Masalah Penundaan Ujian Nasional di 11 Provinsi

Seperti yang kita ketahui, ada hal menarik yang terjadi pada penyelenggaraan ujian nasional untuk tingkat SMA dan sederajat di Indonesia, yaitu penundaan jadwal ujian pada 11 provinsi di Indonesia, di mana ujian yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 15-18 April, ditunda hingga 18-23 April.

Sebelas provinsi yang mengalami penundaan jadwal ujian nasional tersebut diantaranya: Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Di mana di daerah tersebut ada sekitar 3.601 sekolah SMA/MA, 1.508 SMK, dan 1,1 juta siswa.

Walau terjadi penundaan ujian, Mohammad Nuh selaku menteri pendidikan yakin tidak akan ada kebocoran, alasannya adalah karena ada banyak variasi soal, berikut kutipannya:

Kalau kebocoran, itu sudah bisa diselesaikan dengan soal yang berbeda. Tidak hanya antar siswa di satu kelas saja, tapi juga antar kelas soalnya berbeda. Apalagi kalau beda provinsi.

Selain Mohammad Nuh, ada tanggapan dari Darmaningtyas yang juga beranggapan bahwa penundaan tidak akan berakibat pada kebocoran soal, namun alasan beliau adalah karena daerah yang mengalami penundaan tersebut aksesnya sulit, berikut kutipannya:

Soal bocor, saya tidak begitu khawatir karena daerah yang mengalami keterlambatan pengiriman ini aksesnya cukup sulit. Soal aslinya saja sulit untuk sampai, apalagi muncul bocoran.

Bukan Bocoran Tapi Kisi-kisi Soal

Jika benar apa yang dikatakan oleh Mohammad Nuh bahwa setiap kelas, setiap sekolah, dan tiap provinsi mendapat soal yang berbeda, maka saya setuju bahwa soal tidak akan bocor, dalam artian siswa yang mengalami penundaan ujian tidak akan mendapat informasi mengenai soal yang sama persis dengan apa yang akan ia dapatkan.

Tidak mendapati soal yang sama persis bukan berarti tanpa masalah, walaupun soalnya bervariasi, namun karena kualitas soalnya dibuat setara, maka jika ada yang menyebarkan soal, kita setidaknya bisa mengetahui bahwa dalam materi A yang diambil adalah bagian ini, atau pada materi B yang digunakan adalah rumus ini. Hal tersebut sama saja dengan memberikan kisi-kisi soal yang keakuratannya sangat tinggi.

Antara Bisnis dan Ketidakadilan

Kisi-kisi soal yang akurat tentunya akan menyebabkan ketidakadilan dalam ujian, siswa yang ujian lebih dulu harus belajar lebih banyak sedangkan yang mengalami penundaan bisa memilah bagian materi mana saja yang mungkin keluar sehingga selain belajarnya lebih sedikit dan lebih mudah, peluang mereka untuk lulus pun tentunya lebih tinggi.

Jika saya jadi siswa yang akan mengalami penundaan ujian, saya tidak akan ragu berusaha mencari lembar soal yang pada siswa yang sebelumnya ujian, kalau perlu saya berani membayar 150 ribu untuk soal tersebut. Bagi saya itu bukan nilai yang mahal, karena untuk mengikuti les persiapan ujian saja bisa menghabiskan uang sampai jutaan.

Di mana ada permintaan di situ ada penawaran. Siswa yang ujian lebih dulu bisa merubah ketidakadilan yang mereka alami sebagai sebuah berkah dan peluang dalam berbisnis. Kalau bisa menjual lembar soal ujian pada siswa di 11 provinsi yang mengalami penundaan itu, dengan harga 50 ribu saja untuk tiap lembar soalnya, dan yang membelinya berjumlah 20 siswa, maka setidaknya siswa itu mendapatkan keuntungan 3 juta rupiah, nilai yang sangat menggiurkan untuk ukuran anak SMA.

Modus penyebaran soal bisa beragam, cara yang paling mungkin dilakukan tentunya dengan mengambil gambar dari soal melalui perangkat digital. Memang benar bahwa siswa tidak diperkenankan membawa ponsel, tapi zaman canggih seperti sekarang, ponsel bukan lagi satu-satunya gadget yang dilengkapi kamera, ada banyak gadget lain yang bisa menjadi pilihan, misalkan saja kini sudah ada ponsel berupa jam tangan yang dilengkapi kamera, atau kalau mau lebih tersembunyi ada pena yang didalamnya berisikan kamera, di mana pena ini biasanya digunakan sebagai kamera pengintai untuk acara investigasi. Alat ini tentunya bisa dimanfaatkan untuk mengambil gambar lembar soal kemudian menyebarkannya pada orang lain secara online. Kalau penyebarannya sudah secara online, maka alasan yang sebelumnya disampaikan oleh Darmaningtyas pun menjadi tidak berlaku lagi.

Gagal Menjadi Parameter Kualitas Pendidikan

Salah satu fungsi ujian nasional bukan hanya sebagai penentu apakah siswa layak lulus atau tidak, tapi sebagai sebuah parameter pendidikan suatu daerah. Kita akan mengetahui bahwa kualitas pendidikan daerah A lebih baik dari daerah B berdasarkan tingkat kelulusan dan nilai rata-rata ujiannya. Kita bisa tahu daerah mana saja yang kurang dalam pengetahuan Bahasa Inggris, dan mana yang kurang dalam Matematika sehingga nanti kita bisa merencanakan program mutasi guru atau pertukaran pelajar.

Kalau soal ujian kemudian dibocorkan, mana UN bukan lagi sebuah parameter yang layak digunakan untuk melakukan komparasi antar tiap daerah, 11 provinsi yang mengalami penundaan hasil ujiannya akan lebih baik dibanding yang ujian lebih dulu, siswa yang melek internet dan informasi bocoran soal akan lebih baik hasilnya dibanding mereka yang tidak punya gaptek (gagap internet) dan kuper (kurang pergaulan).

SOLUSI

Jika ditanya solusi, maka tentunya saya menjawab bahwa jika ingin melakukan penundaan ujian nasional untuk tingkat SMA, maka hal itu sebaiknya dilakukan di semua wilayah Indonesia, bukan hanya di 11 provinsi tersebut. Jika 11 provinsi itu tidak merasa keberatan ujiannya diundur, maka provinsi yang lain seharusnya juga tidak keberatan. Hal ini demi keadilan bersama, karena salah satu asas negeri ini adalah “Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Halah,,