Mengkritik Ide Wisata Halal di Bali

Tulisan ini saya buat sebagai tanggapan terhadap tulisan yang dibuat oleh Hilmam Miladi di Kompasiana sebagai buntut atas wacana wisata halal yang dilontarkan oleh Sandiaga Uno dalam kunjungannya ke Bali sebagai cawapres.

Jujur, saya agak heran mengapa wacana yang dilontarkan oleh Sandiaga Uno itu ditanggapi serius, baik oleh pendukung pasangan Prabowo-Sandi maupun pendukung Jokowi-Amin. Bagi saya, Sandiaga Uno melontarkan wacana itu bukan atas niatan serius, dia tahu Bali adalah basis PDIP yang sangat kuat, dia tahu dirinya dan Prabowo tidak akan mungkin menang di Bali, apalagi pilgub sebelumnya dimenangkan oleh pasangan Koster-Ace yang merupakan wakil dari PDIP yang menawarkan program 1 jalur, yaitu program dimana Presiden, Gubernur, dan Bupati, semuanya adalah wakil dari PDIP (konon agar dengan begini program di daerah bisa berjalan lancar). Nah, jika warga Bali ekspektasinya adalah memilih gubernur PDIP dengan program 1 jalur, pasti masyarakat Bali nantinya akan memilih presiden dengan 1 jalur juga (maksudnya dari PDIP juga).

Dugaan saya, Sandiaga Uno melontarkan ide wisata halal bukan untuk menarik pemilih di Bali, melainkan untuk menguatkan basis masa muslim yang berada di luar Bali. Dia berusaha menunjukkan bahwa dia berani melontarkan ide bertemakan Islam di wilayah yang mayoritas non-muslim, sehingga bisa menarik simpati kelompok muslim. Hal ini mungkin dilakukan mengingat belakangan ini justru muncul isu yang mempertanyakan soal keislaman Prabowo.

Tapi oke lah, karena ada tulisan yang cukup bagus, dan isunya juga sempat hangat (walau agak telat), saya akan coba tanggapi. Oh ya, sebelumnya saya juga sempat membaca tulisan Bang Hilmam yang lain agar bisa memahami sudut pandang Bang Hilmam dengan lebih baik.

Klaim Berlomba Memberi Layanan Halal

Bagian ini saya tulis karena Bang Hilmam menulis:
“Disaat banyak negara-negara non muslim berlomba memberi layanan halal pada sektor pariwisata mereka,  …”

Tampaknya Bang Hilmam perlu memperjelas kalimat tersebut. Benarkah bahwa yang berlomba memberikan layanan halal itu adalah negara atau hanya pengusaha saja? Mengatakan bahwa negara berlomba memberikan layanan halal artinya pemerintah ikut campur dalam program tersebut, pemerintah memberi dana, ikut berkampanye dan melakukan promosi secara resmi, dan memberikan fasilitas. Jangan hanya karena AirBnB menyediakan paket penginapan halal lantas mengatakan Amerika juga mendukung program wisata halal. Itu maknanya sangat berbeda.

Lain lagi ketika kita bicara masalah definisi layanan halal yang dimaksud. Sejauh mana wisata halal tersebut dipromosikan. Karena di Thailand misalnya, mereka tidak pernah mewacanakan paket wisata halal, yang ada adalah wacana tentang wisata yang ramah terhadap muslim, pun yang dimaksud ramah di sana adalah soal makanan yang halal dan penginapan, masalah wanita berbikini, prostitusi, restoran sebelah yang jualan daging babi dan bau masakannya sampai ke jalanan, ya tetap lanjut. Jika yang masalah halal haramnya sebatas ini, maka di Bali jauh lebih mudah menemukan masakan dan penginapan halal ketimbang di Thailand. Lantas apa yang perlu diwacanakan lagi?

Halal Belum Tentu Baik

Halal sudah pasti baik, halal sudah pasti sehat, halal sudah pasti ramah lingkungan, halal sudah pasti sejahtera. Benarkah demikian?

Konon Halal Itu Sudah Pasti Sehat.png

Bang Hilmam percaya bahwa halal itu sudah pasti menyehatkan. Benarkah demikian?

Saya paham jika ada muslim yang berpendapat demikian. Agama yang dianggap sebagai sumber kebenaran mutlak tentu ajarannya pasti benar dan tidak perlu dipertanyakan. Sayangnya kita hidup dalam lingkungan yang beragam, tidak semua orang beragama Islam, tidak semua orang setuju dengan ajaran Islam, termasuk tentang konsep halal dan haram. Sama seperti konsep ajaran agama lain, boleh saja mengatakan konsep ajarannya baik, tapi agar bisa diterima oleh umat agama lain, konsep ajaran itu harus dibuktikan, entah itu secara historis, sains, logika, dsb.

Saya tidak perlu menunjukkan bagaimana Islam ternyata mengajarkan bahwa perbudakan seks itu halal, atau menunjukkan bahwa ada muslim yang percaya bahwa kencing unta bukan hanya halal tapi juga punya khasiat obat, untuk menunjukkan bahwa konsep halal dalam Islam tidak sepenuhnya bisa diterima di zaman modern. Bicara masalah produk olahan daging saja;’ misalnya, konsep halal bisa jadi kontroversial.

Bang Hilmam sebelumnya sempat menulis:
“…, bahwa produk halal bukan hanya identik untuk konsumen muslim saja, tapi itu juga berarti produk tersebut sudah melalui treatment yang lebih baik. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, packaging, dan logistik, hingga penyajiannya.” 

Ketika Islam bicara daging halal, Islam hanya bicara masalah jenis daging dan proses penyembelihan, tidak ada bicara masalah kualitas produk, proses produksi, pengemasan, distribusi, hingga penyajian. Saya belum menemukan ayat atau hadits yang membicarakan hal tersebut, jadi klaim Bang Hilmam ini bagi saya terlalu berlebihan dan mengada-ada. Kalau mau bicara masalah standar kualitas, keamanan, dan kebersihan seperti yang dimaksud, kita sudah mengenal apa yang disebut dengan ISO 22000 dan HACCP, keduanya merupakan standar internasional yang standarnya lebih jelas dan lengkap dibanding standar halal.

Selain klaim yang berlebihan, Bang Hilmam juga harus tahu bahwa standar halal sendiri bisa bertentangan dengan standar lain. Soal penyembelihan hewan misalnya, di Islam, agar daging bisa dikatakan halal maka hewan harus disembelih dalam keadaan hidup dan sadar, sementara menurut aturan di Eropa, metode penyembelihan seperti itu dianggap sadis karena akan membuat hewan kesakitan, yang boleh itu adalah penyembelihan dengan cara dibius terlebih dahulu. Hal ini menjadi kontroversi sampai sekarang.

Soal bahan juga, di Islam bahan yang mengandung babi dan alkohol dianggap haram, padahal belum tentu kandungan babi dan alkohol itu mengakibatkan dampak yang buruk. Dalam pengobatan misalnya, ada banyak vaksin yang menggunakan enzim babi dalam pembuatannya, hal ini kemudian membuat banyak komunitas muslim menolak vaksinasi yang berujung pada mewabahnya penyakit di wilayah tersebut. Obat batuk sirup misalnya, umumnya mengandung alkohol untuk melarutkan bahan aktif pada obat, tapi demi memenuhi tuntutan konsumen yang ingin produk halal, maka produsen obat menggantinya dengan bahan lain yang efek sampingnya lebih berbahaya.

Saya sebagai non muslim, tidak pernah memandang bahwa produk halal itu lebih baik dibanding produk non halal, karena saya tahu halal haram itu hanya tentang kesesuaian terhadap ajaran Islam, tidak relevan jika dikaitkan dengan kualitas produk, justru beberapa produk halal kualitasnya lebih buruk dibanding produk non halal karena produk halal dibatasi oleh standar kehalalan yang bisa menurunkan kualitas produk.

Memahami Pariwisata Bali

Wisata itu apa sih? Kapan seseorang dikatakan sedang berwisata? Apa yang membuat orang terhibur menikmati sebuah wisata? Apa nelayan yang menangkap ikan di Bunaken bisa disebut sebagai wisatawan? Apa guru tari yang menonton muridnya menari bisa dianggap berwisata?

Ciri orang berwisata itu sama, yaitu melakukan sesuatu di luar rutinitasnya, dan kepuasan tertinggi dari berwisata didapat ketika seseorang mendapatkan pengalaman baru. Karena konsep wisata adalah menawarkan sesuatu di luar rutinitas, maka sebuah destinasi wisata harus menawarkan sesuatu yang unik, sesuatu yang berbeda dari apa yang ditemui orang dalam kehidupan sehari-harinya.

Alam di Bali bukan tempat yang unik, satu-satunya tempat indah dan menarik di Bali hanya di Kintamani yang merupakan kaldera terbesar kedua di Indonesia. Tempat lain seperti Kuta itu hanya pantai berpasir putih biasa, Ubud hanya desa biasa yang di dekatnya ada hutan monyet. Hal yang unik di Bali, yang berbeda dari yang ditemukan orang dalam kehidupan sehari-harinya itu adalah budayanya. Maka tidak salah jika Bali disebut sebagai destinasi wisata budaya, karena produk utama wisata yang ditawarkan adalah budayanya.

Agama, tradisi, kultur, norma sosial, adalah bagian dari wisata budaya yang ditawarkan, termasuk ketiadaan konsep halal haram merupakan bagian dari budaya itu. Seorang muslim bisa saja berlibur ke Bali dengan menikmati pemandangan alam sambil tetap menikmati sajian halal, tapi bagi saya seseorang belum bisa dikatakan menikmati wisata Bali secara utuh kalau belum merasakan kebudayaan Bali, termasuk mencoba makanan tradisional dari olahan babi dan mengikuti tradisi upacara agama di Bali yang sayangnya hal tersebut dilarang dalam Islam.

Salah Pencitraan

Seperti yang saya tulis sebelumnya, di Bali sebenarnya sudah ada restoran yang menyediakan masakan halal, sudah ada penginapan yang berisi petunjuk arah kiblat di kamarnya, tempat layanan publik sudah banyak yang menyediakan fasilitas musala, jadi tanpa perlu ada wacana tentang wisata halal pun Bali sebenarnya sudah menjadi destinasi wisata yang ramah terhadap muslim.

Ketika masyarakat Bali memprotes soal wacana wisata halal, yang diprotes itu bukan soal penyediaan sajian halal bagi muslim, bukan soal penyediaan fasilitas yang ramah terhadap muslim, tapi soal branding wisata halal, dimana jika pemerintah mempromosikan wisata halal pada publik, maka ditakutkan hal tersebut akan membuat citra Bali sebagai destinasi yang unik bisa luntur.

Tidak seperti Thailand yang penduduknya mayoritas beragama Buddha dan masih menjaga tradisi leluhur, Bali sebagai wilayah yang dikelilingi oleh penduduk mayoritas muslim sangat rentan dengan isu ini. Wisatawan ingin ke Bali karena berharap bisa menemui perempuan pakai kebaya, mendengar gamelan, dan melihat warga sembahyang. Jangan sampai dengan promosi wisata halal maka orang mengira bahwa Bali sudah berubah seperti wilayah lain di Indonesia, mengira dirinya akan menemui perempuan bercadar, suara adzan, dan orang sholat di jalanan.

Tidak Cocok Dengan Budaya Bali

Islam adalah agama yang sifatnya sangat practical. Islam mengatur banyak kehidupan umatnya secara rinci mulai dari sosial sampai hal yang remeh seperti soal makanan dan pakaian dimana banyak aturan tersebut tidak cocok dengan budaya Bali. Ketidakcocokan antara budaya Bali dengan konsep halal haram nantinya akan membuat Bali sulit memenuhi tuntutan halal yang sesuai dengan aturan Islam.

Fikih dalam Islam kan bukan hanya tentang halal haramnya sebuah makanan, tapi juga tentang bagaimana muslim menjaga keimanan, menjalani kehidupan sosial, hingga menikmati kesenian. Lantas bagaimana caranya seorang muslim bisa berharap menikmati wisata yang halal di Bali dimana perempuannya memakai kebaya sementara Islam mengajarkan bahwa pakaian kebaya masih membuka aurat dan muslim diminta menjaga pandangan? Bagaimana caranya seorang muslim berharap menikmati wisata halal di Bali yang menawarkan kesenian gamelan dan tarian-tarian yang maknanya adalah pemujaan kepada dewa dewi sementara Islam melarang seorang muslim untuk mendengarkan musik dan menjauhi pemujaan kepada tuhan selain Allah?

Dulu wisata halal hanya menuntut sajian makanan halal, sekarang minta agar penginapan menyiapkan kamar yang berisi petunjuk arah kiblat, besok minta pelayan restoran agar berpakaian tertutup, lusa minta agar pelinggih (bangunan suci Hindu) yang ada di hotel agar disingkirkan. Lha, lama-lama kan Bali akan kehilangan identitas budayanya yang unik. Lagipula, jika praktik wisata halal ini dilaksanakan, yang paling diuntungkan adalah pengusaha pariwisata muslim di Bali yang notabene adalah pendatang, bukan warga asli Bali yang selama ini membangun citra pariwisata Bali dengan susah payah. Kalau begini, lantas apa bedanya dengan praktik pariwisata curang yang dilakukan oleh sebagian pengusaha Tiongkok? Sama-sama bersifat eksklusif untuk komunitasnya sendiri, sama-sama kurang menguntungkan orang Bali.

Jika melihat ke belakang, dulu tidak pernah ada tuntutan akan wisata halal. Muslim selalu jadi mayoritas di Indonesia, tapi baru setelah reformasi banyak bermunculan promosi produk halal. Hal ini nampaknya tidak lepas dari perkembangan umat agama (bukan hanya muslim) yang semakin konservatif. Dalam kalangan muslim marak apa yang disebut dengan fenomena hijrah dimana muslim diajak untuk menjalani kehidupan yang lebih Islami, yang salah satu wujudnya adalah memilih produk-produk halal. Sayangnya, fenomena ini sering dimanfaatkan oleh pengusaha dengan menggunakan label halal untuk menarik konsumen. Produk aneh berlabel halal bermunculan, mulai dari minyak angin halal, jilbab halal, kulkas halal, cat tembok halal, sampai makanan kucing pun dibuat halal.  Muslim diajak ke pola hidup konsumtif, sementara belum tentu label halal pada produk itu memiliki makna dalam kehidupan beragama mereka.

Sebuah destinasi wisata bisa saja menawarkan paket wisata halal dimana batasan halalnya adalah soal makanan dan penginapan, tapi hal itu sama saja artinya dengan memanfaatkan label wisata halal hanya sebagai gimmick marketing saja, dan bagi saya ini bukan hanya tidak etis, tapi sudah mirip seperti penipuan, dan yang paling dirugikan dengan praktik ini adalah kalangan muslim sendiri karena nantinya wisata halal yang mereka temui tidak sehalal ekspektasi mereka. 

Kalau memang mau menawarkan wisata halal yang benar-benar sesuai dengan kaidah ajaran Islam, yang kehalalannya memang memiliki makna dalam kehidupan beragama muslim, maka yang sanggup melaksanakan hal itu hanya daerah yang masyarakatnya paham dan menjalankan ajaran Islam dalam keseharian mereka. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Bali sudah tepat, bahwa wisata halal sudah ada di Lombok (sudah ada perdanya), maka Lombok bisa menjadi pilihan bagi muslim yang mengharapkan wisata yang benar-benar halal.

Kalau sekadar ramah terhadap muslim, Bali sudah menjadi destinasi yang ramah dengan banyaknya sajian halal dan fasilitas yang menunjang peribadatan muslim, tapi Bali tidak perlu mempromosikan dirinya sebagai destinasi wisata halal. Jangan sampai turis luar salah paham mengira bahwa Bali sudah kehilangan identitas, dan jangan sampai muslim salah paham mengira bahwa wisata di Bali sudah sepenuhnya sesuai dengan aturan dalam ajaran Islam. 

Apakah Wisata Halal Menguntungkan Bali?

Jika tulisan Bang Hilmam dibuka dengan cerita bagaimana prospek wisata halal ke depan yang konon akan semakin booming dan menguntungkan secara ekonomi, maka di bagian akhir tulisan ini saya tutup dengan pertanyaan balik kepada Bang Hilmam. Benarkan wisata halal nantinya akan menguntungkan Bali? Benarkah bisa memberi keuntungan ekonomi yang lebih baik? Bagaimana keuntungan ekonominya dalam jangka panjang?

Menarik ketika Bang Hilmam mengutip tentang bagaimana pesatnya industri halal serta besarnya pangsa pasar muslim. Sayangnya Bang Hilmam memberikan rincian tentang siapa muslim yang dimaksud, dari negara mana, kelas ekonomi mana, dsb. Bang Hilmam juga tidak menjelaskan bagaimana prospek industri halal tersebut jika seandainya dikembangkan di Bali. Jangan sampai kurangnya data secara mendetail malah menghasilkan kesimpulan prematur yang salah. 

Di artikel Bang Hilmam mengutip tentang pariwisata di Dubai, Makkah, dan Bangkok, tapi apakah model wisata yang ditawarkan ketiganya sama dengan Bali? Apakah muslim yang mengunjungi wilayah itu adalah muslim yang sama dengan muslim yang ingin berkunjung ke Bali? Apakah nantinya perilaku muslim yang berwisata di sana akan sama jika berkunjung ke Bali?

Dubai misalnya merupakan destinasi wisata baru yang berkembang setelah negaranya menjadi kaya raya dari hasil penjualan minyak. Wisata yang ditawarkan di sana adalah wisata kemewahan, dan yang namanya kemewahan wajar jika pengeluaran wisata di sana jumlahnya besar. Hotel mahal, makanan mahal, transportasi mahal, dan turis tidak komplain akan hal tersebut karena kemewahan yang mereka dapatkan sesuai dengan ekspektasi mereka. Di Bali tidak mungkin meminta turis mengeluarkan uang dengan mahal sementara kualitas layanan wisata masih standar, kalau menyediakan layanan mewah maka itu perlu investasi yang tidak murah.

Makah misalnya, merupakan destinasi wisata religi. Dalam Islam muslim diharapkan melakukan ibadah haji setidaknya sekali seumur hidup mereka, karenanya sejelek apapun di Mekah, orang akan tetap berbodong-bondong ke sana. Ini juga berarti bahwa kunjungan muslim ke Mekah bisa dianggap sebagai momen yang langka. Beberapa muslim hanya sanggup ke Mekah sekali seumur hidup mereka, entah itu karena keterbatasan dana, waktu, maupun kuota. Karena kunjungan ke Makah merupakan momen yang langka dan prestisius maka tidak heran jika muslim tidak ragu berbelanja di Makah. Sementara Bali bukan destinasi wisata religi, tidak ada kewajiban orang berwisata ke Bali. Kunjungan ke Bali bukan dianggap sebagai momen prestisius, melainkan sama seperti kunjungan ke tempat wisata lain, karenanya niat berbelanja secara habis-habisan tidak akan ditemui di Bali seperti halnya di Makah. Selain itu, orang ke Makah umumnya sebagai peserta rombongan, mereka berangkat dalam paket umroh atau haji dimana lama tinggalnya sudah ditentukan oleh pihak travel sehingga jelas lama tinggal di Makah lebih panjang dibanding turis yang ke Bali.

Thailand menawarkan model wisata yang sama dengan Bali, tapi ketika bicara soal jumlah dan lama kunjungan, wajar pula jika Thailand lebih baik. Ketika bicara tentang wisata di Thailand, maka tempat wisata yang ditawarkan itu ada banyak, pilihannya lebih beragam, mulai dari Chiang Mai, Bangkok, sampai Phuket, itu jaraknya 1.500 kilometer, jadi wajar jika turis yang ingin puas menikmati wisata Thailand harus memerlukan waktu yang lebih panjang. Bandingkan dengan Bali yang hanya mengandalkan wisata di satu pulau, dalam 3 hari saja hampir semua lokasi wisata populer di Bali bisa dikunjungi.

Bicara wisata halal, benar Thailand sedang mempromosikan wisata yang ramah terhadap muslim, tapi perlu dipertanyakan siapa muslim yang menjadi target dari promosi tersebut. Apakah turis yang menjadi target dari wisata ramah muslim itu tertarik ke Bali jika Bali menerapkan strategi promosi yang sama?

Berdasarkan data dari TAT, memang benar bahwa turis dari Timur Tengah adalah turis yang paling royal, dalam artian pengeluaran per kapita turis timur tengah adalah yang paling besar dibanding turis dari negara lain, namun jika melihat jumlah kunjungan, turis dari Timur Tengah itu jumlahnya sangat kecil. Berdasarkan data jumlah kunjungan wisata tahun 2018, turis muslim paling banyak itu berasal dari Malaysia dengan jumlah kunjungan sekitar 4,1 juta jiwa, dan turis Indonesia dengan jumlah kunjungan 650.000 jiwa. 

Data Jumlah Kunjungan Wisata ke Thailand

Data jumlah kunjungan wisatawan ke Thailand berdasarkan asal negaranya.

Dugaan saya, turis Malaysia banyak berkunjung ke Thailand karena alasan jarak. Jarak yang dekat selain membuat biaya perjalanan menjadi lebih murah, waktu berlibur bisa dimaksimalkan, wisatawan bisa pulang dalam keadaan masih segar (tidak lelah di perjalanan), juga menimbulkan rasa lebih aman bagi turis maupun keluarga. Sementara wisatawan Indonesia kemungkinan memilih Thailand karena Thailand dianggap sebagai destinasi wisata luar negeri yang murah dan dekat.

Bali belum tentu bisa menargetkan wisatawan lokal muslim maupun dari Malaysia. Bagi wisatawan lokal kelas menengah ke atas, mereka mungkin lebih memilih Thailand dibanding Bali, karena prestise akan label “jalan-jalan ke luar negeri” bisa didapat, sementara Bali masih dianggap sebagai wisata lokal saja. Begitu juga dengan wisatawan Malaysia yang mungkin akan berpikir lebih panjang untuk liburan ke Bali karena masalah jarak dan biaya.

Saya belum menemukan data apakah benar dengan promosi wisata halal atau wisata ramah muslim bisa menarik jumlah kunjungan wisata ke suatu daerah. Industri halal memang sedang booming, muslim yang termakan oleh gimmick marketing halal mungkin lebih memilih hotel yang berlabel halal atau syariah ketimbang hotel biasa, tapi apakah muslim tersebut akan lebih memilih suatu destinasi wisata hanya karena daerah itu menawarkan paket wisata halal? Seandainya Laos mempromosikan wisata ramah muslim, apakah itu akan membuat muslim lebih tertarik berkunjung ke Laos ketimbang ke Kamboja misalnya? Belum tentu.

Ada banyak pertimbangan orang untuk memilih suatu destinasi wisata, entah itu faktor biaya, jarak, cuaca, bahasa, dsb, dan dari faktor-faktor tersebut faktor ketertarikan akan promosi wisata halal dan ramah muslim rasanya belum menjadi faktor prioritas. Orang yang gemar dan mampu berwisata umumnya orang yang cerdas dan ekonominya mapan, mereka tidak akan mudah termakan oleh gimmick marketing halal, seandainya mereka membutuhkan makanan yang sesuai dengan ideologi mereka pun mereka tahu bagaimana caranya mendapatkan makanan tersebut, entah dengan riset tempat makan lebih dulu, pesan makanan khusus, atau setidaknya dengan mengecek komposisi makanan.

Sesuai dengan prinsip berwisata yaitu membuat orang keluar dari rutinitas, maka saya percaya bahwa faktor utama yang menentukan seseorang memilih destinasi wisata adalah tentang apakah destinasi wisata itu menawarkan pengalaman baru atau tidak sehingga penting bagi setiap destinasi wisata untuk menjaga keunikannya. 

Terakhir, Bang Hilmam mengutip cerita tentang kedatangan Raja Salman di Bali yang disambut meriah serta bagaimana royalnya Raja Salman, tapi Bang Hilmam melupakan hal yang sangat penting, yaitu bahwa Raja Salman berkunjung ke Bali tanpa pernah mendengar tentang promosi wisata halal. Raja Salman secara sadar memilih Bali (bukan tempat lain di Indonesia seperti Lombok atau Aceh misalnya) sebagai destinasi wisata sekalipun dia sadar bahwa Bali berpenduduk mayoritas non muslim. Hal ini sebenarnya sudah cukup menunjukkan bahwa keunikan Bali lah yang membuat Raja Salman tertarik berwisata, bukan karena promosi wisata halalnya.

Pangeran Faisal Berlibur ke Bali.png

Pangeran Fahad bin Faisal al-Saud berlibur ke Bali. Dia tidak hanya merasakan kenyamanan dan keindahan alam di Bali, tapi juga menikmati keunikan tradisi dan budayanya.

Perlu dicatat juga bahwa kunjungan wisata di Bali masih didominasi oleh turis Tiongkok, Australia, India, Inggris, dan Jepang. Dari 20 peringkat negara asal turis, hanya Malaysia yang merupakan negara yang mayoritas muslim, itupun hanya menyumbang 3% dari total kunjungan wisata. Bali tentu sadar dengan kehadiran muslim sebagai pangsa pasar yang besar, tapi pertimbangan promosi wisata halal jangan sampai membuat Bali justru ditinggalkan oleh turis lainnya.

Grafik Asal Negara Wisatawan ke Bali Tahun 2018.PNG

Grafik jumlah kunjungan wisatawan ke Bali berdasarkan asal negaranya pada Januari-Oktober 2018

Saya tidak memungkiri bahwa masih ada yang perlu dibenahi dalam pariwisata Bali. Masalah sampah, minimnya transportasi publik, keamanan, maraknya praktik pemerasan dan korupsi, minimnya industri kerajinan tangan yang kreatif, kurangnya dukungan dari pariwisata lain di luar Bali, hal tersebut menjadi kendala utama. Saya pikir membenahi sektor itu lebih penting ketimbang memanfaatkan label wisata halal sebagai gimmick marketing yang belum jelas manfaat dan keuntungannya dalam jangka panjang. Lagipula, dengan membehani sektor itu, maka yang diuntungkan bukan hanya turis tertentu, tapi semua orang yang berwisata di Bali termasuk bagi orang Bali sendiri.