Pengalaman Ditilang Ibu Kapolsek

Pagi ini, seperti biasa saya memulai hari dengan bersiap pergi ke kantor. Berangkat dari Batubulan pukul 6:40 berharap dengan melewati jalur By Pass Ida Bagus Mantra bisa sampai di kantor pukul 7:20. Namun satu hal yang tidak biasa, adalah bahwa saya di tengah perjalanan ditilang oleh Ibu Kapolsek Banjarangkan. Kok bisa?

Awal Ditilang

Ceritanya dimulai ketika saya sampai di Perempatan Lebih, Gianyar. Saat itu saya berada di tengah-tengah lajur yang sedang menunggui lampu merah. Banyak kendaraan di kanan dan kiri saya. Begitu lampu hijau menyala, saya langsung cuus dengan kecepatan penuh.

Jalur By Pass dari Lebih ke Siyut merupakan jalur favorit saya karena jalannya lurus, panjang, tidak banyak toko atau perumahan di sisi jalan, dan jalannya diaspal bukan dibeton jadi kendaraan tidak begitu bergetar ketika melaluinya. Kecepatan saya saat melalui jalan ini saat itu adalah 100 kmph, kecepatan maksimal motor Vario Techno 113cc saya. Dengan kecepatan demikian, saya satu per satu melewati kendaraan yang berada di sebelah kiri saya, dan karena lajur kiri ramai oleh kendaraan roda dua dan empat yang jalannya lambat maka saya memilih lajur kanan.

Beberapa saat berada di lajur kanan, saya mendengar bel dari belakang, nampak sebuah mobil berusaha menyalip saya, saya kemudian bergerak ke kiri memberinya jalan, sayangnya bukannya menyalip saya, mobil tersebut malah berada membuntuti saya dan berusaha memeper saya. Saya pun terus bergerak ke kiri, mengurangi kecepatan kendaraan, sembari bingung apakah jalan segitu masih kurang untuk bagi Si Mobil untuk menyalip atau pengendara mobil tersebut punya maksud lain? Sampai akhirnya, di depan Alfamart, mobil tersebut berhenti dan nampak seorang Ibu berseragam polisi meminta saya untuk meminggirkan kendaraan.

Diminta untuk berhenti dan minggir, saya nurut saja, dan jujur saat itu tidak punya perasaan bahwa saya akan ditilang karena saya merasa tidak melakukan kesalahan, tapi begitu Ibu Polisi keluar dari mobil Jazz hitamnya, nampak wajah kesal sembari marah-marah dan begitu sampai di depan saya, beliau langsung menarik kabel yang ada di depan dada saya.

“Owalah, ternyata gara-gara saya pakai earphone toh.!!!”

Rupanya gara-gara ini saya ditilang, dan saya pun kemudian mendengar penjelasan dari Ibu Polisi tersebut, tentunya beliau menjelaskan sembari marah-marah.

Penilangan Oleh Ibu Polisi:

Menurut Ibu Polisi, saya melaju dari perempatan Lebih ke Siyut dengan mengambil lajur kanan, Ibu Polisi yang juga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi kemudian berusaha menyalip kendaraan saya, mengklakson berkali-kali sampai kabel klaksonnya nyaris putus, namun tidak saya tanggapi dan terus melaju di lajur kanan. Saya kemudian baru berhenti setelah ibu tersebut memeper kendaraan saya.

Cerita ini sedikit berbeda dengan yang saya ingat, dan saat itu saya merasa tidak semua kesalahan yang dituduhkan itu tidak benar. Dari sini lah terjadi sedikit (sedikit menurut saya lho ya) perdebatan antara saya dan Ibu Polisi tersebut.

Tuduhan Mendengarkan Musik

Kepada ibu polisi saya menyampaikan bahwa saya mengenakan earphone bukan sedang mendengarkan musik. Memang biasanya saya mendengarkan musik saat di jalan, namun itu jika saya berkendara dengan kecepatan rendah, bawa kendaraan dengan santai sambil nyanyi-nyanyi. Di pagi hari itu, justru saya tidak mendengarkan musik, saya memakai earphone karena kebiasaan saja. Tahun lalu saya pernah kehilangan handphone saat berkendara di jalur By Pass Ida Bagus Mantra yang saya duga karena dicuri oleh maling dari kantong jaket saya. Dengan menggunakan earhone yang kabelnya terhubung ke handphone saya jadi merasa lebih tenang karena yakin bahwa handphone masih berada di kantong.

Mengenai larangan berkendara sambil mendengarkan musik memang pernah saya baca, dan aturan itu dianggap kontroversial oleh teman-teman saya. Saya sendiri merasa aturan itu agak berlebihan karena di luar negeri pun setahu saya banyak orang mendengarkan musik dan radio sambil berkendara. Jika musik bisa mengurangi kebosanan, radio kadang malah sangat bermanfaat karena bisa memberikan informasi mengenai situasi di jalan raya saat ini. Di Denpasar saja ada stasion radio bernama Radio Publik Kota Denpasar (RPKD) yang memiliki siaran khusus untuk pengendara bermotor dengan memberi informasi seputar situasi lalu lintas di Denpasar dan sekitarnya, dan kadang stasiun radio ini juga menyiarkan lagu. Stasion radio ini nampaknya juga didukung oleh Kepolisian karena di Perempatan Kertalangu dari arah Tohpati ke Kesiman ada petunjuk lalu lintas yang mempromosikan stasiun radio ini. Lha, kok rasanya tidak konsisten?

Di luar musik dan radio, penggunaan alat elekronik lain yang bisa sedikit mengganggu konsentrasi di jalan adalah GPS, dimana GPS menampilkan peta dan menghasilkan suara mengenai arah dan lokasi keberadaan kendaraan saat ini. Untuk kendaraan bermotor, karena tidak ada dashboard (kecuali ojek online yang memodifikasi kendaraanya) maka informasi oleh GPS hanya bisa diterima lewat suara, karena itu beberapa handphone menyediakan alat bernama handsfree, dimana pengguna bisa mendengar informasi dari handphone tanpa perlu memegang handphonenya secara langsung. Nah, dengan aturan ini apakah nanti penggunaan GPS dan handsfree juga akan dilarang? Kan aneh.

Karena saya mengira aturan ini masih kontroversial, saya kira bahwa aturan ini masih berupa rancangan atau usulan saja atau paling tidak masih dalam tahap pembahasan, belum diterapkan. Saya pun memang kurang tertarik dengan isu terkait aturan ini, jadi tidak tahu bagaimana perkembangannya.

Balik ke kasus, karena saya merasa tidak mendengarkan musik, pun karena saya merasa aturan larangan mendengarkan musik dan menggunakan handphone itu kurang masuk akal dan masih berupa rancangan, maka fix saya merasa tidak bersalah.

Tuduhan Mengabaikan Klakson

Di bagian ini saya merasa paling ragu. Saya memang sempat mendengar suara klakson, karenanya saya menoleh ke spion kanan kemudian berpindah lajur untuk memberi kesempatan Ibu Polisi untuk lewat. Tapi ingatan saya akan hal ini masih kabur. Saya sendiri ragu jika ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi karena buru-buru ingin sampai tujuan hanya mengklakson sekali kepada motor di depan yang berjalan menghalanginya.

Saya memang tidak mendengarkan musik, pun kalau mendengar musik biasanya suara dari luar tetap bisa masuk karena saya menggunakan earphone yang kualitasnya jelek (harganya cuma 25 ribu). Kalau saya tidak mendengar suara klakson, itu kemungkinan terjadi karena dua hal, pertama karena suara angin yang masuk ke helm saya terlalu keras, mengingat saya sekalipun ngebut tetap membuka kaca helm, dan kemungkinan kedua karena saya tidak fokus saat membawa kendaraan.

Gini, pernah gak sih, anda membawa kendaraan tapi tiba-tiba sudah sampai di tempat tujuan padahal anda merasa baru saja berangkat. Anda lupa peristiwa apa saja yang terjadi saat berkendara. Semacam memory loss, atau kalau dr. Ryu Hasan menganggap kejadian ini sebagai bentuk kesurupan ringan. Tubuh bergerak secara otomatis karena kegiatan itu rutin kita lakukan, dan otak tidak mengingatnya karena kejadian tersebut tidak dianggap penting.

Nah, kira-kira begitulah yang saya rasakan sebelum saya ditilang. Mungkin karena jalan di By Pass itu lurus lempeng, dianggap jalanan yang tiap hari saya lalui, tidak penting, maka fitur autopilot di otak saya langsung mengambil alih kendali. Karenanya ketika dituduh mengabaikan klakson saya hanya bisa bengong menerima cerita versi Ibu Polisi sembari berusaha keras mengingat-ingat kejadian.

Tuduhan Salah Lajur

Seperti yang saya ceritakan di bagian awal, seingat saya, sejak mulai dari Perempatan Lebih saya melewati banyak kendaraan di sebelah kiri saya. Saat masih di lampu merah saya ingat betul bahwa saya berada di tengah lajur, berada di barisan belakang. Sekitar ada 4 kendaraan mobil di sebelah kiri saya, dan 6 sepeda motor di depan saya yang juga berada di tengah lajur jalan, dan sepeda motor yang berada di paling kiri jalan tentunya lebih banyak lagi.

Logika saya sih mengatakan kalau saya tidak mungkin melewati kendaraan semua kendaraan di depan dan sebelah kiri saya tersebut dalam waktu singkat, apalagi di sebelah kanan juga ada banyak mobil. Jika hal tersebut benar maka hal itu sesuai dengan ingatan saya bahwa saya masih dalam posisi menyalip kendaraan lain ketika saya terakhir diklakson oleh Ibu Polisi. Namun hal ini berbeda dengan keterangan Ibu Polisi yang mengatakan bahwa saya tidak sedang dalam posisi menyalip, dan kendaraan lain yang sebelumnya sama-sama berangkat dari lampu merah telah lama saya lewati.

Sekali lagi, karena saya benar-benar lupa kejadian mulai dari Lebih ke Siyut, maka saya juga tidak bisa membantah tuduhan ini. Saya hanya sempat menjelaskan cerita versi saya namun kemudian akhirnya bengong juga menerima cerita dari Ibu Polisi. Namun satu hal yang saya tanyakan adalah soal aturan bahwa sepeda motor tidak boleh berada di lajur kanan.

Memang saya pernah membaca spanduk dan baliho sosialisasi dari Kepolisian di sekitaran jalur By Pass Ida Bagus Mantra yang menyatakan bahwa lajur kanan diperuntukkan bagi kendaraan roda empat, sedang sepeda motor dan truk berada di lajur sebelah kiri. Namun karena di spanduk tersebut tidak mengutip aturan serta nomornya secara utuh, maka saya ragu apakah aturannya memang secara literal menyatakan demikian. Masa iya sih sepeda motor hanya boleh berada di lajur kiri, bagaimana jika sepeda motornya ngebut, lebih cepat dari rata-rata kendaraan roda empat, apa iya berada di lajur kiri juga, bukannya malah berbahaya?

Contoh lah saya, rata-rata kecepatan saya di By Pass itu biasanya 70-80, bukannya suka ngebut, tapi saya memang tidak suka berlama-lama di jalan raya (panas dan berdebu), lagipula kecepatan 70 kmph rasanya paling efisien sesuai pertimbangan waktu, jarak tempuh dan bahan bakar. Nah, dengan kecepatan segitu biasanya saya lebih sering menyalip daripada disalip, bahkan dengan mobil di lajur kanan masih lebih seringan menyalip. Jika sepeda motor wajib berada di lajur kiri, maka hal tersebut tentu akan menyulitkan saya, terlebih ketika yang disalip itu adalah truk yang sering melintas di By Pass. Berapa kali saya harus pindah lajur, dari kiri ke kanan, balik ke kiri lagi, begitu berkali-kali. Bukankah lebih berbahaya?

Ketika saya menanyakan hal ini kepada Ibu Polisi, beliau menegaskan bahwa sepeda motor seberapa pun kecepatannya tidak boleh berada di lajur kanan, kecuali memang dalam polisi menyalip kendaraan lain yang ditandai dengan menyalakan lampu sein.

Nah, di sini saya tidak bisa mengelak, walaupun saya mengaku menyalip (berdasarkan ingatan saya yang kabur itu), namun saya sama sekali tidak menyalakan lampu sein. Alasan saya tidak memasang lampu sein ya karena saya tidak sedang berpindah lajur dari kanan ke kiri, melainkan terus dari lajur kanan. Jika saya menyalakan sein dalam posisi seperti ini, saya takutnya kendaraan di belakang saya salah paham mengira saya akan berbalik arah.

Penyelesaian

Karena ada perbedaan versi cerita, maka saya pun berusaha menjelaskan posisi saya kepala Ibu Polisi tersebut. Tapi harus saya akui, bahwa saat memberi penjelasan tersebut saya sedikit emosi. Ada 2 hal yang menyebabkan saya sedikit emosi:

Pertama, karena dari awal Ibu Polisi menarik kabel earphone saya dan langsung memarahi saya. Cara yang menurut saya sedikit kasar dan kurang persuasif. Maksud saya, apa iya pelanggar lalu lintas harus diperlakukan demikian? Apa tidak dipertimbangkan bahwa hal tersebut bisa merusak barang orang lain? Emang sih harga earphonenya murah cuma 25 ribu, tapi kalau rusak kan sayang juga (dan akhirnya memang rusak, speaker kirinya tidak menyala lagi).

Saya pikir polisi hanya bertindak kasar ketika yang dihadapi adalah penjahat yang sedang melawan ketika ditahan, sementara saya merasa sudah bertindak cukup kooperatif, saya mematikan kendaraan untuk meyakinkan Ibu Polisi bahwa saya tidak kabur dan agar percakapan tidak terganggu oleh suara mesin, saya menyerahkan semua dokumen (SIM dan STNK), dan saya menjawab semua pertanyaan dengan jujur (termasuk menjawab pertanyaan tentang tempat di mana saya bekerja yang saya tahu itu berbahaya dan akhirnya memang saya sesali), dan bahkan ketika awal tahu saya berharapan dengan polisi saya sebenarnya sudah siap untuk menerima surat tilang.

Kedua, karena Ibu Polisi beberapa kali menggunakan kalimat yang berlebihan, misalnya mengatakan bahwa kabel klakson mobilnya nyaris putus, saya mendengarkan musik sambil goyang-goyang, dan klaim bahwa saya tidak akan ditangkap kalau Ibu Polisi tidak berusaha memeper kendaraan saya. Jujur saya tidak suka klaim berlebihan seperti ini. Majas hiperbola cuma enak didengar dalam bentuk sastra, bukan ketika menjelaskan kronologis kejadian. Walaupun saya ragu dengan detail kejadian karena ingatan saya yang masih kabur, namun ketika dipojokkan oleh cerita yang berlebihan seperti itu saya merasa jengkel juga. Saya selama berusaha menjadi warga negara yang baik, belajar banyak isu politik dan aturan terbaru, menulis artikel di wikipedia tanpa dibayar, membantu anak yang putus sekolah, ikut menjadi relawan di berbagai kegiatan sosial, dan sekarang saya tiba-tiba diperlakukan seperti seorang kriminal yang berusaha kabur dari hukum.

Biasanya kalau sedang jengkel atau marah saya menerapkan teknik manajemen marah 10 detik agar bisa kembali tenang, hanya saja karena saat itu saya sedang bingung karena tidak ingat kronologis kejadian dan dijerat oleh aturan yang menurut saya kurang masuk akal, serta jengkel oleh tindakan yang menurut saya kurang persuasif, maka saya malah membalas Ibu Polisi tersebut dengan nada-nada tinggi. Sebuah kesalahan yang belakangan baru saya sesali.

Lelah berdebat panjang juga karena tidak ingin terlambat ke kantor, akhirnya saya hanya bisa mengiyakan semua pernyataan Ibu Polisi, namun mungkin karena melihat raut wajah saya yang tidak puas akhirnya Ibu Polisi mengeluarkan jurus pamungkasnya, yaitu memberitahu jabatannya. Ibu Polisi tersebut tidak lain ternyata adalah kapolsek, jabatan yang setingkat dengan camat dan koramil.

Awalnya detak jantung langsung naik ketika mengetahui hal tersebut. Sedikit gentar karena saya sendiri tidak mau mendapat masalah besar dengan orang besar, tapi di sisi lain hati kecil saya yang idealis justru memberontak. Muncul dalam benak saya “Memangnya kenapa dia orang besar, apa dia ingin diperlakukan spesial, apa lantas semua tindakannya menjadi benar?” dari sini perasaan saya mulai campur aduk, antara bingung, pasrah, jengkel, marah, takut, sekaligus kecewa.

Dalam perasaan yang campur aduk itu saya tidak ingat lagi apa yang disampaikan oleh Ibu Polisi, hingga akhirnya Ibu Polisi kembali ke mobil dan pergi meninggalkan saya dengan raut wajah yang masih jengkel.

Saya jelas kalah saat itu, namun keadaan masih tidak jelas. Ditinggal pergi begitu saja, saya sampai lupa bahwa saya tidak mendapatkan surat tilang, pun saya tidak mengucapkan terima kasih kepala Ibu Polisi atas kemurahan hatinya, tidak juga mengucapkan maaf sebagai tanda bahwa saya telah menyadari keadaan saya. Saya selamat dalam status quo.

Kesalahan Fatal

Tidak ingin berlama-lama dalam kebingungan, segera setelah ditinggalkan Ibu Polisi, saya juga ikutan tancap gas. Sampai akhirnya bertemu lagi dengan beliau di Perempatan Siyut, di sini lah tragedi kedua bermula.

Saat itu ada sepeda motor yang juga menunggu lampu merah namun posisinya ada di lajur kanan. Saya pun spontan menunjuk sepeda motor tersebut dengan postur yang sinis namun tanpa berkata-kata. Saat itu saya ingin menyampaikan bahwa bukan saya saja yang tidak memahami aturan lajur kendaraan, tapi pengendara lain juga, sembari berharap agar pengendara lain itu juga ditilang sama seperti saya.

Tidak hanya berada di lajur kanan, sepeda motor itu pun kemudian menerobos lampu merah, diikuti oleh 2 sepeda motor lain dan satu mobil pick up. Saya pun kembali spontan menunjuk kendaraan tersebut sembari membunyikan klakson panjang. Beberapa saat kemudian Ibu Polisi dengan mobil Jazznya juga ikutan menerebos lampu merah mengejar kendaraan tersebut.

Mendapati kesempatan ini saya langsung mempersiapkan kamera handphone dan menaruhnya di kantong dada sebelah kiri jaket saya agar bisa merekam kejadian penangkapan. Selain ingin mendapatkan gambar sebagai bahan tulisan, saya ingin tahu bagaimana Ibu Polisi memperlakukan pelanggar lalu lintas lain yang menurut saya lebih membahayakan.

Posisi saya yang masih terjebak lampu merah membuat saya kemudian tertinggal, baru kemudian saya bisa melihat kendaraan Ibu Polisi setelah sampai di lampu merah selanjutnya. Anehnya, bukannya lanjut mengejar penjahat yang melaju ke arah timur, Ibu Polisi justru membelokkan kendaraan ke kiri, nampak menyerah mengejar pelanggar lalu lintas dan ingin menuju ke kantornya. Di sini muncul lagi perasaan marah dan kecewa, dan mungkin karena sempat ngebut mendadak yang membuat adrenalin saya terpacu, saya tidak mampu lagi mengontrol emosi sehingga saya langsung berteriak “Di depan ada yang melanggar lho Bu, kok gak dikejar?”. Sampai di sini saya tidak bertemu lagi dengan Ibu Polisi di jalan karena arah jalurnya sudah berbeda.

Bertemu Kembali di Kantor

Saya sampai di kantor dengan terlambat sekitar 20 menit. Perasaan tidak enak akibat kasus penilangan masih berkecamuk, namun saya berusaha bekerja secara profesional dengan tidak menunjukkan hal tersebut kepada rekan kerja dan atasan saya. Ini masalah pribadi saya, dan pihak lain (termasuk kantor tempat saya bekerja) semestinya tidak dirugikan oleh masalah pribadi yang menimpa saya ini.

Walau berusaha agar masalah itu tidak mempengaruhi produktivitas saya, namun tetap saja kejadian tersebut masih terbayang-bayang. Beberapa pertanyaan terkait kasus penilangan kembali bermunculan, saya pun kemudian mencuri kesempatan untuk googling dan mencari tahu bagaimana aturan lalu lintas yang tadi disampaikan kepada saya, terutama aturan mengenai larangan menggunakan earphone serta aturan mengenai kewajiban sepeda motor untuk berkendara di lajur kiri, tidak lupa saya juga menanyakan hal ini kepada beberapa kenalan saya yang bekerja sebagai advokat.

Dari hasil googling dan bertanya itu saya kemudian sadar bahwa apa yang disampaikan oleh Ibu Polisi memang benar adanya. Aturan dilarang mendengarkan musik yang menurut saya konyol itu ternyata bukan lagi rancangan, melainkan memang sudah diterapkan sejak tahun 2016, namun memang baru sekarang gencar disosialisasikan, begitu juga dengan aturan mengenai larangan kendaraan untuk melaju di lajur sebelah kiri. Namun demikian, beberapa teman advokat mengatakan bahwa saya tidak perlu khawatir, pelanggaran atas kasus itu semestinya bukan dianggap hal yang berat. Dokumen lengkap, kendaraan telah memenuhi standar kelengkapan, tidak ada korban yang jatuh, aturannya masih disosialisasikan, dan dengan asumsi saya menyadari kesalahan serta telah bertindak kooperatif maka estimasi sanksi yang dikenakan paling tidak lebih dari 500 ribu. Sebuah harga yang menurut saya pantas untuk ketidaktahuan saya.

Di sela-sela pekerjaan dan pencerahan atas kasus saya tersebut, lantas datanglah seorang rekan kerja saya yaitu Desi ke ruangan, memberi tahu bahwa ada seorang polisi datang untuk bertemu seorang pegawai.

Jeng jeng.!! Yakin banget kalau orang yang dimaksud tidak lain adalah saya. Di awal saat penilangan ketika memberitahu lokasi kerja saya sudah yakin kalau kejadiannya akan seperti ini. Kontan saya langsung menyiapkan diri, sembari memberi tahu Desi bahwa dia tidak perlu memberi pengumuman ke ruangan lain karena orang yang dimaksud adalah saya sendiri.

Bergegas menuju lobi, saya langsung bertemu dengan Ibu Polisi tersebut lagi, kali ini dengan wajah yang lebih ceria, nampaknya rasa jengkelnya telah berkurang, atau mungkin karena beliau sedang bercengkerama dengan atasan saya yang telah dikenalnya. Kami pun menuju ruang rapat untuk berdiskusi, menyelesaikan masalah yang tadi masih dalam status quo berlanjut tragedi.

Saat diskusi, atasan saya juga ikut berada di ruangan, namun dari awal Ibu Polisi dan saya menyampaikan bahwa atasan saya hanya sebagai pendengar saya, biar saya dan Ibu Polisi yang menyelesaikan masalah kami berdua ini, dan atasan saya setuju dengan hal tersebut.

Bertiga di ruangan, Ibu Polisi kembali menceritakan kronologis kejadian penilangan, sempat juga mengeluarkan handphonenya, yang saya sempat antusias karena mengira ada rekaman kejadian tadi, namun ternyata digunakan untuk menunjukkan pasal yang telah saya langgar. Kemudian Ibu Polisi juga telah salah paham tentang kasus pengejaran penerobos lampu merah tadi, mengira saya berteriak “Ibu juga melanggar” sehingga menjelaskan bahwa saat itu beliau sedang mengejar pelaku, serta menjelaskan bahwa polisi memiliki yang namanya hak diskresi dimana polisi boleh melanggar rambu lalu lintas berdasarkan penilaiannya sendiri jika hal itu memang dianggap perlu untuk menangani masalah atau pelanggaran.

Saat menyimak penjelasan tersebut, mungkin karena raut wajah Ibu Polisi yang lebih ceria, saya yang lebih tenang, serta sadar telah menyalahi aturan, maka rasa dan jengkel saya tadi hilang, dan saya baru menyadari hal menurut saya sangat penting, yaitu bahwa yang saya hadapi ini adalah seorang ibu-ibu.

Yap, ibu-ibu.

Ibu yang bangun pagi langsung sibuk menyiapkan diri sendiri dan anggota keluarganya yang lain untuk pergi ke kantor dan sekolah.
Ibu yang pergi terburu-buru agar bisa sampai di kantor tepat waktu.
Ibu yang mungkin hormonnya sedang tidak stabil sehingga mudah emosi.

Sekilas saya terbayang wajah ibu saya yang kalau marah juga reaksinya tidak jauh berbeda, saya pun menyesal mengapa sampai mempermasalahkan hal sepele tadi. Yang namanya ibu ibu, marahnya dimana-mana sama, memang tidak enak didengar, kalimat yang dipakai memang berlebihan, dan saya juga yakin bahwa Ibu Polisi tidak ada maksud untuk merusak earphone saya (earphone saya aja yang jelek, ditarik langsung speakernya mati).

Selain lupa bahwa yang saya hadapi adalah ibu-ibu, saya ternyata melupakan hal penting lain, bahwa Ibu Polisi ini telah menindak orang yang dianggapnya melanggar lalu lintas sekalipun itu di luar jam tugasnya.

Gini, jika seandainya disuruh memilih mana yang lebih buruk antara pelanggar lalu lintas dengan polisi lalu lintas yang disogok, maka saya jawab pelanggar lalu lintas lah yang lebih buruk karena pelanggaran lalu lintas secara langsung berpotensi membahayakan nyawa orang lain. Dengan ini, maka saya kadang berpikir bahwa tidak masalah jika ada polisi yang suka menilang di luar jam tugasnya dengan berharap mendapat sogokan. Melihat polisi yang bekerja “memeras” pelanggar lalu lintas jauh lebih baik ketimbang melihat polisi bermalas-malasan di kantor membiarkan perutnya semakin buncit.

Lha, sekarang saya menemui seorang polisi yang bukan hanya bekerja di luar jam tugasnya, tapi juga ketika menangkap pelanggar lalu lintas beliau bukannya meminta sogokan, melainkan hanya memberikan peringatan. Udah kayak polisi di Program 86 gak sih? Emang Ibunya tidak seramah dan secantik polwan di televisi, tapi yang ini kejadian asli, bukan rekayasa. Saya semestinya bersyukur di negara dimana polisinya identik dengan perut buncit ini ternyata ada bekerja sepenuh hati tanpa mengharap imbalan.

Balik ke kasus, setelah puas Ibu Polisi memberi penjelasan, tanpa ada maksud membantah saya juga kembali menceritakan cerita versi saya namun sambil mengakui bahwa saya telah melanggar aturan lalu lintas dan tahu dimana kesalahan saya setelah membaca hasil googling tadi. Beberapa detail kejadian tetap tidak saya sepakati, seperti klaim yang mengesankan bahwa saya tidak kooperatif serta klaim bahwa saya membawa nama instansi tempat saya bekerja, padahal saya tidak pernah pakai kata ganti “kami” ketika ditilang, tidak pernah membawa-bawa nama atasan, saya hanya sekali menyebut nama instansi, itupun karena ditanya saya kerja dimana. Ya ditanya begitu kan bukan berarti saya membawa nama instansi, sama seperti ketika ditanya alamat tinggal bukan berarti saya membawa nama desa tempat saya tinggal dalam kasus tersebut. Kalau saya menyebut instansi, desa, atau keluarga dengan tendensi yang mengancam atau berusaha untuk melakukan justifikasi, barulah itu bisa dianggap sebagai “bawa-bawa nama desa, instansi, atau orang lain”.

Dalam diskusi saya juga sempat mengatakan bahwa jika menurut Ibu Polisi saya telah melanggar lalu lintas, saya sebaiknya ditilang saja, nanti biar saya selesaikan di pengadilan. Nampaknya Si Ibu dan atasan saya salah menanggapi pernyataan tersebut (salah ngomong lagi), mengira saya sedang menantang Ibu Polisi, padahal justru pernyataan itu sebenarnya menunjukkan perasaan pasrah akan keputusan apa yang nanti diambil oleh Ibu Polisi.

Jadi gini, sebagai orang yang agak idealis, ketika saya tidak merasa salah, saya akan berusaha membantah dan membela diri dengan berbagai argumen saya, sebaliknya ketika saya menyadari kesalahan saya, saya akan berinisiatif menebus kesalahan tersebut. Kalau memang perlu diberi sanksi ya sanksi saja, kalau perlu didenda ya denda saja. Lagipula sebagai orang yang dididik dengan ajaran Hindu, sedikit tidaknya saya percaya dengan hukum karma, ya kalau gak dihukum sekarang, besoknya bakalan kena sial. Saya tidak ingin dihantui rasa bersalah, kalau bisa selesai sekarang, ya selesaikan sekarang, saya terima apapun konsekuensinya, lagipula saya tidak ingin berlama-lama membahas kasus ini, malu dengan rekan kerja yang lain, dan masih banyak juga tugas kantor yang harus saya kerjakan.

Sayangnya Si Ibu keburu menganggap pernyataan itu sebagai tantangan, sembari menjelaskan bahwa jika saya ditilang maka saya akan membayar banyak denda, belum kurungan penjara, belum kesibukan menjalani sidang yang akan menyita waktu dan produktivitas saya. Walau saya tahu bahwa tidak semua ancaman itu benar (karena sudah berkonsultasi dengan teman advokat tadi) tapi saya setuju dengan sebagian besar penjelasan Ibu Polisi tersebut. Kalau bisa memilih, ya sebaiknya ambil konsekuensi yang paling ringan, tapi apa dong? Ini kan kembali kepada Ibu Polisi, maunya seperti apa.

Lanjutlah Ibu Polisi menceritakan bagaimana beliau membiarkan beberapa siswa yang kadang melanggar peraturan lalu lintas. Siswa sekolah yang semestinya belum boleh membawa kendaraan karena belum cukup umur, oleh Sang Ibu Polisi diperbolehkan selama mereka berkendara tidak ugal-ugalan dan pakai helm. Beliau menganggap hal tersebut sebagai sebuah kebijaksanaan.

Di sini saya sadar bahwa ada perbedaan pandangan tentang bagaimana cara menangani pelanggar aturan, antara saya dan Si Ibu Polisi. Jika saya cenderung agak kaku melihat kasus pelanggaran lalu lintas, sebaliknya Si Ibu Polisi nampaknya punya banyak pertimbangan sebelum menilang seseorang. Menyadari perbedaan ini maka saya kemudian tahu apa yang harus saya lakukan. Tampaknya Ibu Polisi menginginkan saya melakukan sesuatu yang sifatnya normatif, yaitu mengakui kesalahan, minta maaf, dan berjanji tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Sederhana, mudah, namun hampir lupa saya ucapkan karena dalam benak saya kata tersebut sudah hampir kehilangan makna karena terlalu sering diucapkan oleh politikus busuk di negeri ini.

Saya mengucapkan ketiga kalimat tersebut berkali-kali, berusaha mendapatkan makna dari kalimat yang semestinya sakral itu, walau akhirnya Si Ibu Polisi nampak cukup puas, menganggap masalahnya selesai, dan meminta saya kembali bekerja, namun begitu meninggalkan ruangan rapat di hati saya tetap ada yang mengganjal. Saya tidak puas dengan hasil ini.

Sampai di ruang kerja saya tidak bisa makan dan minum, beberapa rekan menanyakan apa yang sedang terjadi namun saya terlalu malas untuk menjelaskan panjang lebar. Heran bagaimana kasus saya sampai didengar oleh rekan yang masih rapat di tempat lain, ternyata kasus saya disebarkan oleh atasan saya yang ikut diskusi itu di Grup WhatsApp yang isinya para bos semua. Belum selesai sampai di sana saya kembali dipanggil oleh Desi, konon ada orang BNN yang ingin mengecek apakah saya menggunakan narkoba atau tidak.

Saya pun tersenyum kecut. Belajar banyak hal pasti, tapi nampaknya hukum karma mulai berjalan….