Occam’s Razor dan Ateisme

Banyak sekali orang tidak mau percaya teori evolusi karena teori ini menyebabkan orang menjadi ateis, tidak percaya Tuhan, menyamakan manusia dengan binatang. Sebenarnya penggunaan kata “percaya” di sini adalah salah, sebab ilmu pengetahuan itu bukan kepercayaan. Saya rasa kata Neil deGrase Tyson lebih tepat untuk menggambarkan hal ini: “The good thing about science is that it’s true whether or not you believe in it.” yang artinya “Hal yang menarik tentang sains adalah bahwa ia adalah benar, tidak peduli apakah kamu percaya atau tidak”.

Kembali ke masalah konsep evolusi, benarkah teori evolusi menyebabkan ateisme pada ilmuwan? Faktanya banyak ilmuwan di bidang yang tidak ada sangkut pautnya dengan evolusi menjadi ateis pula, sebutlah Jim Alkhalili, seorang ilmuwan fisika kuantum, Svante Arrhenius, seorang ilmuwan kimia, George Wells Beadle, seorang ahli genetika, mereka semua ateis.

Lantas pertanyaannya “Apakah kalau mereka menjadi ateis lantas kita salahkan teorinya dan kita buang?” Mau kembali ke dark ages kah anda? Lantas apa yang menyebabkan orang menjadi ateis atau agnostik? Sebelum kita mencoba menjawab pertanyaan itu, alangkah baiknya jika kita mengenal dulu apa itu Occam’s Razor.

Occam’s Razor

Occam’s razor merupakan suatu prinsip dalam berpikir keilmiahan yang pertama kali digagas oleh William Occam, seorang filsuf kenamaan di jamannya. Ia sendiri menjunjung tinggi cara berpikir yang logis. Occam menyatakan bahwa: “Plurality should not be posited without necessity“, artinya bahwa asumsi yang berlebihan atau banyak atau kompleks seharusnya tidak diungkapkan ketika berargumentasi ketika ada asumsi lain yang lebih sederhana, lebih sedikit jumlahnya dan bisa diuji secara empirik. Memang mungkin bahwa asumsi yang jumlahnya sedikit itu bukan sesuatu yang lebih benar secara absolut, tapi asumsi yang sederhana ini jelas merupakan jalan terbaik untuk membangun suatu argumentasi ilmiah yang logis dan teruji.

Pengertian kata “razor” yang berarti silet mengandung makna bahwa asumsi yang berjumlah banyak, kompleks dan susah teruji sebaiknya “dicukur” atau dibuang, dan gunakan hanya asumsi yang sederhana, berjumlah sedikit dan bisa diuji. Sekarang kita gunakan prinsip Occam’s Razor ini dalam berargumentasi agar memberikan deskripsi yang lebih bagus tentang makna penggunaannya.

Pada tahun 1976, pesawat ruang angkasa Viking mengambil sebuah foto yang menggambarkan permukaan planet Mars. Pada foto tersebut didapatkan sebuah gambaran yang sungguh mengejutkan, sungguh menggemparkan dunia saat itu. Banyak ilmuwan dan orang awam menginterpretasikan temuan ini bahwa struktur tersebut adalah hasil pahatan makhluk mars dan mereka berusaha mengirimkan pesan kepada manusia tentang keberadaan mereka. Sementara ilmuwan lain berasumsi bahwa gambar tersebut hanyalah merupakan efek pencahayaan pada permukaan bukit di Mars.

Kedua asumsi ini masih merupakan hipotesis atau spekulasi yang selayaknya diuji. Pada hipotesis pertama terkandung 3 asumsi:

  1. Makhluk Mars itu ada atau setidaknya pernah ada.
  2. Makhluk Mars yang membuat pahatan di atas bukit dan menyerupai wajah manusia.
  3. Makhluk mars berusaha berkomunikasi dengan kita dengan membuat pahatan ini.

Sebagai seorang ilmuwan, tentunya mereka tidak akan menelan asumsi atau hipotesis ini mentah-mentah tanpa ada data observasi dan eksperimentasi, dan langkah selanjutnya setelah berhipotesis ria adalah pembuktian. Pembuktian bahwa di Mars pernah ada makhluk berkecerdasan, pembuktian bahwa makhluk Mars itulah yang membuat pahatan ini, dan pembuktian bahwa makhluk Mars mencoba berkomunikasi dengan kita.

Tentunya untuk melakukan pembuktian hal ini sangatlah susah, para ilmuwan harus mendarat dulu di permukaan Mars untuk mencari bukti adanya kehidupan, harus menemukan bukti bahwa struktur itu hasil pahatan dan masih banyak lagi yang lebih susah. Dari sini maka perkembangan pengetahuan tentang Mars akan mandeg  (red: macet atau stagnan) setidaknya untuk sesaat karena semua ilmuwan sibuk membuktikan asumsi-asumsi rumit di atas, yang saya pikir absurd.

Asumsi kedua jauh lebih sederhana, struktur yang mirip wajah manusia ini hanyalah karena efek pencahayaan. Pembuktiannya mudah, cukup melakukan pengambilan foto ulang dengan waktu yang berbeda, dan hasilnya terlihat pada gambar di bawah, bahwa penampakan topeng wajah itu sebenarnya hanya sebuah gundukan bukit biasa. Dengan ini ilmuwan bisa berkonsentrasi untuk membahas masalah lain. Mungkin sekarang Anda bisa paham bagaimana pentingnya Occam’s Razor di dunia ilmiah.

Pesannya mudah, singkat dan jelas: “Jika ada banyak hipotesis yang berusaha menjelaskan sekelompok fakta, pilihlah yang paling sederhana, dan paling sedikit menggunakan asumsi sebab proses pembuktiannya akan jauh lebih mudah.“. Ingat tidak ada pernyataan apriori yang bilang bahwa asumsi yang paling sedikit dan sederhana ini paling benar, but truely, it is the best way to proceed. Jika seandainya pun salah, maka kemungkinan besar bahwa asumsi sederhana lain bisa menjelaskannya tapi tidak anda masukkan ke dalam opsi.

Hubungannya Dengan Ateisme

Pemahaman seseorang yang mendalam akan pesan dalam Occam’s razor ini dan konsistensinya lah yang menyebabkan mereka menjadi ateis atau agnostik. Mereka percaya bahwa every natural event, have natural cause, dan memang sudah selayaknya bahwa setiap fenomena alam pasti memiliki penjelasan yang alamiah pula bukan penjelasan supranatural yang tidak bisa diuji secara empirik kebenarannya.

Para ateis atau agnostik tidak suka berimajinasi berlebihan untuk menjelaskan segala sesuatu, atau berteori konspirasi yang kompleks untuk menjelaskan fenomena alam. Sebab penjelasan alamiah lebih bisa diuji, bisa dibuktikan secara ilmiah sedangkan penjelasan supranatural tidak bisa dibuktikan secara alamiah.

Satu contoh kasus, dengan menjelaskan bahwa bumi mengelilingi matahari karena efek gravitasi berdasarkan teori gravitasi Newton itu bisa dijelaskan secara matematis dan dibuktikan secara ilmiah melalui eksperimentasi di laboratorium. Bagaimana jika seseorang menyatakannya bahwa: “Itu karena kehendak Tuhan?” Dari sana akan timbul pertanyaan-pertanyaan baru seperti: “Apa itu Tuhan? Di mana Dia? Apa karakterNya? Apakah bisa dibuktikan secara ilmiah?”. Pada titik inilah perkembangan ilmu pengetahuan mandeg, karena sosok Tuhan itu tidak bisa didebat secara ilmiah.

Mencoba menjelaskan bahwa alam semesta dibuat oleh Tuhan tidak lah menjawab pertanyaan bagaimana alam semesta ini terbentuk dari awalnya, tapi hanya menunda jawaban atas pertanyaan: “Dari mana Tuhan sendiri berasal? Apa rencananya? Mana buktinya?”. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab di dalam kitab yang notabene bukan berdasarkan data ilmiah, di sinilah perkembangan ilmu itu berhenti jika orang mencampur-adukkan keyakinan dan sains.

Jadi, oleh karena pemahaman yang mendalam akan prinsip Occam’s razor inilah justru para ilmuwan menjadi ateis atau agnostik bukan teori ilmiahnya. Dan justru karena kesederhanaan berpikirnya lah para ateis dan agnostik tidak menyukai pemikiran muluk-muluk akan sesuatu yang sekompleks sosok Tuhan yang tidak bisa dinalar menggunakan panca indera bukan karena mereka sombong.