Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada 17 Maret 2018 nanti, PHDI mengeluarkan pengumuman yang kontroversial dimana salah satu poin pengumuman tersebut adalah imbauan bagi operator seluler agar mematikan jaringan internet saat perayaan Nyepi berlangsung.

Kontan saja pengumuman ini membuat heboh alam sekala (dunia nyata) maupun niskala (dunia maya). Bukti kehebohan ini bisa dilihat di Google Trends dimana topik “Nyepi Tanpa Internet” sempat naik daun dan mengalahkan topik “Laklak Puun” yang telah lama kadaluwarsa.

Google Trends Nyepi Tanpa Internet

Di Facebook, topik mengenai Nyepi tanpa internet ini menimbulkan banyak perdebatan. Ada yang pro ada yang kontra. Mereka yang berkomentar pun dari kalangan yang beragam, mulai tokoh politik tingkat nasional seperti Gede Pasek, sulinggih (tokoh agama Hindu) kebanggaan masyarakat lokal, hingga preman jawara kampung juga ikut memberikan pendapat pro kontranya. Termasuk saya sendiri yang kemudian terinspirasi menulis artikel ini.

Latar Belakang

Entah apa alasan PHDI sampai mengeluarkan imbauan ini, karena dalam pengumumannya tidak diberi keterangan secara rinci apa latar belakang tiap poin pengumuman tersebut, pun PHDI setahu saya sampai sekarang belum mengeluarkan pernyataan atau klarifikasi yang sifatnya resmi terkait hal ini. Tapi setidaknya ada 2 pendapat yang berkembang, yaitu:

  1. Imbauan ini dikeluarkan karena pada perayaan Nyepi di tahun-tahun sebelumnya, banyak orang yang menyalahgunakan internet untuk membagikan foto-foto suasana Nyepi terutama di jalan raya dimana hal tersebut kesannya melecehkan perayaan Nyepi itu sendiri.
  2. Salah satu larangan atau pantangan saat perayaan Nyepi adalah amati lelanguan yang artinya tidak menikmati hiburan atau tidak bersenang-senang. Jika internetan sifatnya menghibur dan membuat orang merasa senang, maka bermain internet sudah melanggar pantangan dalam perayaan Nyepi.

Bisakah Nyepi Tanpa Internet?

Jawabannya sih bisa-bisa saja, toh dulu sebelum ada internet orang bisa beraktivitas dan melakukan perayaan Nyepi seperti biasa. Zaman sekarang, di beberapa tempat untuk situasi yang khusus, internet memang menjadi hal yang vital dimana jika layanannya diputus bisa berbahaya, misalnya penggunaan internet di rumah sakit, instansi yang berhubungan dengan bencana alam, bandara, dll, tapi konon imbauan untuk mematikan jaringan internet hanya berlaku bagi operator seluler, sementara jaringan internet kabel macam indigo indihome masih tetap bisa diakses, jadi tidak masalah.

Tapi eh tapi, permasalahan mengenai rencana internet yang mati saat Nyepi bukan soal bisa atau tidak bisa Nyepi tanpa internet. Kalau soal bisa gak bisa, orang bisa Nyepi tanpa mandi, bisa Nyepi tanpa makanan daging, tapi bukan berarti kita bisa membuat aturan yang melarang orang untuk mandi dan makan daging saat Nyepi kan?

Mencegah Pelecehan Agama

Benar bahwa pada perayaan Nyepi tahun-tahun sebelumnya ada beberapa orang yang memamerkan foto keadaan jalanan kota, berpose di tengah jalan, merasa bangga karena bisa lolos dari pantauan pecalang. Tapi terkait sebelum bicara soal pelecehan terhadap perayaan Nyepi, ada beberapa pertanyaan mendasar yang perlu ditanyakan.

  1. Apakah mengunggah foto saat Nyepi dianggap pelecehan? Apa dan bagaimana definisi dan standar pelecehan agama menurut Hindu
  2. Apakah pelecehan agama perlu dicegah dan dilarang? Apakah negara (pemerintah) perlu terlibat dalam hal ini?
  3. Apakah mematikan internet akan menjadi upaya yang efektif dalam mencegah pelecehan perayaan Nyepi?

Pelecehan itu subjektif, saya sendiri tidak beranggapan bahwa orang yang pamer foto saat Nyepi itu sebagai bentuk pelecehan. Iya mereka melanggar pantangan Nyepi, iya secara etika mereka tidak sopan, tapi apakah ada niat untuk melecehkan? Apakah dengan melakukan hal tersebut akan mengurangi kesakralan perayaan Nyepi sementara yang lihat foto-foto tersebut juga sesama orang yang internetan yang notabene sama-sama melanggar pantangan?

Anggap Nyepi nanti internet benar-benar akan dimatikan. Bagi orang yang memang mau pamer foto, kan fotonya bisa diunggah keesokan harinya. Apa foto yang diunggah setelah Nyepi bukan termasuk pelecehan?

Saya masih ingat ketika masih SD beberapa teman saya bercerita soal pengalamannya yang berhasil lolos dari pantauan pecalang dan jalan-jalan ke rumah temannya yang lain, padahal saat Nyepi dilarang untuk bepergian ke luar rumah. Mereka menceritakan pengalamannya itu di sekolah, beberapa hari setelah Nyepi. Artinya, orang-orang yang melanggar pantangan Nyepi tidak harus memamerkan “keberhasilannya” di saat itu juga.

Bagi saya, mereka yang mengunggah foto-fotonya saat melanggar pantangan Nyepi adalah orang yang haus perhatian. Mereka akan selalu berusaha mencari perhatian publik. Kalau tidak sekarang, ya besok. Artinya, walaupun nanti saat Nyepi internet akan dimatikan foto orang berkeliaran di jalanan saat Nyepi akan tetap ada, cuma beda tanggal penayangan saja.

Mematikan internet saat Nyepi hanya efektif mencegah pelecehan saat perayaan Nyepi, pun itu terbatas pada pelecehan yang dilakukan di Bali. Di luar Bali, di tempat dimana internet masih menyala, orang-orang yang mengkritik, memprotes, dan menghina perayaan Nyepi tetap ada, cuma orang di Bali tidak tahu saja.

Di luar Bali sebenarnya ada banyak kasus pelecehan terhadap Hindu, ada banyak tokoh agama lain yang terang-terangan menjelekkan ajaran agama Hindu. Ada buku berisikan kutipan terjemahan sloka Hindu yang salah dan merendahkan ajaran Hindu, ada tokoh agama lain  yang terang-terangan menghina ajaran Hindu. Kalau memang PDHI berniat mencegah pelecehan terhadap ajaran Hindu (bukan hanya Nyepi), lantas mengapa PHDI tidak pernah memberikan teguran, upaya hukum, atau mediasi terhadap oknum tersebut?

Semua orang tidak suka keyakinannya dilecehkan, tapi ide mematikan internet untuk mencegah pelecehan ini tidak lepas karena perkembangan Hindu yang semakin fanatik dan konservatif, mirip kelompok ekstrim dari agama sebelah. Cirinya sama: antipati pada agama lain, pamer agama secara berlebihan, mudah tersinggung, memaksa dan membuat berbagai larangan, serta suka merengek pada pemerintah agar keinginannya tersebut difasilitasi. Kesan seperti ini lebih terasa di tingkat elit ketimbang masyarakat bawah. Sialnya, para elit ini lebih suka menekan orang Hindu sendiri dengan membuat aturan yang kaku dan sanksi yang berat, tapi ompong ketika tampil di forum lintas agama. Berani membuat aturan yang membuat perayaan Nyepi makin berat dengan alasan mencegah pelecehan Nyepi, tapi tidak pernah muncul ketika Hindu benar-benar dilecehkan oleh umat agama lain. Dengan pamer agama dan pemaksaan berlebih, para elit tidak sadar bahwa intoleransinya sebenarnya memberatkan orang Hindu sendiri.

Kalau bicara masalah solusi untuk mencegah pelecehan, rasanya tidak ada yang lebih baik dibanding dengan melakukan edukasi, karena edukasi akan melahirkan pemahaman dan kesadaran, sedang larangan hanya melahirkan paksaan dan ketakutan. Saya kurang tahu bagaimana pendidikan agama Hindu sekarang, tapi selama saya sekolah, materi pelajaran Hindu berkutat soal teori dan ritual, bukan hal-hal yang sifatnya terkait dengan kehidupan sehari-hari. Coba gitu materi mengenai “bagaimana cara berinternet yang baik” disisipkan dalam pelajaran agama Hindu, rasanya akan lebih relevan, dan manfaatnya bukan hanya dirasa saat Nyepi saja, tapi sepanjang orang tersebut menggunakan internet.

Menaati Pantangan Nyepi

Saat perayaan Nyepi, ada 4 pantangan yang tidak boleh dilakukan, yang dikenal dengan istilah Catur Brata Penyepian, yaitu:

  1. Amati Geni yang artinya tidak menyalakan api
  2. Amati Karya yang artinya tidak bekerja
  3. Amati Leluangan yang artinya tidak bepergian
  4. Amati Lelanguan yang artinya tidak menikmati hiburan

Di antara keempat pantangan tersebut, amati lelanguan bagi saya adalah pantangan yang paling absurd alias gak jelas. Batas hiburan yang dimaksud itu sampai mana?  Apakah orang yang bersenandung atau menyanyi dalam hati dianggap melanggar pandangan? Apakah kita umat Hindu di Bali (dan umat lain yang juga kena imbasnya) sama sekali tidak boleh merasa senang saat Nyepi? Apakah ini artinya Nyepi yang benar adalah ketika kita merasa tersiksa? Apakah Hindu mengajarkan umatnya untuk menjadi masochist?

Ketika saya mendapat pelajaran agama Hindu di sekolah terkait dengan perayaan Nyepi, materi mengenai pantangan atau Catur Brata Penyepian itu selalu diulang-ulang, kita para siswa selalu diingatkan mengenai apa saja yang tidak boleh dilakukan saat perayaan Nyepi berlangsung, tapi sayangnya jarang sekali ada yang memberi jawaban mengenai kegiatan apa saja yang sebaiknya dilakukan saat Nyepi itu? Palingan jawabannya hanya merenung dan introspeksi diri. Yakin bisa merenung selama berjam-jam?

Berada di dalam rumah tanpa melakukan kegiatan apapun adalah hal yang sangat membosankan, dan bosan itu sangat menyiksa.  Seorang peneliti bernama Wilson dari Universitas Harvard  pernah melakukan penelitian sosial dimana dia mengetes beberapa orang untuk masuk dalam ruang tertutup selama 6-15 menit dan mereka dilarang melakukan aktivitas apapun. Hasilnya semua subjek yang dia teliti merasa bahwa pengalaman berada di ruang tertutup selama beberapa menit tanpa aktivitas itu sebagai hal yang tidak menyenangkan. Penelitian diulang beberapa kali dan hasilnya sama, bahwa subjek merasa mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, tidak peduli subjek itu pria atau wanita, usianya berapa, dan dari kalangan mana.

Penelitian berlanjut dimana subjek di ruang tertutup kemudian berhadapan dengan sebuah alat yang bisa menghasilkan kejutan listrik. Menariknya, ternyata subjek lebih memilih untuk mendapat kejutan listrik daripada tidak melakukan aktivitas apapun yang bisa membuatnya bosan. Ini artinya bahwa ternyata rasa bosan bisa mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang bahkan bisa menyakiti dirinya sendiri secara fisik.

Nah, kalau subjek di penelitian itu ternyata lebih memilih siksaan fisik dibanding menahan kebosanan selama beberapa menit, maka tidak heran jika ada beberapa orang yang nekat pergi keluar rumah atau menonton televisi  sekalipun berisiko untuk ditangkap pecalang dan kena denda.

Beberapa orang mungkin sanggup melewati Nyepi dengan merenung dan intropeksi diri, tapi saya yakin kebanyakan memilih tidur, makan, ngobrol, main kartu, dan menonton film. Lihat saja antrean di minimarket sehari sebelum Nyepi, sudah seperti persiapan menghadapi pancaroba, lihat juga kata kunci terkait film di Google makin sering dicari menjelang Nyepi.

Jelang Nyepi banyak orang yang mencoba mendownload film lewat internet.

Saya tidak begitu peduli dengan bagaimana orang lain merayakan Nyepi. Bisa mendapatkan pemandangan langit malam yang cerah (tanpa polusi cahaya) dan suasana yang tenang dan senyap sudah membuat saya puas. Cukup lah membatasi penggunaan lampu dan larangan ke luar rumah, tidak perlu membuat Nyepi makin tidak menyenangkan dengan mematikan internet, terlebih karena keputusan ini berdampak pada umat agama di luar Hindu. Biarkan orang yang tidak menjalani brata penyepian menghormati perayaan Nyepi tanpa harus menyiksa mereka.

Soal umat Hindu yang melanggar pantangan, mungkin kita perlu memperjelas mengenai definisi dan batasan pantangan tersebut, dan yang lebih penting adalah mempromosikan tentang kegiatan positif apa saja yang bisa dilakukan sepanjang perayaan Nyepi. Oh, dan tentu saja promosinya bisa dilakukan lewat internet. 🙂