Menjawab Balasan Yopi Makdori Tentang Palestina

Dulu saya pernah menulis artikel berjudul “Menjawab Video Felix Siauw Tentang Ateisme dan Kemalasan Berpikir” dan ternyata 2 tahun lalu pernah ada artikel yang ditulis oleh seseorang bernama Yopi Makdori yang membalas artikel saya tersebut, sayangnya karena sejak saat itu saya lama tidak melakukan aktivitas blogging, maka artikel itu terlewatkan begitu saja, sampai kemarin seorang pembaca memberi tahu saya tentang artikel tersebut.

Catatan:
Artikel yang menjawab video Felix Siauw itu bagi saya termasuk artikel yang kurang baik karena terlalu banyak topik yang dibahas dalam satu artikel, jadi rencananya tidak saya pulihkan lagi tapi sebagai gantinya akan menulis beberapa artikel pengganti. Bagi yang ingin membaca artikel saya yang dulu bisa melalui webarchive.

Balik ke topik, salah satu poin yang ditunjukkan oleh Mas Yopi tentang tulisan saya adalah tentang komentar saya yang mengatakan bahwa saya tidak peduli dengan konflik di Palestina, kemudian mengaitkannya dengan nilai kemanusiaan dan pembukaan UUD 45.

Gini, bicara soal kemanusiaan, apa sih kemanusiaan itu? Penting kita bicara definisi untuk tahu apakah kita bicarakan itu sama atau tidak, jangan sampai kita berdebat tentang jeruk tanpa tahu apa yang dimaksud dengan jeruk.

Kemanusiaan jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris bisa menjadi humanity bisa juga menjadi humanism, tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemanusiaan artinya “sifat-sifat manusia”. Definisi yang sangat sederhana tapi maknanya bisa dalam, karena sifat-sifat manusia sendiri ada banyak.

Jika bicara kemanusiaan sebagai nilai (humanity), maka nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai yang sifat atau kondisi manusia. Di sini banyak orang mengira bahwa kemanusiaan hanya berkutat soal gotong royong, cinta kasih, kemurahan dan kerendahan hati, dan hal baik lainnya tapi melupakan bahwa marah, takut, cemburu, malas, keinginan untuk mendominasi, dll juga bagian dari sifat manusia. Padahal kalau kita mau jujur, kita bisa sampai pada peradaban seperti sekarang juga tidak lepas karena sifat-sifat tersebut. Karena takut maka kita membuat hukum dan peradilan, karena malas maka kita mengembangkan teknologi, karena ingin mendominasi maka bekerja membangun ekonomi.

Jika bicara kemanusiaan sebagai ideologi (humanism) maka kemanusiaan adalah filsafat atau etika yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia baik secara individu maupun kolektif dan umumnya lebih mengedepankan pemikiran kritis dan bukti empiris dibandingkan dengan dogma. Dengan pengertian tersebut maka yang menjadi dasar dari humanisme tidak lain adalah pemikiran manusia itu sendiri.

Ketika saya menulis artikel tentang Felix Siauw tersebut, yang saya maksud dengan kemanusiaan adalah nilai yang bersumber dan berdasarkan pemikiran dan sifat manusia yang ada kaitannya dengan hubungan antar manusia. Sesuai dengan pengertian kemanusiaan sebagai nilai maupun sebagai filsafat, maka kemanusiaan itu tidak bersifat utopis dan naif. Kebaikan tanpa pamrih, cinta yang tidak mengenal batas, ditampar pipi kiri serahkan pipi kanan, tersenyum memaafkan penjahat yang telah membunuh orang kesayangan, dan hal menyilaukan lainnya, itu bukan kemanusiaan melainkan kemalaikatan (bagi yang percaya malaikat) karena sifat-sifat itu lebih mencirikan seorang malaikat ketimbang manusia.

Manusia itu takut dan bisa membela diri, maka membela diri dari serangan fisik adalah sesuai dengan kemanusiaan. Manusia menyadari bahwa virus flu burung belum ada obatnya bisa menular dengan dengan cepat, maka mengarantina penderita flu burung bisa dianggap telah sesuai dengan kemanusiaan. Keduanya sesuai dengan kemanusiaan karena keduanya didasari atas sifat manusia yaitu rasa takut serta atas pertimbangan baik buruk sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman manusia.


Balik ke kasus Palestina, salah satu sifat manusia adalah mengutamakan kelompoknya dibanding kelompok lain, dalam humanity ini bahkan termasuk bagian dari social intelligence. Sekarang tinggal pertimbangkan apakah dengan ikut campur urusan negara lain memberikan manfaat bagi kelompok kita (masyarakat Indonesia) atau tidak? Jika ikut campur urusan Palestina merugikan masyarakat kita, maka tidak ada salahnya kita mengabaikan permasalahan Palestina tersebut, dan itu tidak menyimpang dengan prinsip kemanusiaan.

Dulu di zaman Sukarno, tepatnya tahun 1965 dimana saat itu kondisi ekonomi lemah, Indonesia pernah ikut campur urusan militer Malaysia sampai-sampai ada tentara yang melakukan aksi teror dan muncul isu bahwa petani akan dipersenjatai, hal itu kemudian membuat panas perpolitikan di Indonesia terutama antara PKI dan TNI. Bukannya memperbaiki kondisi dalam negeri, saat itu Sukarno justru ikut ikut campur lagi ketika Pakistan dan India berperang dengan mengirim bantuan militer pada Pakistan. Alhasil Pakistan kalah, hubungan Indonesia dengan India dan Malaysia memburuk, krisis ekonomi makin parah, kemudian berujung pada pembantaian PKI, jatuhnya Sukarno, munculnya orde baru, kemudian Amerika mulai menguasai sumber daya alam di Indonesia yang kerugiannya sampai sekarang kita rasakan.

Berkaca dari pengalaman itu serta pertimbangan bahwa Palestina bukan negara menguntungkan jika dibela, pun kenyataan bahwa negara timur tengah lain juga tidak membela Palestina, maka tidak salah jika kemudian ada yang menyarankan agar Indonesia tidak usah sok jadi pahlawan dalam konflik tersebut terutama ketika kondisi di dalam negeri sendiri belum stabil.

Mengutamakan stabilitas politik dalam negeri sebelum ikut campur urusan negara lain bagi saya ini bukan hanya sebuah pertimbangan logis (untung rugi) namun juga etis (pantas atau tidak). Coba pikir apa pantas sebuah keluarga yang kesehariannya cekcok dan melakukan KDRT kemudian menasihati dan menjadi penengah dalam permasalahan keluarga lain? Pantas kah orang yang nilainya jelek kemudian mengajari temannya cara agar bisa mendapat nilai bagus?

Bicara masalah Pembukaan UUD, bagi saya itu hanya sebuah retorika yang menyangkut visi Indonesia. Yang namanya retorika seringkali menggunakan kalimat yang hiperbola, sedang yang namanya visi itu pandangan jauh ke depan dan tidak mesti harus tercapai, karenanya isi dari Pembukaan UUD tidak bisa ditelan bulat-bulat. Apa dengan pembukaan UUD maka Mas Yopi juga serius menanggapi kalimat yang mengatakan bahwa Indonesia merdeka atas berkat rahmat Allah? Memangnya Indonesia dijajah atas berkat rahmat siapa? Lantas tuhan agama lain bagaimana?

Memaknai Pembukaan UUD dan Pancasila secara literal itu mirip seperti kelompok agama radikal yang membaca ayat tanpa tahu konteks dan sejarah bagaimana ayat itu muncul. Baca sila dalam Pancasila saja secara literal akan membingungkan, bagaimana mungkin sila kemanusiaan yang seperti dalam definisi yaitu nilai yang bersumber pada pemikiran manusia yang kritis dan jauh dari dogma, kemudian bisa berdampingan sila ketuhanan yang modalnya adalah keyakinan (percaya tanpa bukti), itu sudah kontradiktif.

“Humanisme itu artinya berhenti mengonsumsi teologi. Artinya manusia bisa mengatur dirinya sendiri untuk menghasilkan keadilan tanpa perlu pergi ke surga”

Rocky Gerung

Di kalimat lain juga, bagaimana mungkin Mas Yopi percaya bahwa Indonesia dengan dasar ketuhanannya sedang mencerdaskan kehidupan bangsa sementara penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan dan religiusitas menunjukkan korelasi yang terbalik? Atau bagaimana mungkin kita menyatakan diri sampai pada kemerdekaan sementara Belanda sebagai negara penjajah belum mengakui kemerdekaan Indonesia, masih mengirim pasukan dan memerangi rakyat Indonesia, masih bisa mengacak-ngacak pemerintahan dengan membentuk Republik Indonesia Serikat, hingga secara de facto Indonesia baru bisa merdeka pada tahun 1949 ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Sama seperti Pancasila yang intinya adalah pemersatu ideologi besar di Indonesia saat itu yaitu nasionalisme, islamisme, dan komunisme, maka Pembukaan UUD pada dasarnya adalah pidato penyemangat rakyat Indonesia serta gertakan ungkapan yang ditunjukkan kepada negara lain bahwa Indonesia itu telah memiliki visi dan dasar negara sehingga memang siap serta layak untuk diakui eksistensi dan kemerdekaannya.

Kembali soal penjajahan, sebelumnya saya mengatakan bahwa Indonesia belum pantas untuk bicara masalah kemerdekaan negara lain, pasalnya Indonesia sendiri pernah menjajah Timor Timur. Lebih tidak pantas lagi ketika Indonesia bicara bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga penjajahan harus dihapuskan, sementara Indonesia tidak pernah memberikan hak kepada GAM, RMS, dan OPM untuk merdeka. Jangankan menawarkan referendum, Indonesia seringkali menerjunkan militer dalam menangani konflik separatis. Mengakui bahwa kemerdekaan adalah hak dan melakukan tindakan represif terhadap kelompok separatis adalah hal yang kontradiktif.

Di sini saya tidak sedang menyetujui tindakan separatis apalagi mendukung, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Pembukaan UUD bukan sesuatu yang harus dimaknai secara literal. Sama seperti ayat kitab suci, kalimat-kalimat dalam Pembukaan UUD harus dimaknai dengan pertimbangan yang logis, disesuaikan dengan situasi dan kondisi terkini, dengan mengutamakan kepentingan Bangsa Indonesia.


Bicara konflik antara Palestina dan Israel, sangat lucu ketika Mas Yopi membuktikan Israel sedang menjajah Palestina dengan membandingkan kekuatan militer kedua negara tersebut. Dengan logika yang sama Mas Yopi semestinya juga bisa beranggapan bahwa Korea Utara menjajah Korea Selatan (sebelum damai beberapa minggu lalu), atau Cina sedang menjajah Vietnam. Itu logikanya bagaimana bung?

Silahkan Mas Yopi baca sejarah konflik antara Palestina dan Israel, di sana cukup jelas awal mula bagaimana negara Israel bisa berdiri, bagaimana konflik antar Israel dan Palestina bisa muncul, bagaimana keduanya berperang beberapa kali, hingga bagaimana keduanya berkonflik hingga sekarang. Sebagian besar kasus terutama konflik yang besar justru menunjukkan bahwa Palestina lah biang onar dari konflik antar keduanya.

Oh ya, di sini kita berdua sama-sama menyarankan untuk saling baca, bedanya saya menyertakan link bacaan, sedang anda tidak. Lain kali tolong kalau menyarankan orang untuk membaca sertakan juga sumber bacaannya, kasi link, sebut nama buku dan penulisnya, atau dari jurnal mana. Anda mungkin merasa banyak membaca tentang konflik Timur Tengah tapi hanya dengan mengadu referensi lah maka kita bisa mengetahui siapa yang sebenarnya lebih banyak membaca serta tahu bagaimana kualitas bacaan kita. Jangan ngakunya banyak membaca tapi yang dibaca malah situs Arrahmah atau VOA Islam yang bahkan wartawan saja belum tentu punya.

Kapan orang Palestina memicu konflik? Jawabannya sejak awal bahkan sebelum negara Israel dan Palestina itu berdiri.

Sebelumnya, perlu dicatat bahwa wilayah Palestina sekarang sejak abad ke 1 tidak pernah menjadi negara yang merdeka. Wilayah itu dijajah oleh Romawi yang dilanjutkan oleh Byzantium, kemudian dijajah oleh orang Arab pada masa Ummayah dan Abbasiyah, dilanjutkan oleh Turki Utsmani, hingga kemudian jatuh ke tangan Inggris yang menang dalam perang dunia pertama. Berdasarkan sejarah berupa bukti arkeologis (karena saya tidak percaya kitab suci), orang Yahudi baik secara etnis maupun agama, sudah ada di wilayah itu lebih dulu daripada orang Arab Muslim, mereka yang dijajah kemudian pergi mengungsi ke berbagai negara lain termasuk Eropa hingga kemudian muncul gerakan zionisme.

Jadi Mas Yopi, jika kita melihat berdasarkan garis waktu, maka orang Arab Muslim yang ada di wilayah Palestina itu keturunan penjajah dimana korbannya adalah orang Yahudi yang mas tuduh sebagai penjajah hanya karena ingin “pulang kampung” itu.

Gerakan pulang kampungnya Yahudi, alias gerakan zionisme, itu sudah terjadi sejak zaman Turki Ottoman lho, dan mereka para Yahudi itu mendapat tanah secara legal yaitu dengan membeli dari orang Arab Muslim. Gesekan antara Yahudi dan Muslim awalnya muncul bukan karena orang Yahudi merebut tanah secara paksa melainkan karena kekhawatiran atau kecemburuan sosial setelah jumlah Yahudi di sana semakin banyak.

Pasca Perang Dunia 1, Inggris sebagai pemenang perang atas Turki kemudian mengambil alih bekas jajahan Turki termasuk wilayah Palestina. Jadi Inggris itu bukan sedang melakukan penjajahan baru atas wilayah Palestina, hanya melanjutkan, itu pun sementara karena Inggris kemudian justru memerdekakan negara Arab di Timur Tengah sebagai balas jasa karena orang Arab lah yang telah membantu Inggris dalam berperang melawan Turki.

Selain orang Arab, orang Yahudi juga banyak membantu Inggris dalam berperang hingga perang dunia kedua, dan sesuai perjanjian, maka orang Yahudi kemudian dibantu untuk “pulang kampung”. Inggris sebagai negara yang punya kontrol atas wilayah Timur Tengah wajar jika kemudian mengatur bagaimana pembagian wilayah di Timur Tengah, mana yang dibagikan ke Yahudi mana yang dibagikan ke Arab, sama halnya bagaimana Inggris mengatur mana wilayah yang diberikan kepada Kerajaan Saud mana yang termasuk wilayah Kerajaan Yordania.

Sebagaimana Inggris mengatur wilayah pembagian negara-negara di Timur Tengah, Inggris pada awalnya menawarkan dibentuknya negara Palestina yang terdiri dari kelompok Yahudi dan Arab, tapi orang Arab malah menolak berkali-kali tawaran itu. Mereka tidak mau menerima kehadiran orang Yahudi, kemudian melakukan kerusuhan.

Inggris yang melakukan penyelidikan atas kasus kerusuhan kemudian menyimpulkan bahwa solusi terbaik adalah membagi wilayah Palestina menjadi 2 yaitu untuk Yahudi State dan Arab State, namun tawaran itu tetap ditolak oleh orang Palestina sehingga pembentukan negara tidak kunjung selesai. Israel yang ngebet ingin punya negara pun kemudian memilih merdeka secara sepihak. Mereka memilih untuk merdeka dengan wilayah Yahudi State seperti pembagian yang dilakukan oleh Inggris.

Alih-alih mengakui kemerdekaan Israel atau mengajak rujuk agar bisa satu negara, kelompok Arab malah mengajak negara Arab lain seperti Mesir, Irak, Yordania, dll untuk ikut memusnahkan negara Israel yang baru saja terbentuk, sehingga meletus perang Arab Israel tahun 1948. Jika Mas Yopi panjang lebar membandingkan kekuatan militer Israel sekarang dengan Palestina, maka bandingkanlah kekuatan antara Israel dan Liga Arab saat itu. Sangat jauh berbeda, baik dari segi jumlah pasukan maupun perlengkapan militer. Hasil perang itu Israel menang dan komunitas Arab kehilangan kesempatan untuk mendirikan negaranya sendiri. Pasca perang ini justru Israel berbaik hati dengan tidak mengambil wilayah komunitas Arab Palestina melainkan menyerahkannya kepada negara tetangga. Bagian timur wilayah Arab (Tepi Barat) dianeksasi oleh Yordania, sedang Gaza berada di bawah kontrol Mesir.

Beberapa tahun setelah perang tahun 1948, komunitas Arab Palestina yang sudah kalah perang itu tidak pernah merasa puas dengan wilayah yang mereka miliki, mereka selalu ingin mengusir orang Yahudi sekalipun Israel sudah diakui sebagai negara oleh berbagai negara di dunia. Kebencian mereka terhadap orang Yahudi nampaknya lebih besar dibanding keinginan untuk memperjuangkan kemerdekaan, hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana cara kelompok Arab Yahudi dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kelompok Arab Yahudi tidak memperjuangkan kemerdekaan dengan membangun pemerintah, melakukan diplomasi, dll melainkan malah sibuk menyerang Israel dengan melakukan perang secara gerilya. Lha, mana ada negara memperjuangkan kemerdekaan dengan menyerang wilayah negara lain.

Pada masa perang gerilya salah satu organisasi yang cukup punya nama yaitu PLO, sejak itu lah istilah Palestina yang wilayahnya meliputi Tepi Barat dan Gaza kemudian muncul. Jadi Palestina hasil dari mandat Inggris (sebut saja Palestina Lama) pengertiannya berbeda dengan Palestina pasca kemerdekaan Israel tahun 1948 karena penduduk yang dimaksud beda, wilayahnya juga beda. Di tahun-tahun berikutnya, apa yang disebut sebagai perjuangan kemerdekaan oleh Palestina bukanlah memperjuangkan kemerdekaan atas wilayah Tepi Barat dan Gaza, melainkan menginginkan seluruh wilayah Palestina sesuai dengan mandat Inggris yang wilayahnya meliputi wilayah Israel yang sudah merdeka. Yang begini jelas bukan Israel yang menjajah Palestina, tapi orang Arab Palestina yang terlalu benci dan rakus.

Lanjut di tahun 1967 kembali Liga Arab bersitegang dengan Israel. Konflik yang dimulai karena Mesir ingin menutup akses Selat Tiran bagi kapal-kapal Israel, dan Palestina di bawah PLO bersama dengan negara Arab lain seperti Yordania , Suriah, Lebanon, dan Irak sepakat untuk menyatakan perang dengan Israel. Beberapa negara Islam lain seperti Pakistan, Maroko, Tunisia, Kuwait, Libya, dll juga ikut mendukung perang tersebut. Kekuatan perang antar keduanya jauh, bahkan lebih jauh dibanding perang tahun 1948. Israel yang jumlah penduduknya sedikit terpaksa harus meminta semua warganya yang berusia dewasa untuk ikut bersiap dalam perang.

Dengan jumlah tentara 5 kali lebih banyak serta tank dan pesawat tempur yang 3 kali lipat lebih banyak kemudian melakukan provokasi dan mendeklarasikan perang lebih dulu, maka apa yang dilakukan Liga Arab lebih pantas disebut sebagai upaya genosida terhadap Israel. Bandingkan dengan Israel yang Mas Yopi sampai berbuih menjelaskan kekuatan militernya namun tidak sekalipun pernah mendeklarasikan perang terhadap Palestina.

Sangat beruntung kemudian Israel bisa selamat dan menang dalam perang hanya dalam waktu 6 hari, dan sejak itu negara-negara Arab mulai waras dan berpikir dua kali sebelum ingin memulai masalah dengan Israel. Jadi Mas Yopi, kekuatan militer Israel yang sekarang besar itu bukan tanpa alasan, mereka menghabiskan banyak anggaran untuk senjata, semua warganya capek dipaksa untuk wajib militer, itu semua karena pengalaman mereka yang hampir saja dimusnahkan oleh negara Arab tetangganya.

Pasca perang, Israel belajar bahwa tentara Yordania dan Suriah bisa masuk dengan mudah karena orang Palestina sengaja memberi gerak pada kedua pasukan, maka Israel yang setelah menang bisa menguasai banyak wilayah mengembalikan wilayah negara Liga Arab kecuali Tepi Barat dan Gaza, maka sejak itulah wilayah Tepi Barat dan Gaza kemudian dikontrol oleh Israel. Jadi kontrol Israel atas wilayah Tepi Barat dan Gaza bukan sebuah penjajahan yang diinisasi oleh Israel, melainkan sebuah konsekuensi atas perang yang dilakukan oleh Palestina dan Liga Arab sendiri.

Di tahun selanjutnya, Yordania yang pernah menganeksasi Tepi Barat masih mengakui orang Arab di wilayah Tepi Barat sebagai warga negara Yordania, selain itu Yordania juga mau menampung para gerilyawan fedayeen dan PLO yang melarikan diri, tapi orang Arab Palestina ini  kemudian bukannya membalas kebaikan Yordania, malah PLO ingin mengkudeta Raja Yordania sehingga terjadilah peristiwa Black September. Bayangkan, bahkan dengan sesama orang Arab Muslim yang sudah beberapa kali membantu saja masih diperangi dan dikhianati, jelas ada yang salah dengan mentalitas orang Arab Palestina saat itu.

Saya bukan penggemar Prager, tapi video ini cukup bagus menjelaskan posisi Israel, menjelaskan bagaimana Israel sebenarnya berkali-kali berusaha damai dengan Arab Palestina dengan memberikan dan mengakui wilayah mereka, tapi selalu menolak justru dari pihak Arab Palestina.

Sama seperti kesimpulan di video tersebut, saya juga setuju bahwa Israel dan Palestina bisa damai hanya ketika Palestina menerima kenyataan melawan Israel dengan cara kekerasan tidak akan membawa dampak positif, mengakui Israel sebagai negara yang sah, kemudian fokus membangun negara sendiri, bukan fokus membenci dan balas dendam pada Israel.

Oh ya, bicara bantuan militer? Negara yang tidak mau memberikan bantuan militer itu bukan cuma USA lho, bahkan negara yang mengakui kemerdekaan Palestina di PBB hingga musuh bebuyutan Amerika yaitu Rusia (dan sekarang Cina) tidak mau memberikan bantuan militer. Salah satu alasan mengapa Palestina tidak mendapatkan bantuan militer adalah karena organisasi yang menguasai wilayah itu tidak bisa dipercaya.

Penguasa wilayah Tepi Barat adalah Fatah, yang walaupun berideologi nasionalis agak sekuler namun merupakan sempalan dari PLO yang pernah melakukan upaya kudeta terhadap Yordania, sementara Hamas oleh dunia internasional sehingga dianggap sorganisasi teroris. Hamas sering mengirim roket yang diarahkan ke rumah penduduk Israel, menyembunyikan senjata di sekolah dan rumah sakit, menjadikan anak dan perempuan sebagai tameng bahkan sebagai pelaku bom bunuh diri, termasuk dulu pernah menyeret beberapa penduduk Gaza yang diikat tangannya dengan lagi kemudian diseret dengan motor hingga tewas karena diduga sebagai mata-mata.

Belum cukup bagaimana kedua organisasi yang dalam sejarahnya seringkali mendahulukan upaya kekerasan dibanding diplomasi, antar kedua kelompok bahkan pernah saling bertikai untuk berebut kekuasaan hingga mengakibatkan lebih dari 500 orang meninggal.

Sekarang Mas Yopi mikir, bagaimana mungkin kita memberikan bantuan militer pada orang-orang seperti ini? Alih-alih dipakai untuk membela diri, bisa jadi bantuan militernya digunakan untuk saling membantai antar sesamanya sendiri.

Terakhir, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak sedang berada di pihak Israel, tentu saja Israel tidak sepenuhnya benar, namun jika kita bicara solusi perdamaian antara Israel dan Palestina, maka kita tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak. Saya percaya bahwa langkah awal bagi Palestina untuk damai dan merdeka secara penuh adalah dengan berhenti membenci Israel, dan sebelum itu terjadi saya lebih suka kita membersihkan “rumah kita” terlebih dahulu.