Silent Majority dan 10 Tahun Bom Bali

Orang Bali memberikan tempat tinggal dan kesempatan hidup di Bali pada muslim, tapi muslim membalasnya dengan meledakkan bom dan membunuh ratusan nyawa.

Orang Bali membalas peledakan bom dengan memberikan penghargaan pada seorang muslim bernama Haji Bambang yang telah membantu evakuasi kejadian, muslim pun kembali membalas kebaikan tersebut dengan mengebom untuk kedua kalinya hanya dalam selang 3 tahun.

Orang Bali hanya bisa bengong dan merenung 2 kali ditipu oleh muslim 2 kali ditipu oleh umat agama yang katanya damai.

Harus mengadu kemana?

Orang Bali pun bertanya pada beberapa muslim..

Muslim 1 menjawab: “Kami prihatin, tapi itu adalah ulah oknum yang mengatasnamakan Islam”

Muslim 2 menjawab: “Itu bukan ulah muslim, mana mungkin muslim bisa meledakan bom setara C4, itu pasti konspirasi Amerika dan Yahudi”

Muslim 3 menjawab: “Itu teroris bukan dari kalangan kami, itu adalah Wahabi, pesantren kami mana ada menghasilkan teroris”


10 tahun berlalu kenangan buruk masih terasa, ekonomi Bali belum pulih benar, yang cacat akibat bom tidak bisa bekerja dan hidup dari belas kasihan orang lain. Banyak teroris yang sudah tertangkap, pelakunya ternyata bukan Amerika, bukan Yahudi, bukan cuma Wahabi, yang jelas mereka muslim.

Lantas kemana rekan muslim kita yang lain.??

Pernahkah ada permintaan maaf dari lembaga muslim seperti MUI karena telah gagal menahan kefanatikan umat muslim? Pernahkah ada lembaga zakat yang sudah memberi santunan pada korban bom Bali secara berkelanjutan?


10 tahun berlalu, teroris semakin banyak Muslim yang fanatik dengan lantang menyuarakan jihad Muslim yang fanatik dengan lantang berjanji memberantas kafir Muslim yang fanatik dengan lantang mengatakan bahwa Bom Bali 1 mendatangkan hikmah.

Kemana harus mengadu?

Mengadu pada muslim yang mana? Ketika yang waras dan bijak yang katanya mayoritas dan tidak ingin disamakan teroris malah memilih diam dan apatis.

Bukan hanya DIAM, mereka malah dengan bangganya menyebut diri mereka sebagai silent majority

Ya, mereka adalah orang-orang apatis yang lebih suka bergerak ketika ada yang menggugat acara tahlilan mereka ketimbang ada yang meneriakkan kata jihad.

Mereka adalah orang apatis yang lebih suka memprotes non muslim saat menyebarkan film Innocent of Muslims ketimbang memprotes rekan seukwahnya sendiri yang menghalalkan darah kafir.

Sekali lagi, selamat berkenalan dengan muslim Umat yang ketika fanatik menjadi hiperaktif dengan aksi kekerasan Umat yang ketika moderat memilih menjadi orang bisu dan apatis

Mungkin Anda juga menyukai