Penting Untuk Tahu Agamanya Teroris

Kemarin saya membaca sebuah tulisan menarik yang terkait dengan kasus terorisme di Sarinah beberapa hari yang lalu. Judulnya: “Penting gak sih pelaku teror itu agamanya apa?”. Tulisan tersebut membahas mengenai terorisme dan agama, dimana penulis menyimpulkan bahwa aksi terorisme semestinya tidak dikaitkan dengan agama, bahwa agama tidak mengajarkan pembunuhan, bahwa ekstrimisme bisa terjadi pada semua kalangan, bahkan pecinta bola sekalipun.

Sebenarnya tulisan model seperti ini sangat sering saya temui, dan rata-rata penulisnya tidak begitu banyak mengetahui dalil agama atau memang denial terhadapnya. Mengatakan agama tidak mengajarkan pembunuhan saja bagi saya sudah ngawur, lha wong Daud, Nabi Muhammad, dan Krishna saja pernah membunuh kok. Cuma sampai batas mana pembunuhan itu boleh dilakukan, di sana lah ada perbedaan pendapat.

Tulisan tersebut bagi saya bukan hanya naif dan denial namun juga berbahaya karena hanya akan menghambat proses evolusi agama. Sialnya lagi, tulisan naif seperti ini biasanya berujung menyalahkan ateis atau orang tidak beragama. Gak ada angin gak ada ujan, ateis selalu jadi kambing hitam, tidak ada bedanya dengan Jonruwan dan Jonruwati yang selalu menyalahkan Jokowi atas berbagai kesialan yang menimpa mereka.

Bukan Sekadar Cinta dan Fanatisme

Oke, sebelumnya saya sangat setuju dengan mengganti istilah teroris dengan ektrimis atau radikalis, hal tersebut karena definisi teroris masih tidak jelas, dan saya tidak percaya ada orang yang melakukan sesuatu hanya untuk menciptakan ketakutan, tujuan besarnya pasti ada. Debt collector misalnya, mereka meneror untuk menagih hutang, atau Setya Novanto yang meneror Dirut Freeport untuk mendapatkan saham. Nah, dalam kasus bom Sarinah, pelaku melakukan teror tujuannya untuk menegakkan khalifah di Indonesia. Jadi ketimbang disebut teroris, akan lebih masuk akal disebut khalifahris, cuma kan jadi aneh didengarnya, jadi kita pakai istilah ekstrimis saja.

Nah, penulis artikel tersebut beranggapan bahwa ekstrimis bisa muncul di kalangan mana saja, kemudian memberi contoh kasus Midun yang membunuh Todi karena cintanya pada Mira yang telah berselingkuh, kasus Hitler yang berperang karena cintanya pada pada ras Arya, atau dalam kasus bola dimana Bonek membunuh Aremania saking cintanya pada Persebaya. Tapi benarkah mereka membunuh hanya karena cinta dan fanatisme?

Ketika Midun yang menemukan Mira selingkuh dengan Todi, mengapa kemudian Midun membunuh Todi? Mengapa mereka tidak threesome saja? Jika Midun cinta pada Mira dan menemukan Mira bahagia di atas ranjang Todi, seharusnya Midun ikut bahagia juga kan? Artinya disini ada faktor lain selain cinta dan fanatisme yang membuat Midun memilih membunuh Todi ketimbang memilih nimbrung ikutan threesome.

Dalam kasus Midun, selain cintanya pada Mira, saya bisa menyimpulkan bahwa Midun setidaknya memiliki 3 pandangan: (1) tidak bisa menerima poliandri, (2) merasa berhak mengatur aktivitas seksual pasangannya, (3) memandang bahwa pembunuhan sebagai sebuah solusi. Satu saja pandangan itu tidak terpenuhi maka Midun tidak akan punya niat membunuh Todi.

Dalam kasus Hitler, propaganda pada Nazi dan masyarakat Jerman bukan sekadar ajakan untuk mencintai bangsa Arya, lebih dari itu adalah propaganda bahwa bangsa Arya adalah bangsa yang terbaik yang jumlahnya perlu diperbanyak dan bangsa lain perlu dimusnahkan, terutama bangsa Yahudi yang dianggap biang kerok kejahatan, keterpurukan, dan krisis ekonomi yang dialami Jerman.

Hitler dalam bukunya “Mein Kampf” tidak hanya mengajarkan untuk mencintai bangsa Arya namun juga mengajarkan bahwa bangsa Arya adalah ras terbaik, dan menggunakan teori evolusi untuk menguatkan propagandanya.

Dalam kasus Aremania versus Bonek, masalahnya bukan hanya karena mereka cinta dan fanatik pada klub bola idolanya, tapi karena ada tradisi bahwa Arema adalah musuh bebuyutan Persebaya, dan ada tradisi di antara kedua fans klub bahwa membunuh fans klub lawannya adalah sebuah kebanggaan. Persebaya bertemu Persipura apa saling bacok? Tidak, karena Bonek tidak punya tradisi membenci fans Persipura.

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa cinta dan fanatisme tidak cukup membuat seseorang menjadi pembunuh, bahwa masalah sebenarnya bukan soal fanatisme melainkan fundamentalisme dalam suatu kultur atau ideologi.

Penulis tersebut kemudian juga mengutip aksi pembunuhan yang dilakukan oleh berbagai umat agama. Mulai dari pembunuhan Gandhi, pembantaian Rohingya, dan penembakan yang dilakukan oleh Robert Lewis Dear. Tapi benarkah kasus tersebut bisa dihubungkan dengan agama?

Apa ada yang mengaitkan kasus penculikan aktivis yang dilakukan Soeharto dengan Islam?
Apa ada yang mengaitkan kasus korupsi yang dilakukan Darius Sitorus dengan Kristen?

Penulis artikel tersebut mengakui bahwa dia tidak tahu motif penembakan yang dilakukan oleh Robert Lewis Dear, lha kok lantas kasus dibandingkan dengan kasus terorisme yang dilakukan oleh anggota ISIS yang jelas-jelas mengutip dalil suci dalam membenarkan aksinya. Jika penulis artikel itu memilih mengaitkan kejahatan Hitler dengan ras Arya ketimbang mengaitkannya dengan agama Hitler yaitu Katolik, maka penulis itu sendiri sebenarnya sadar bahwa mengaitkan kejahatan dan agama itu tidak sembarangan.

Saya pernah membahas tentang kasus Rohingya yang lebih pantas disebut konflik antar entis dibanding konflik agama, sedang bagi saya pembunuhan Gandhi lebih dikarenakan hal politis serta pandangan Gandhi yang dianggap tidak adil terhadap umat Hindu dibanding membunuh karena ajaran Hindu (bedakan antara membela umat dan membela agama). Ada banyak kasus pembunuhan lain yang lebih cocok disebut sebagai pembunuhan yang mengatasnamakan Kristen, Hindu, dan Buddha, entah mengapa contoh-contoh kasus itu yang diambil.

Untuk bisa dikaitkan dengan agama setidaknya pelakunya memang mengaku bahwa motif pembunuhan ada kaitannya dengan agama, dia mengutip dalil kitab suci untuk membenarkan aksinya, tafsir pelaku atas dalil kitab suci itu cukup banyak diamini oleh tokoh agamanya. Tapi oke lah, anggap saja bahwa ketiga kasus itu memang ada hubungannya dengan agama, namun apakah kita sadar bahwa kejahatan atas nama agama lebih banyak muncul di kalangan umat agama tertentu dibanding umat agama lain?

Bukan kebetulan perkosaan dan pelecehan perempuan banyak muncul di India yang mayoritas Hindu, bukan kebetulan juga jika kasus terorisme banyak muncul di kalangan muslim. Seperti yang saya sampaikan di awal, hal ini terjadi lebih karena fundemantalisme dari kultur dan ideologi.

Pernah mendengar Jainisme? Ajaran utama Jainisme adalah ahimsa yaitu tidak membunuh dan tidak menyakiti makhluk hidup. Jika seseorang sudah fanatik pada ajaran Jainisme, maka yang terjadi adalah orang tersebut menjadi seorang vegetarian. Semakin orang itu fanatik pada Jainisme maka semakin kecil kemungkinan orang itu membunuh.

Dalam Hindu, impian tertinggi yang paling diharapkan adalah moksa, yaitu bersatunya roh dengan tuhan. Banyak cerita yang menunjukkan bahwa moksa bisa dicapai dengan proses pertapaan. Hindu juga mengenal catur yoga, yaitu empat jalan untuk mencapai moksa, namun proses pertapaan mendapat kedudukan utama sehingga disebut dengan raja yoga, pun dalam menjalani kehidupan, umat Hindu ketika tua diharapkan mengasingkan diri dari duniawi (wanaprastha) untuk memperbanyak kegiatan semadhi. Pemahaman konsep seperti ini membuat banyak umat Hindu di India ketika fanatik lebih memilih tidak bekerja, bertapa, dan puasa sampai kurus kering. Mereka ini bisa disebut sebagai ekstrimis Hindu.

Ekstrimis Hindu di India cenderung memilih bertapa, menyiksa diri, dan mengasingkan diri dari kehidupan sosial.

Muslim ekstrimis umumnya melakukan terorisme atas nama agama karena punya beberapa pemahaman : (1) bahwa khalifah adalah sistem pemerintahan yang benar menurut Islam dan dianggap terbaik bagi umat manusia, (2) bahwa pembunuhan terhadap non muslim dibenarkan untuk menegakkan kekhalifahan, (3) bahwa pembunuhan terhadap muslim pun dibenarkan jika dianggap membahayakan kaum mereka, (4) bahwa mati saat membela agama akan mendapatkan balasan terbaik dari tuhannya.

Pemahaman muslim ekstrimis itu bukan tanpa dasar, dalil yang mendukung hal tersebut memang ada. Bahwa memang ada ayat yang secara literal memerintahkan muslim untuk memerangi non muslim hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (at Taubah ayat 29), begitu pula ada dalil yang membenarkan mereka untuk menyerang muslim lain yang dianggap sesat dan munafik (kasus Masjid al Dhirar), serta dalil bahwa orang yang meninggal ketika berjihad akan langsung masuk surga tanpa proses hisab lebih dulu. Jadi kalau dibilang terorisme yang mengatasnamakan Islam itu tidak ada hubungannya dengan Islam, itu omong kosong.

Walau dalilnya secara literal terkesan ekstrim, namun tafsir sebenarnya atas dalil tersebut mungkin bisa bermakna sebaliknya. Jika benar demikian, maka masalahnya ada pada sistem pengajaran Islam selama ini. Ada banyak sekali tokoh muslim yang seenaknya mengutip dalil tanpa menyertai latar belakang dalil tersebut, mengutip sejarah kejayaan khalifah namun menutupi kenyataan bahwa pada masa kejayaan Islam itu para khalifah sangat toleran dan liberal, melakukan cocoklogi antara ayat dengan penemuan sains tanpa membandingkannya dengan teori lain yang sudah ada sebelumnya, termasuk mengulang-ngulang cerita penjajahan Eropa yang beragama Kristen tanpa pernah menceritakan bahwa kerajaan Islam pun banyak melakukan penjajahan.

Felix Siauw, salah satu tokoh muslim yang lebih sering bercerita tentang sejarah peperangan khalifah dibanding toleransi, serta menyalahkan paham pluralisme dan liberalisme sebagai penyebab keterpurukan muslim, padahal Khalifah Abbasiyah mencapai masa keemasan karena bersikap plural dan liberal terhadap paham dan ilmu yang masuk dari India dan Yunani

Banyak sekali buku dan video jihad yang bebas dijual di Indonesia, dimana materi dalam buku dan video tersebut selalu dikaitkan dengan pembelaan terhadap ajaran Islam.

Pemahaman agama yang tanpa disertai dengan ilmu sejarah, sains, sosiologi, dll, terlebih tanpa pernah berinteraksi dengan umat agama lain secara langsung, ini lah yang memunculkan fanatisme sempit. Pemahaman agama yang sempit ini kemudian disebarkan secara masif berulang-ulang sehingga mudah meracuni para muslim yang jiwanya masih labil. Sialnya, ketika pemahaman ini dikritik, langsung saja ada tuduhan bahwa pengkritik tersebut tidak toleran dan telah melakukan penistaan agama, padahal toleransi itu memang tidak berlaku bagi paham intoleran, dan bahwa yang dinistakan sebenarnya bukan agama, melainkan pemahaman mereka atas agama tersebut. Sialnya lagi, muslim yang toleran cenderung diam melihat kenyataan ini. Bahkan bangga menyebut dirinya sebagai silent majority, eh?

Islam radikal itu ada, tapi agama itu tidak kaku. Agama itu berevolusi. Kristen radikal dulu juga banyak, namun seiring bertambahnya pengetahuan umat, Kristen berkembang menjadi lebih toleran. Kristen yang dulunya suka memburu kaum homoseksual untuk digantung kini bahkan mulai bisa menerima pernikahan kaum homoseksual. Kristen yang dulunya kaku menganggap semua non Kristen akan masuk neraka, sebagian kini menyatakan bahwa surga bukan monopoli umat Kristen. Melihat kenyataan ini, maka tidak menutup kemungkinan Islam radikal pun lambat laun akan menghilang dan berganti menjadi Islam toleran yang banyak kita kenal.

Muslim Toleran Tidak Butuh Pengakuan

Muslim toleran (setidaknya dari mereka yang saya kenal) sebenarnya tidak membutuhkan pengakuan bahwa Islam adalah agama damai, atau pengakuan bahwa muslim radikal itu hanya minoritas beraliran sesat seperti yang banyak disampaikan oleh para politikus atau non muslim yang sok toleran. Mereka yang butuh pengakuan seperti itu justru adalah muslim dari kalangan radikal, yang saking butuh pengakuan sampai ada yang mengarang-ngarang cerita Si A masuk Islam, atau Si B mengakui kebenaran Islam.

Muslim yang wawasannya luas dan toleran umumnya tidak butuh pengakuan, yang mereka butuhkan dukungan untuk memperbaiki Islam (entah itu tafsirnya atau sistem pengajarannya) sehingga Islam yang mereka kenal bisa menjadi agama yang baik dan bebas dari tindak kejahatan yang mengatasnamakan agama.

Agar lebih mudah memahaminya, silahkan simak video di bawah, dimana Habib Rizieq selaku Ketua FPI, organisasi yang terkenal dengan laskar nasi bungkus dan suka main grebek warung itu, berceramah dan memberi komentar mengenai kasus terorisme yang terjadi di Sarinah beberapa hari yang lalu.

Bandingkan dengan video di bawah dimana seorang muslim bernama Raheel Raza, yang merupakan presiden dari Muslim Facing Tomorrow dan memang aktif dalam upaya deradikalisasi Islam, memberikan pandangan mengenai radikalisme dalam Islam.

Atau dari status Sulaiman Daud, seorang muslim yang tulisan-tulisannya di media sosial mencerminkan pandangan seorang yang toleran.

Dai sana kita bisa melihat perbedaan yang cukup jelas, muslim radikal seperti FPI dengan enteng mengatakan bahwa Islam tidak punya masalah, bahwa pelaku bom Sarinah itu sesat dan tidak sesuai ajaran Islam (walau kemudian dia mengamini kasus bom bunuh diri yang dilakukan pada tentara Israel), sebaliknya muslim yang memang terbukti toleran dan berwawasan luas yang justru mengajak kita untuk jujur mengatakan bahwa Islam radikal itu memang ada, bahwa memang ada masalah dalam sistem Islam yang ada saat ini sehingga perlu ada upaya perbaikan.

Muslim radikal sengaja menghindari pembahasan mengenai agama dan enggan agamanya dikritik, hal itu sengaja dilakukan agar pengetahuan masyarakat mengenai agama tetap menjadi sempit. Makanya tidak heran, jika yang sering memanfaatkan undang-undang penistaan agama adalah kalangan radikal, yang toleran justru adem ayem, senyum-senyum membaca blog ini, bahkan seringkali melakukan kritik terhadap agamanya sendiri.

Non muslim yang mengatakan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama sebagai komentar atas kasus terorisme Islam mungkin sedang mencoba menumbuhkan nuansa toleransi atau bisa jadi mereka hanya sekadar sungkan menuding bahwa Islam bertanggung jawab atas kasus tersebut, namun alih-alih membantu upaya pemberantasan ekstrimisme, tulisan mereka itu justru hanya akan dijadikan bahan bagi muslim radikal untuk membenarkan teori bahwa agama itu sempurna dan kebal kritik. Mereka jadi punya materi tambahan untuk semakin menghindari kritik terhadap agama sehingga hasilnya justru akan kontraproduktif. Nanti muslim radikal akan bilang “Tuh non muslim aja tahu terorisme gak ada hubungannya sama Islam, kok kamu masih ngotot bilang Islam harus diperbaiki” atau akan mengatakan “Terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, jadi apanya yang deradikalisasi?”

Langkah awal dalam penyelesaian masalah adalah menyadari bahwa masalah itu ada dan mengetahui dimana penyebab masalahnya. Sudah saatnya kita jujur, hilangkan rasa sungkan, biasakan untuk melakukan diskusi terbuka sehingga wawasan masyarakat mengenai agama menjadi tidak sempit, dan agama bisa terus berkembang menjadi paham yang lebih baik.