Menjawab Dialog Kyai dan Si Liberal Tentang Surga

Sejak beberapa bulan lalu sempat bersliweran status facebook yang isinya dialog fiktif mengenai surga antara seorang liberal dan kyai kampung. Berikut saya salin status tersebut:


Dialog Si Liberal dan Kyai Kampung

Liberal: Kyai, ada orang baek banget, anti korupsi, bangun mesjid, rajin sedekah sampe hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, trus meninggal dan dia bukan Muslim, masuk mana?

Kyai: Maaf… Neraka…

Liberal: Lahh? Kan dia orang baek. Kenapa masuk neraka?

Kyai: Karena dia bukan Muslim.

Liberal: Tapi dia orang baek Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaek itu dimasukin neraka juga.

Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.

Liberal: Adil dari mane?

Kyai: Kamu sekolahnya apa?

Liberal: Ane mah Master Sains lulusan Amerika Kyai, kenape?

Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari Amerika?

Liberal: Karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.

Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?

Liberal: Ya jelas dong Kyai, ini ijazah juga masih basah.

Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?

Liberal: Jelas enggak Kyai, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.

Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?

Liberal: *terdiam*

Kyai: Gimana?

Liberal: Ya nggak jahat sih, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.

Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat… Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat (mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah) adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

Ilustrasi dialog fiktif antara seorang Kyai Kampung dengan seorang Pemuda Liberal.

Demikian dialog fiktif tersebut. Ya, yang namanya fiktif pasti karang-karangan, dibuat sengaja agar arah dialog fiktif itu seperti keinginan Si Pengarang, yaitu menampilkan bahwa pemikiran kaum liberal yang identik dengan orang-orang cerdas ternyata bisa dipatahkan oleh analogi sederhana seorang Kyai dari kampung. Sayangnya bagi saya dialog itu bukannya inspiratif, justru saya menemukan kesalahan berpikir di dalamnya.

Titel Tanpa Kuliah

Dalam dialog Sang Pengarang mencoba menganalogikan surga sebagai sebuah titel dimana untuk meraih surga maupun titel diperlukan aturan dan syarat yang perlu dipenuhi, sayangnya Sang Pengarang nampaknya tidak tahu bahwa sebuah titel bisa diberikan oleh universitas tanpa perlu menempuh pendidikan formal di universitas tersebut. Titel itu dikenal dengan nama gelar honoris causa, dimana gelar yang setingkat doktor ini diberikan pada orang yang telah berkarya atau berjasa besar terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Pemberian gelar honoris causa menunjukkan bahwa pihak universitas sebenarnya lebih menghargai karya dan jasa seseorang lebih dari sekadar pendidikan formal. Tidak peduli apakah orang itu dari universitas lain atau tidak pernah kuliah sama sekali. Jika kebaikan itu dianalogikan sebagai karya dan jasa, dan titel itu dianalogikan sebagai surga, maka jelas analogi yang digunakan pengarang dalam dialog fiktif itu tidak tepat.

Mengapa Hanya Muslim Yang Masuk Surga?

Mengatakan bahwa non muslim tidak masuk surga karena aturan yang ditetapkan tuhan memang demikian, sebenarnya sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang sesungguhnya. Jawaban tersebut hanya akan memunculkan pertanyaan baru: “Mengapa tuhan membuat aturan yang hanya memperbolehkan muslim masuk surga?” karena tujuan mempertanyakan apakah non muslim yang baik masuk surga atau tidak adalah mengetahui prioritas tuhan apakah tuhan memprioritaskan kebaikan manusia atau sekadar identitas agama.

Boleh lah, penulis menganalogikan surga dengan titel, tapi dalam kehidupan nyata pemberian titel tidak lebih hanya sebuah bukti bahwa orang telah menempuh pendidikan di universitas sehingga akan berguna ketika digunakan untuk melamar pekerjaan. Dengan titel dan ijazah maka pihak HRD tidak perlu repot melakukan banyak tes untuk mengetahui kapasitas pelamar pekerjaan. Jadi titel dan ijazah tidak lebih hanya sebagai alat bantu untuk mengetahui wawasan dan pengetahuan seseorang, artinya pengetahuan dan wawasan tetap lebih diprioritaskan ketimbang titel dan ijazah itu sendiri. Ada banyak kasus dimana penerima pekerja lebih memilih melakukan tes sendiri tanpa memandang ijazah pelamarnya, mau dia pernah kuliah atau tidak selama dalam tes dia terbukti bisa melakukan tugas maka dia akan tetap diterima.

Jika dalam kehidupan nyata pengetahuan seseorang dianggap lebih penting dari proses kuliah, lantas mengapa tuhan lebih mementingkan agama ketimbang kebaikan seseorang? Jika bahwa ijazah hanya alat bantu untuk mengetahui kapasitas seseorang, maka masih kah tuhan yang konon maha tahu itu perlu identitas agama untuk mengetahui kualitas kebaikan manusia?

Pertanyaan mengapa dalam Islam (versi mereka) tuhan tidak mau membalas kebaikan non muslim dengan surga tidak pernah terjawab. Dugaan saya, mereka tidak mau menjawab dengan lugas karena mereka tidak mau menampilkan sosok tuhan yang egois, haus pujian, dan haus sembah, atau tidak mau menampilkan bahwa agama yang mereka yakini sebenarnya hanya alat pergerakan (baca: politik) yang lebih mementingkan jumlah pengikut dibanding kualitas kebaikan dari pengikutnya.

Mungkin Anda juga menyukai