berbulan-bulan, tapi apakah memang tidak ada solusi atas permasalahan saya? Logikanya jika saya membayar samsat tahun lalu, pasti lah saya juga telah membayar TNKB karena prosesnya jadi satu. Petugas pun mengakuinya bahwa saya memang pasti telah membayar, tapi mereka ngotot bahwa kuitansi itu harus ada. “Syaratnya harus begitu”, kata mereka tanpa ada niat melaporkan hal ini kepada atasannya untuk mendapat solusi alternatif.
“Lantas, Bapak maunya saya gimana? Pakai plat motor palsu gitu?” tanya saya dengan suara keras agar orang lain mendengarnya. Karena tetap tidak ada jawaban, saya pun pergi dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum sinis.
Kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya untuk tidak mudah mempercayai layanan pemerintah terutama kalau ada kegiatan bayar membayar.
Oh ya, dan setelah kejadian saya baru ngeh bahwa selain saya ternyata banyak yang melakukan samsat di bulan Oktober-Desember 2015 tidak mengambil plat dan mereka lebih memilih membuat plat di tempat lain (plat palsu). Waduh, kebayang dong berapa duit yang diambil oleh pihak kepolisian yang bertugas menangani TNKB.
Bayar sekarang plat datang 3 bulan, kalau duit pembayaranya ditabung di bank, berapa dapat bunganya? Udah gitu hitung berapa orang yang tidak jadi mengambil plat dikali jumlah uang yang mereka bayar. Buset dah, kalau kayak gini mainannya, gimana gak makin buncit tuh perut.