Beberapa rekan muslim berpandangan bahwa penyebutan atau pelabelan istilah kafir pada seseorang atau sekelompok orang adalah hal yang wajar. Seperti yang ditulis oleh Jonru dalam blognya, dimana dia mengatakan bahwa orang tidak perlu marah disebut kafir karena istilah kafir hanya sebuah status yang menyatakan keyakinan seseorang, bahwa kafir artinya ya non muslim, orang tidak perlu marah disebut kafir seperti halnya orang tidak marah disebut non muslim.

Denotatif dan Konotatif

Sebelum membahas kenapa saya marah atau minimal tidak suka disebut kafir, kita harus mengenal apa itu makna denotatif dan konotatif pada sebuah kata. Ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP, sangat keterlaluan jika seorang yang mengaku mantan juara kelas sekaligus penulis handal tidak tahu tentang hal ini.

Denotatif adalah makna sebenarnya dari sebuah kata atau kalimat, contoh: “Anton makan nasi” artinya Anton memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Sedang konotatif adalah makna yang tidak sebenarnya dari sebuah kata atau kalimat, contoh: “Jokowi angkat tangan atas kasus banjir di Jakarta” kata angkat tangan disana bukan bermakna mengangkat kedua tangan melainkan bermakna menyerah atau menyatakan tidak sanggup.

Dalam Bahasa Indonesia, dikenal juga istilah konotasi negatif dan konotasi positif. Konotasi positif adalah kata yang bermakna baik, halus, atau sopan, sedangkan konotasi negatif adalah kata yang maknanya kasar atau tidak sopan. Dua buah kata yang berbeda bisa memiliki konotasi berbeda sekalipun makna sebenarnya adalah sama, contoh istilah pembantu dan babu memiliki makna yang sama, artinya orang yang bekerja untuk membantu pekerjaan rumah tangga, namun kata pembantu dirasa lebih sopan dibanding kata babu, begitu pula dengan kata istri dan bini, atau kata WPS (wanita pekerja seks) dengan pelacur.

Makna konotatif pada sebuah kata bisa bernilai positif bisa negatif bergantung pada asal usul kata, kebiasaan, dan budaya masyarakat. Kata babu misalnya, dianggap tidak sopan karena kata itu sering digunakan oleh majikan untuk merendahkan status pekerjanya. Kata wanita dulu pernah dianggap sopan dibanding perempuan, namun ketika asal usul kedua kata ditelusuri ternyata kata perempuan mengandung makna penghormatan sehingga kata itu kini dianggap lebih sopan.

Kafir Tidak Hanya Sekadar Bermakna Non-Muslim

Walau dalam ajaran Islam non muslim itu sudah pasti masuk kategori kafir, namun secara konotatif makna dari kafir sendiri lebih dari sekadar non muslim. Secara literal non muslim ya artinya bukan muslim, ini hanya sebuah status akan kepercayaan, sehingga nilai konotasinya adalah netral, tapi kafir tidak hanya bermakna status tapi juga mengandung pandangan-pandangan Islam akan kaum non muslim, bagaimana ajaran Islam dalam memperlakukan non muslim, serta bagaimana sejarah atau kebiasaan umat Islam memperlakukan non muslim.

Kafir Adalah Makhluk Paling Buruk

Dalam Al Quran surah al Bayyinah ayat 6 dengan jelas dikatakan bahwa kafir adalah makhluk paling buruk:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

Dari ayat tersebut kita bisa melihat bagaimana Islam begitu merendahkan status non muslim, tidak peduli bagaimana kebaikan non muslim yang telah mereka lakukan, Islam tetap menganggap non muslim sebagai makhluk paling buruk, yang artinya non muslim lebih buruk dibanding spesies lain seperti kambing atau babi.

Nah, sekarang silahkan tanya pada setiap orang yang anda kenal, apakah mereka tidak merah disebut makhluk paling buruk? Atau bagaimana jika kata kafir disana diubah menjadi kata muslim, sehingga kalimatnya menjadi “Muslim adalah seburuk-buruk makhluk”. Apakah anda akan marah ketika ada yang mengatakan seperti itu?

Kafir Layak Diperangi

Selain memandang bahwa kafir adalah makhluk paling buruk, Islam juga berpandangan bahwa kafir layak diperangi hingga mereka masuk Islam atau setidaknya membayar jizyah. Hal tersebut termuat dalam surah at Taubah ayat 29:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Nah, bayangkan lagi jika seorang kepala sekolah berpidato dengan muridnya kemudian mengatakan “Ayo kita perangi anak SMA sebelah hingga mereka tunduk pada sekolah kita” apakah kalimat tersebut tidak provokatif? Dan jangan salah, kata perang disana bukan bermakna melawan seperti halnya kalimat “perangi narkoba” melainkan perang dalam makna sesungguhnya, yaitu dengan adu fisik dan senjata.

Itu baru 2 ayat yang saya tampilkan, di ayat dan hadist lain ada yang menganalogikan kafir sebagai orang yang buta, bisu, dan tuli (selain menghina kafir dalil ini sekaligus menunjukkan kurangnya empati pada penderita cacat), seruan untuk tidak menjadikan kafir sebagai pemimpin, tidak berjabat tangan dan memberi salam pada non muslim, hingga ajakan membunuh orang yang keluar dari Islam dan menjadi kafir. Ini menunjukkan bagaimana Islam merendahkan dan menaruh kebencian serta prasangka buruk pada non muslim. Dan pandangan-pandangan Islam akan non muslim itu tersemat dalam kata kafir.

Kesimpulan

Kata kafir tidak hanya bermakna sebagai status kepercayaan seseorang, melainkan kafir adalah istilah bagi non muslim yang menurut pandangan Islam adalah makhluk hina dan paling buruk serta layak untuk diperangi, sehingga ketika ada orang yang dilabeli sebagai kafir, maka wajar jika orang tersebut merasa marah.

Istilah kafir memang sulit dilepaskan dari ajaran Islam, mengingat istilah itu ada dalam kitab suci Al Quran, namun alangkah baiknya jika kata itu tidak disampaikan dalam ruang publik. Ganti saja pakai kata non muslim yang konotasinya lebih netral. Lebih baik lagi jika setiap forum yang mengandung materi tentang non muslim, non muslim juga dilibatkan, sehingga informasi yang disampaikan tidak sepihak.

Kategori: Celoteh