WordPress dan Gutenberg Editor

WordPress versi 5.0 akan segera diluncurkan, dan angka 5 di depan titik menandakan bahwa update kali ini akan menghadirkan perubahan besar alias drastis. Salah satu perubahan drastis itu adalah pada teks editornya, dimana teks editor yang lama yang menggunakan TinyMCE akan digantikan dengan Gutenberg. Nah, sebagai penggemar WordPress rasanya wajib membahas Gutenberg ini.

Apa itu Gutenberg?

Bagi yang pernah mendengar kalimat “Guten Morgan” pasti bisa menebak istilah Gutenberg ini berasal dari mana. Yap, Johann Gutenberg adalah nama orang Jerman yang hidup di awal abad ke 15 dimana beliau terkenal karena penemuan mesin cetaknya. Mesin cetaknya ini yang kemudian menghasilkan revolusi di dunia percetakan dimana komunikasi massal lewat tulisan bisa menjadi lebih mudah, murah, dan terjangkau. Ketika media tulisan bisa diproduksi secara massal, maka informasi menjadi lebih mudah disebarkan, sehingga bisa dikatakan bahwa penemuan mesin cetak Gutenberg ini punya peranan penting dalam masa  renaissance Eropa.

Oke, saya tidak akan ngelantur membahas sejarah, yang jelas apa yang dilakukan oleh Gutenberg bisa memberi inspirasi tentang betapa pentingnya kehadiran sebuah alat yang bisa membantu orang membuat tulisan secara mudah (namun tetap indah) dalam dunia informasi. Gutenberg Editor lahir dari harapan tersebut.

Masalah pada editor yang lama (TinyMCE)

Selama bertahun-tahun, TinyMCE menjadi andalan di berbagai CMS, tidak hanya bagi WordPress, beberapa situs seperti Kompasiana juga menggunakannya. Dengan menggunakan editor ini, orang yang ingin menulis artikel tidak perlu lagi memikirkan tentang kode CSS dan HTML, hanya dengan beberapa klik, kita sudah bisa mengunggah gambar, mengatur format tulisan, menyisipkan link, bahkan membuat tabel, Orang bisa dengan mudah menyajikan konten di internet hanya dengan bermodalkan kemampuan mengetik.

Bagi pembuat konten berupa artikel ringan TinyMCE mungkin tidak menjadi masalah, tapi bagi orang yang ingin menyajikan konten yang lebih kompleks dan dengan tampilan yang lebih rumit, maka kemampuan TinyMCE masih dirasa kurang. Orang masih bingung bagaimana caranya menyisipkan dokumen dari scribd atau slideshare, termasuk cara membuat tulisan dalam beberapa kolom seperti pada koran atau majalah. Tentu saja, di editor yang lama ada pilihan untuk membuat hal tersebut dengan cara mengganti mode visual ke mode teks kemudian kita memasukkan kode embed atau CSS yang diinginkan, tapi sekali lagi, tidak semua orang tahu kode HTML dan CSS, sementara kita ingin agar tukang ketik amatiran pun bisa tetap menghadirkan konten di internet.

Selain masalah kemudahan, masalah lain pada editor lama adalah tentang bagaimana hasil yang terlihat pada editor ternyata bisa berbeda dengan hasil yang dipublikasi. Hal ini sering terjadi terutama pada pengguna tema murahan dimana pembuat tema tidak menambahkan fitur pada editor untuk mengubah jenis dan ukuran font serta lebar tulisan agar sesuai dengan font dan lebar tulisan pada bagian post dari tema tersebut.

What you see is what you get, atau yang dikenal dengan singkatan WYSIWYG adalah impian para pembuat software. Hampir semua teks editor menawarkan kelebihan ini. Bayangkan jika anda membuat dokumen di Microsoft Word kemudian setelah diprint ternyata hasilnya berbeda seperti yang nampak pada layar komputer, jelas mengecewakan dan membuat frustasi.

Jika dalam dunia perdokumenan WYIWYG adalah hal yang biasa dan sudah ada sejak zaman Microsoft Word 2000, beda halnya dengan di dunia internet. Membuat konten di editor agar sama seperti apa yang tampil setelah dipublikasi adalah hal yang rumit. Mengapa? Karena jika pada dokumen, ukuran kertas yang dicetak itu sudah baku, sementara di internet orang melihat konten dengan perangkat yang berbeda, dengan browser yang berbeda, dengan ukuran layar yang berbeda. Di internet, kita harus bisa menyajikan artikel yang menarik dan mudah dibaca, baik di layar komputer besar, maupun di layar handphone jadul yang kecil sekalipun, dan ini merupakan tantangan yang sulit.

Gutenberg sebagai alternatif

Karena masalah kemudahan serta kurangnya kemampuan WYSIWYG pada editor lama maka lahirlah alternatif editor baru yang bernama Gutenberg, dan editor alternatif ini sebenarnya sudah menjadi perbincangan yang hangat sejak setahun yang lalu, kemudian mendapatkan perhatian serius ketika diperkenalkan di WordCamp 2017 di USA.

Pada Gutenberg, sistem penulisannya berupa blok, mirip seperti editor pada Medium, hanya saja pilihan pada Gutenberg lebih banyak dan kompleks, atau bagi yang sudah pernah menggunakan Notion maka akan familiar dengan model ini. Saya tidak akan panjang lebar menjelaskan tampilan, menu, dan cara penggunaan Gutenberg ini. Bagi yang penasaran saya sarankan anda mencobanya langsung, dan WordPress 4.9.5 fitur untuk mencoba Gutenberg ini sudah tersedia.

Ajakan Mencoba Gutenberg Editor di WordPress 4.9.5

Rasanya Menggunakan Gutenberg

Pertama kali menggunakan Gutenberg, kesan pertama yang muncul adalah aneh dan tidak nyaman. Walau dibilang mirip dengan Medium dan Notion, menulis di Gutenberg terasa lebih kaku, terutama ketika berpindah dari satu paragraf ke paragraf berikutnya. Jarak spasi antar paragraf yang terlalu jauh memberikan kesan bahwa antar paragraf itu adalah 2 komponen yang berbeda.

Saya coba menu-menunya, dan tidak menemukan kesulitan berarti. Menu-menunya cukup mudah, hanya saja untuk beberapa pilihan harus melalui beberapa kali klik, sedang saya bukan tipe orang yang suka memindahkan kursor dan mengklik berkali-kali. Editor TinyMCE yang menghadirkan banyak pilihan dalam sekali klik menurut saya lebih mudah dan cepat.

Untuk media, di Gutenberg bisa dilakukan dengan mudah. Gambar dan file bisa disisipkan dengan cara drag and drop, dan yang mungkin sangat berguna bagi penulis pemula adalah bahwa Gutenberg menyediakan pilihan untuk menyisipkan konten situs lain seperti Youtube, Scribd, SlideShare, atau Facebook, dengan mudah. Lebih canggih, dengan Gutenberg kita bisa menyisipkan widget pada postingan, jadi kita bisa menambahkan daftar artikel terbaru di bawah artikel yang sudah dibuat tanpa harus mengutak-atik tema. Hmm, well done. 

Fitur yang paling saya suka dari Gutenberg adalah fitur pembuatan kolom. Sebelumnya membuat kolom di WordPress adalah hal yang cukup sulit terutama karena tidak semua orang paham CSS. Pengguna WP biasanya memilih menggunakan plugin dimana pembuatan kolom bisa dilakukan dengan memasukkan shortcode tertentu, pun hal tersebut masih kadang membingungkan bagi beberapa orang.

Berikut ini adalah contoh hasil kolom tulisan yang saya buat di Gutenberg. Hasilnya memang bagus, rapi, dan hal ini saya lakukan hanya dengan beberapa kali klik.

Tapi jujur, saya sendiri merasa fitur ini tidak begitu berguna. Saya belum pernah menemukan situasi dimana artikel saya perlu dibagi ke dalam beberapa kolom.

Ketika Gutenberg ini dipresentasikan di WordCamp 2017, konon dengan fitur kolom ini maka halaman WP bisa dikreasikan menjadi banyak hal, misalnya bisa dijadikan komik atau manga. Tapi ketika saya mencoba hal ini ke teman komikus saya, dia bilang bahwa fitur ini hanya bisa dipakai untuk komik-komik sederhana, bukan untuk komik seperti manga-manga Jepang, alasannya karena Gutenberg tidak bisa mengatur lebar masing-masing kolom. Tiap kolom dibagi dengan lebar yang sama. Jadi kalau kita membuat 2 kolom maka lebar masing-masing kolom adalah 50%, jika membuat 4 kolom maka lebarnya adalah 25%. Kita tidak bisa membuat agar satu kolom lebarnya 60% dan satunya lagi 40%. Padahal kan tidak semua kolom pada komik ukurannya sama. Selain itu, kolom juga tidak berfungsi ketika artikel dibuka pada layar kecil, misalnya pada handphone.

Gutenberg bisa digunakan untuk membuat komik dengan panel sederhana.
Tapi Gutenberg tidak bisa dipakai untuk komik yang panelnya rumit.

Masalahnya kurang lengkapnya fitur, oke lah, bisa ditolerir, tapi ada satu hal yang sangat mengganggu saya ketika menggunakan Gutenberg Editor adalah kita tidak membuat teks tulisan menjadi rata kanan kiri (justify), pilihan yang ada hanya rata kiri, rata kanan, dan rata tengah. Awalnya saya kira fungsi ini belum ada karena Gutenberg masih belum sempurna, tapi setelah baca-baca dokumentasinya ternyata fungsi ini ini sengaja ditiadakan dengan alasan yang menurut saya konyol, yaitu bahwa tulisan rata kiri kanan lebih sulit dibaca terutama di layar kecil, tidak bagus juga untuk SEO. Wallah, padahal saya termasuk orang yang lebih suka membaca tulisan dalam format rata tengah, pun koran-koran dengan kolom kecil juga rata tengah kan?

Saya bisa menerima perbedaan pendapat dimana menurut mereka rata kiri itu lebih enak dibaca dan bagus untuk SEO, tapi setidaknya user tetap diberi pilihan membuat konten seperti yang mereka inginkan. Saya jadi merasa bahwa Gutenberg ini jadi mirip seperti Apple, mereka memaksa penggunanya untuk menggunakan cara-cara yang menurut mereka lebih mudah dan lebih bagus. Ya, untuk user pemula memang mudah dan cukup puas dengan hasilnya, tapi untuk intermediate atau power user kemungkinan justru akan merasa bahwa Gutenberg ini hanya menghambat pekerjaan mereka.

Kesimpulan

Dari segi tampilan, Gutenberg Editor nampak lebih modern, lebih bersih dan sederhana. Bagi pembuat konten yang selama ini kesulitan dengan kode HTML dan CSS tapi tetap ingin menyajikan konten yang enak dipandang, maka Gutenberg bisa menjadi solusi. Proses embed dan modifikasi layout lebih mudah juga membuat pembuat konten bisa berkreasi lebih banyak.

Sayang ada beberapa fungsi dasar seperti rata tengah teks yang dihilangkan. Beberapa power user juga merasa bahwa Gutenberg ini bukannya membantu pekerjaan malah merepotkan karena harus mengklik lebih banyak untuk mengaktifkan fungsi yang mereka inginkan.

Bagi saya pribadi, Gutenberg ini lebih nampak seperti page builder ketimbang teks editor. Fungsi-fungsi seperti kolom, penambahan widget, dll, adalah hal yang tidak perlu karena hal itu semestinya dilakukan di bagian tema, bukan di tingkat post. Saya juga tidak suka dengan konsep Gutenberg yang memaksa user untuk mengikuti apa yang mereka anggap baik.

Jujur, saya kecewa ketika mendengar Gutenberg akan dijadikan sebagai teks editor default. Walau demikian. ketika tiba akhirnya Gutenberg menggantikan TinyMCE, maka saya tetap menggunakan Gutenberg dengan pertimbangan bahwa Gutenberg sebagai teks editor default nantinya akan dijadikan dasar pembuatan plugin dan tema sehingga mau tidak mau plugin dan tema di WordPress akan lebih mempertimbangkan kompabilitasnya terhadap Gutenberg ketimbang TinyMCE. Ya, semoga saja beberapa hal yang menurut saya kurang dari Gutenberg bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu.