Menanggapi Tulisan Gilang Kazuya Shimura

Tadi baru bangun tidur, saya iseng liat facebook, maunya sih memantau aktivitas beberapa fanpage yang saya kelola, tapi karena di beranda saya bersliweran tulisan super konyol yang bagi beberapa teman saya malah dianggap sebagai tulisan cerdas, jari saya jadi tidak tahan untuk mengetik sesuatu. Well, karena ini tulisan orang yang baru bangun, jadi maaf kalau ada kekurangan. Yuk disimak…

Menanggapi tulisan Gilang Kazuya Shimura yang konon adalah jawaban cerdas terhadap tulisannya Afi, di awal baca saya sudah geli dengan penyebutan “Dek” yang ditunjukkan kepada Afi. Mungkin maksudnya baik, agar lebih terkesan hangat dan akrab, tapi dari perspektif lain, ini menunjukkan bahwa Gilang sedang memosisikan dirinya sebagai superior, memosisikan dirinya sebagai orang yang lebih dewasa yang pantas menasihati Afi, padahal kedewasaan itu bukan tentang usia tapi tentang pemikiran dan kebijaksanaan.


Semua Agama Mengaku Paling Benar, Semua Ideologi Mengaku Yang Terbaik

Ketika Afi berkomentar mengenai agama dari perspektif luas, bukan hanya dari kacamata seorang muslim, Gilang justru memberi tanggapan dengan jawaban khas seorang muslim awam, seperti mengulang-ulang ayat tentang klaim Al Quran sebagai kitab yang benar, klaim Al Quran bahwa fitrah manusia adalah terlahir sebagai muslim, yang kesemua itu sifatnya hanya dokrin saja, ngaku-ngakunya Islam saja.

Jawaban Gilang yang mengulang dokrin ajaran Islam, sebenarnya telah menunjukkan bahwa wawasan Gilang tentang agama lain itu masih minim. Dia tidak mampu menempatkan dirinya sebagai non muslim, pun tidak bisa melihat agama dari secara netral, misalnya melihat agama dari sudut pandang sejarah dan antropologi, karena itu jawabannya terkesan hambar bahkan tidak nyambung. Tidak ada tanggapan mengenai pernyataan Afi yang mengatakan bahwa kita cuma kebetulan lahir dari orangtua yang beragama, kita cuma ikut agama orangtua, serta tanggapan mengenai kegelisahan Afi terhadap konflik yang melibatkan agama yang belakangan sering terjadi.

Jika Gilang sadar bahwa semua agama mengklaim sebagai ajaran yang paling benar, maka dia tidak perlu menyampaikan dalil yang menyatakan bahwa Al Quran sebagai kitab paling benar, karena di agama lain ayat serupa juga ada.

Soal ngaku-ngaku mah semua juga bisa. Saya juga bisa membuat blog yang berisi pengakuan bahwa “Blog ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” apa lantas itu menjadi bukti bahwa blog itu benar dibuat tuhan?

Wajar jika orang tidak langsung mempercayai klaim seperti itu. Yang namanya klaim semua orang juga bisa membuatnya, pembohong juga bisa, kalau pembohongnya pede dengan kebohongannya ya klaim kebohongannya juga bisa terkesan tegas. Tukul Arwana sering mengklaim dirinya ganteng (walaupun hanya guyon), begitu juga ada politikus ada yang berani dengan tegas mengaku sebagai orang baik, bahkan berani mengaku siap digantung di Monas dan potong kuping, tapi apa lantas kita bisa langsung percaya klaim politikus itu? Kan enggak.

Agama mengklaim paling hebat, mengklaim kitabnya luar bisa, mengklaim semua manusia sebagai umatnya, itu hal yang biasa. Karenanya wajar jika orang ragu menentukan mana agama yang benar seperti yang dialami oleh Afi. Manusia butuh petunjuk lain selain pengakuan yang bisa membuktikan mana agama yang benar, seperti bukti ilmiah atau keajaiban, yang sayangnya selama ini sulit ditemui, yang banyak justr cocoklogi dan hoax saja, yang sebagian besar sudah pernah saya bantah di blog ini.

Benarkah Fitrah Manusia Itu Adalah Muslim?

Soal “fitrah”, yakin kalau semua orang fitrahnya adalah jadi muslim?
Dengan akun bernama Gilang Kazuya Shimura, saya tidak tahu apakah Gilang itu ada keturunan Jepang atau sekadar seorang wibu (fans jejepangan), tapi melihat nama yang ada unsur Jepangnya semestinya Gilang tahu bahwa orang Jepang tidak mengenal fonem “L”. Lha kalau fonem dan huruf L saja tidak dikenal, lantas bagaimana mereka mau menyebut tuhan dalam agama Islam?

Fakta bahwa Jepang tidak mengenal fonem L menunjukkan bahwa leluhur orang Jepang memang tidak pernah menggunakan fonem itu dalam berbahasa. Dipakai dalam percakapan sehari-hari saja tidak, apalagi dipakai untuk memanggil tuhan. Kalau Gilang adalah seorang wibu, coba deh dengerin OPnya Love Lab, diulang sampai lebaran kuda juga kata “Love” terdengar “Rabu”, begitu juga dengan μ’s dan Aqours yang mengucapkan kata “Love Live” yang justru terdengar seperti “Rabu Ribe”.

Jika kata “Love” diucapkan “Rabu” maka kemungkinan kata “Allah” akan diucapkan “Arruah”, sedang Nabi Muhammad juga bakalan diucapkan seperti “Muhammado” (sempet disebut di beberapa anime, misal di filmnya Haruhi). Kasian kan kalau beragama aja susah nyebut nama tuhan dan nabinya. Apa mau bilang leluhur orang Jepang itu ditakdirkan kafir? Mau bilang kalau Inori Minase yang kawai itu tidak bisa kembali ke fitrah? Kejam sekali.. X(

Emang sih kalau dilatih pasti bisa, tapi masa iya satu suku dipermudah yang lain malah disulitkan, mana keadilan tuhan kalau begitu? Itu kita baru bicara tentang orang Jepang lho, belum tentang orang cadel atau orang tuna wicara.

Gomeh Gilang Senpai, syahadato ga dekimasen, muzukashisugiru!!

Kalau mau ideal sih, tuhan itu rasanya tidak perlu nama, karena tuhan itu bukan hanya untuk sebagian orang, tapi juga untuk orang bisu sekalipun, bahkan untuk semua makhluk. Sehingga semua bisa menyembahnya tanpa terkendala.

Islam? Nama tuhannya fasih di lidah Arab, kitabnya pakai Bahasa Arab, isinya cerita seputar kejadian di Arab (gak ada lho nyebut pinguin atau badak bercula satu), lantas situ percaya kalau semua manusia di bumi yang luas dengan beragam bahasa dan budaya ini ditakdirkan jadi muslim? Lucu.

Tanggapan Gilang yang menjawab dengan dokrin, itu tidak lebih hanya sebuah hasil sesat logika. Petitio principii alias logikanya muter-muter.

“Dek, Islam itu benar karena Al Quran bilang Islam itu benar dan bilang bahwa semua manusia fitrahnya adalah beragama Islam.”

“Dek, Abang itu ganteng karena Abang pernah dengan pede ngaku di depan umum kalau Abang ini emang ganteng dan semua wanita fitrahnya adalah jadi istrinya Abang”

Kalau mau jujur, apa yang ditulis Afi itu benar. Kita semua cuma kebetulan lahir di suatu keluarga yang beragama. Kita tidak bisa memilih orangtua kita siapa dan beragama apa. Kalau bisa milih saya tentunya memilih lahir sebagai anaknya Bill Gates, tapi kenyataannya saya lahir di keluarga kelas menengah yang beragama Hindu, begitu juga dengan Gilang yang kebetulan lahir di keluarga muslim. Alasan mengapa kita tetap memilih agama masing-masing tidak lebih karena kita terlanjur nyaman berada di lingkungan sendiri, itu saja. Coba kalau Gilang lahir di Jepang, mungkin sekarang sedang sibuk menyembah salah satu waifunya.

Hmm, seandainya Gilang lahir di Jepang

Islam Agama Paling Damai?

Bicara soal kerukunan dan pemaksaan agama.
Lucu ketika Gilang menyebut Italia, mau membandingkan Islam dengan Kristen? Kristen dan Katolik itu beda lho, tapi oke lah, mungkin karena Gilang bingung mencari contoh negara Protestan, dicomotnya Italia sebagai perwakilan negara Katolik, padahal jika dilihat dari persentase populasi umat katolik, maka Italia bukan yang tertinggi, masih kalah dengan Polandia, Kroasia, bahkan Timor Leste, mungkin maksudnya Vatikan. Ya sekali lagi, oke lah, maklumi saja.

Mengajak membandingkan kasus kriminalitas Saudi dan Italia? Emang sudah pernah membandingkan? Dapet data dari mana? Kalau mengambil perbandingan dari data sekunder, maka itu konyol. Perbandingan kriminalitas berdasarkan data sekunder itu seringkali tidak valid, apalagi kalau yang dibandingkan adalah 2 negara dengan standar hukum berbeda, kemampuan administrasi dan teknologi yang berbeda.

Masa mau membandingkan angka orang kebut-kebutan di Indonesia yang polisi lalu lintasnya jarang bertugas dengan di Australia yang sudah memakai mesin pencatat kecepatan kendaraan otomatis. Ya pasti jumlah orang kebut-kebutan di Australia lebih banyak catatannya. Begitu juga ketika kita membandingkan angka kriminalitas Italia yang yang notabene adalah negara maju dan menggunakan hukum sipil dengan Saudi yang masih negara berkembang dan menggunakan hukum syariah, hasilnya akan tidak valid jika hanya melihat dari catatan kepolisian.

Karena sulit mengetahui datanya secara valid, maka United Nations Office on Drugs and Crime biasanya selain menerima data sekunder dari catatan kepolisian, juga memiliki estimasi tersendiri tentang seberapa tinggi sebenarnya kasus kejahatan di negara tersebut.

Contoh, laporan United Nations Office on Drugs and Crime tahun 2009, di sana tercatat Italia dan Saudi sama-sama memiliki rate pembunuhan sebesar 1 per 100.000 penduduk, tapi karena datanya meragukan, maka UNODC punya estimasi sendiri tentang seberapa kasus pembunuhan yang sebenarnya, maka diestimasi bahwa kasus pembunuhan di Saudi mungkin 3 kali lipat lebih tinggi dibanding yang dilaporkan, entah itu karena ada pembunuhan yang tidak dilaporkan, atau ada pembunuhan yang dianggap bukan pembunuhan, seperti kasus FPI gebukin 3 orang Ahmadiyah sampai tewas dianggap bukan pembunuhan tapi dianggap aksi bela agama. Nah, kalau berdasarkan data estimasi, kasus pembunuhan di Saudi lebih tinggi dibanding Italia. Jadi yakin Gilang mau membandingkan kedua negara itu?

Ketika bicara soal pemaksaan agama juga jawaban Gilang sangat konyol, bukan menjawab secara fakta dengan data malah dengan dalil dan dokrin yang sekali lagi itu sifatnya hanya klaim alias ngaku-ngaku saja.

Memang di Islam ada ayat yang menyatakan bahwa Islam tidak disebarkan dengan pemaksaan, tapi ada juga ayat lain yang menyatakan untuk memerangi non muslim hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah (at Taubah ayat 29). Secara literal kedua ayat tersebut jelas kontradiktif. Sekarang tergantung siapa, kapan, dan untuk apa ayat itu digunakan. Orang baik tentunya akan mengambil tafsir ayat yang baik, tapi orang jahat akan menggunakan tafsir ayat yang jahat dalam agama untuk melegalkan aksinya. Jangan salah, muslim radikal yang menjadi teroris dan membunuh sesama muslim, juga punya dalil agama untuk membenarkan aksinya.

Mau bicara sejarah? Jika belajar sejarahnya dengan benar mungkin Gilang tidak akan sembarangan berkesimpulan bahwa kristenisasi lebih kejam dibanding penyebaran Islam.

Inggris ketika menjajah Indonesia dan menemukan reruntuhan Borobudur, candinya malah dibangun kembali. Belanda ketika menemukan lontar (catatan yang ditulis di daun siwulan kering) dan Al Quran tua, bukan dibakar tapi dikoleksi dan dipelajari. Sebagian catatan sejarah pada masa Hindu Buddha di Jawa itu justru diselamatkan Belanda dari tangan muslim. Ketika para kolonialis menemukan agama dan budaya yang berseberangan, mereka tidak serius menyerangnya, yang serius itu adalah menguras kekayaan alam dan sumber daya manusianya, adapun konsep gospel dalam 3G-nya Belanda itu tidak lebih agar mereka mendapat legalitas dan dukungan dari pemerintah di negaranya. Inget VoC itu cuma perserikatan dagang, bukan pemerintah resmi Belanda, dan ketika Belanda mengambil alih VoC (karena bangkrut), ide 3G (glory, gold, gospel) kemudian jarang didengungkan.

Sekarang bandingkan dengan penyebaran Islam, ada banyak gereja, kuil, dan patung yang dihancurkan (lha wong patung orang Quraish saja dihancurkan) padahal itu bernilai sejarah. Di Afganistan, patung Buddha terbesar dihancurkan oleh Taliban, di India ada kuil yang dihancurkan dan di atasnya dibangun masjid, yang beberapa tahun lalu sempat jadi ribut dan akhirnya UNISCO memutuskan bahwa tempat itu jadi milik kedua umat. Artinya ketika misi kristenisasi di masa kolonial masih menghargai peninggalan budaya, penyebaran Islam justru ternyata banyak yang menghancurkan budaya lokal dan peninggalan leluhur terutama menghancurkan rumah ibadahnya. Tidak mengherankan jika kita kesulitan menemukan jejak kebudayaan pra Islam baik itu peninggalan arkeologis, bahasa, dan sastra, di negara yang mayoritas muslim terutama di Timur Tengah.

Pemaksaan pindah agama? Pernah mendengar cerita tentang Bhai Mati Das dan Bhai Dhayala Ji? Dua tokoh Sikh yang dibunuh dengan cara dibelah dan direbus hidup-hidup karena tidak mau masuk Islam pada masa kekuasaan kerajaan Mughal di India. Coba kamu sebut, ada missionaris yang kayak gini waktu zaman penjajahan? Ini belum bicara pembunuhan massal yang juga terjadi pada masa itu di wilayah yang sekarang jadi Pakistan dan Afganistan, yang konon jumlah korbannya sampai 30 juta jiwa. Ada juga kasus genodisa terhadap kaum Kristen Armenia oleh Turki Utsmani yang jumlah korbannya juga mencapai jutaan.

Bhai Mati Das dan Bhai Dhayala Ji dibunuh karena tidak mau masuk Islam

Bicara di negeri sendiri, sejarah mencatat mengenai perang Padri di Sumatera, dimana muslim berperang dengan kaum adat hanya karena kaum adat tidak mau mengikuti sepenuhnya ajaran Islam versi kaum Padri (Imam Bojol kemudian menyesal melakukan perang ini). Lha ini kan namanya pemaksaan. Perbedaan keyakinan itu bukan hanya soal beda agama, sesama umat agama juga bisa timbul perbedaan keyakinan, dan perbedaan itu harus dihargai, tidak boleh saling memaksakan. Kalau ada muslim yang tidak percaya babi itu haram, ya hargai, seperti halnya umat Hindu yang juga harus bisa menghargai sesama Hindu yang makan daging sapi.

Selain bulan dan bintang, pedang juga sering menjadi simbol dalam Islam (misalnya pada bendera Saudi). Boleh lah menyebut pedang itu hanya hiasan (walau kenyataannya itu diambil dari pedangnya Nabi Muhammad), namun ketika pedang dipakai hanya sebagai simbol saja, itu sebenarnya sudah mencirikan pemikiran yang masih menganggap kekerasan sebagai sebuah solusi permasalahan. Faktanya, sejarah memang mencatat bahwa Islam banyak disebarkan dengan kekerasan, terutama ketika kaum radikal ingin memaksakan hukum Islam dalam sebuah negara. Baca baca sendiri di sini ya, dan silahkan pakai untuk bahan diskusi nanti, sayang kalau ilmu kuliah di luar negeri tapi jawabannya cuma bisa copas ayat.

Di poin ini saya tidak ingin mengatakan bahwa Islam identik dengan kekerasan, tidak juga mengatakan bahwa Islam sebagai agama yang kejam, apalagi paling biadab. Agama di seluruh dunia pada dasarnya sama, kebanyakan memang disebarkan melalui invasi dan sering melibatkan kekerasan, termasuk Buddha yang sering dianggap sebagai agama paling damai. Hanya saja ketika ada yang menganggap bahwa agama yang dianut itu paling damai, paling sempurna, sampai mengira bahwa kekerasan dan ujaran kebencian yang selama ini dilontarkan oleh beberapa oknum muslim sebagai sebuah kewajaran, itu miris kawan.

Yakin sih yakin, percaya sih percaya, tapi jangan sampai kepercayaan itu membuat kita lupa menilai agama secara adil.

Tentang Pancasila

Terakhir, soal Pancasila. Jah elah, kata Panca dan kata Sila saja diambil dari Bahasa Sansekerta, bahasanya umat Hindu dan Buddha Mahayana, begitu juga kata Esa. Emang situ sudah paham arti kata “Esa” sampai berani mengklaim bahwa itu diambil dari inti Al Quran? Sekadar informasi, esa itu bukan sesederhana bermakna “satu” lho.

Pertama, Pancasila itu hakekatnya adalah ideologi persatuan, dimana menjelang masa kemerdekaan ada banyak ideologi dan kekuatan politik, ada kekuatan Islam, nasionalis, bahkan komunis. Para founding fathers kita tidak ingin Indonesia terpecah belah, maka dengan jenius mereka memperkenalkan konsep Pancasila.

Para founding fathers telah menyadari bahwa Indonesia terdiri dari beragam agama dan suku, yang belum tentu semuanya mau mengikuti hukum Islam, maka muncul sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila pertama ini menjadi jenius karena di satu sisi bisa memenuhi hasrat kaum Islamis yang ingin negara ini berhubungan dengan nilai-nilai ketuhanan yang monoteis, tapi di sisi lain juga bisa diterima oleh umat non muslim maupun muslim yang tidak ingin Indonesia menjadi negara teokrasi. Mengapa diterima? Karena selain sila ini tidak menyebut kata Islam, juga karena secara literal sila ini tidak bermakna bahwa seseorang harus mengimani ketuhanan yang monoteis, bahkan tidak secara literal menyebut tuhan itu jumlahnya hanya satu.

Esa itu artinya bukan satu. Kata satu dalam Sanskerta adalah EKA. Esa bermakna sebagai sebuah sesuatu yang agung, suci, mengagumkan, tidak terbatas, atau sifat superior lain yang ada kaitannya dengan nilai ketuhanan, karenanya dalam Bahasa Sanskerta kata Esa tidak digunakan untuk subjek atau objek lain selain Tuhan. Kalau mau dihubungkan dengan teologi khususnya dalam Hindu, kata Esa justru sering digunakan untuk merujuk Dewa Wisnu. Alasan mengapa kemudian kata Esa bisa dimaknai “satu” oleh sebagian orang adalah karena sifat superior dalam kata Esa secara tidak langsung bisa dimaknai bahwa tuhan itu tidak tertandingi atau tiada duanya, juga karena karena kata Esa mirip dengan kata “isa” dan “sa” yang dalam sebagian besar bahasa dari rumpun Astronesia bermakna “satu”.

Selain kata esa, sila pertama Pancasila juga menyebut kata ketuhanan, bukan kata tuhan. “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukan “Tuhan Yang Maha Esa”. Dalam Bahasa Indonesia, imbuhan ke-an dalam kata berfungsi membentuk kata sifat. Jadi kata ketuhanan bermakna “Sifat-sifat Tuhan” sehingga makna dari sila pertama Pancasila adalah bahwa “Sifat-sifat Tuhan yang maha agung, suci, mengagumkan, tidak terbatas, dll”

Bagi orang yang memahami bahasa tidak akan berkesimpulan bahwa sila pertama itu artinya monoteis, apalagi memaknainya sebagai sebuah inti ajaran Islam. Lucu ketika ada orang menganggap sila pertama itu artinya Indonesia berpaham Islam, sedang Soekarno sendiri dalam pidatonya pernah menyebut bahwa semua umat agama diterima di Indonesia, termasuk yang politeis, bahkan yang ateis sekalipun. Lha, yang merumuskan Pancasila aja bilang begitu, situ siapa kok berani menerjemahkan Pancasila secara berbeda? Situ udah ngerasa lebih paham Pancasila dibanding Soekarno?

Perlu diakui, bahwa secara politis memang benar bahwa sila pertama itu adalah penghibur bagi kelompok Islamis, begitu juga dengan sila ketiga yang merupakan penghibur bagi kaum nasionalis, dan sila kelima yang merupakan penghibur bagi kaum komunis, namun melihat dari sejarah dan fungsinya, maka sebenarnya inti dari Pancasila itu adalah persatuan alias nasionalisme. Apapun isi sila dalam Pancasila, kenyataannya Pancasila berfungsi menyatukan bangsa Indonesia, bukan menjadikan Indonesia negara monoteis, bukan pula menjadi negara ini berpaham komunis/sosialis (karena kenyataannya masih ada sistem kapitalis). Pita bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” adalah pesan sejati yang ingin disampaikan oleh lambang negara kita.

Siapapun yang ingin memecah belah bangsa ini, apapun ideologi yang diusung, maka mereka itu lah yang mencederai semangat Pancasila.

Mungkin Anda juga menyukai