Mengkritik Jargon #2019GantiPresiden

Belakangan di sosmed bersliweran postingan dengan tagar #2019GantiPresiden yang nampaknya sudah menjadi jargon di antara para lawan politik Jokowi. Tidak hanya berupa obrolan di media sosial, tagar #2019GantiPresiden bahkan sudah tercetak dalam bentuk stiker dan baju kaos, sesuatu yang menandakan bahwa jargon ini telah muncul sebagai sebuah gerakan politik yang nyata.

Jujur saya bingung dengan maksud tagar #2019GantiPresiden ini. Mereka yang menyebarkan ini maksudnya mau ngajak untuk mengganti presiden di tahun 2019 nanti? Mau mengganti Jokowi dengan tokoh lain? Jika iya maksudnya demikian, maka jelas ini menunjukkan kecacatan logika dan rendahnya kualitas berpolitik masyarakat kita.

Begini, ibarat orang mau ganti baju, tidak mungkin kita mengajak orang mau ganti baju kalau belum ada penggantinya. Untuk bisa mengganti baju, paling tidak sudah ada baju lain yang bisa digunakan sebagai pengganti. Lha, ini yang mau menggantikan Jokowo saja belum jelas orangnya siapa, masa iya sudah mau ngajak ganti presiden.

Memangnya siapa yang mau menggantikan Jokowi?
Megawati? Prabowo? Gatot? Tuan Guru Bajang? AHY? Ahok? Xi Jinping? Siapa dong?

Ketika saya menanyakan hal ini di grup yang berisikan “pendukung anti Jokowi”, saya mendapati beragam nama tokoh politik, selain itu saya kemudian menemukan istilah baru, yaitu ABJ. Awalnya saya kira ABJ itu artinya Angka Bebas Jentik (maklum orang kesmas), eh ternyata maksudnya adalah “Asal Bukan Jokowi”. Dari sini saya sadar bahwa tagar #2019GantiPresiden bukan muncul dari pilihan politik yang waras, melainkan hanya sebuah kebencian semata kepada sosok Jokowi yang kini menjabat sebagai presiden.

Demokrasi berjalan dengan baik ketika masyarakat memilih pemimpin dan wakilnya berdasarkan pertimbangan kualitas dari calon pemimpin tersebut. Kalau sembarangan memilih orang yang penting bukan Jokowi, ya mau jadi apa negara ini? Jika calonnya hanya 2, antara Jokowi dan Abang Bakso Depan Rumah, masa iya pilih Abang Bakso.

Ketimbang #2019GantiPresiden, saya lebih suka dengan jargon #PrabowoPresiden2019 atau #AnisMattaTheNextPresident atau bahkan jargon #2019GiantPresident (maksudnya Giant Takeshi), karena setidaknya di kalimat tersebut sudah jelas siapa yang ingin didukung, dan tentunya mereka punya alasan mengapa mendukung tokoh tersebut.