Komentar Kasus Diskriminasi Lowongan Kerja di MNC

Beberapa hari lalu, MNC dituduh melakukan diskriminasi agama karena sempat memuat iklan lowongan pekerjaan yang didalamnya berisi keterangan bahwa MNC mengutamakan pelamar yang beragama non muslim, sehingga memicu reaksi keras di masyarakat terutama dari teman-teman muslim fundies.

Iklan lowongan pekerjaan dari MNC yang dituduh mendiskriminasi muslim

Sekalipun pihak MNC telah memberi klarifikasi dan menyatakan bahwa itu adalah kesalahan, hanya keluar dari pemikiran pribadi karyawannya, bukan merupakan pandangan umum perusahaan, tapi tampaknya demonya masih panas hingga sekarang. Terkait hal tersebut, ada beberapa hal yang ingin saya komentari.

ketimbang membahas bagaimana iklan lowongan pekerjaan tersebut bisa muncul, saya lebih tertarik membahas bagaimana reaksi masyarakat terhadap iklan ini, karena jujur saya masih merasa heran dan janggal mengapa reaksi masyarakat begitu keras. Setidaknya ada 2 hal yang membuat saya heran, yang pertama adalah tentang standar ganda yang diterapkan teman-teman muslim, dan tentang alasan mengapa orang-orang menentang diskriminasi agama pada pelamar pekerja.

Standar Ganda Muslim

Saya heran mengapa teman-teman muslim bereaksi begitu keras menolak iklan lowongan pekerjaan ini dengan alasan diskriminasi, padahal kalau mau jujur iklan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan agama tertentu bagi pelamarnya sebenarnya adalah hal yang biasa dan ada sejak dulu, dan yang paling sering melakukannya justru dari kalangan muslim sendiri. Contohnya adalah iklan lowongan pekerjaan dari  PT Sushantcho Indonesia yang dimuat di situs Jogja Karir berikut, dimana salah satu persyaratannya (syarat wajib, bukan hanya diutamakan) adalah beragama Islam.

Lowongan pekerjaan di PT Sushantco Indonesia

Well, saya kurang paham kenapa perusahaan laundry mensyaratkan agama Islam bagi karyawannya, yang jelas lowongan model seperti ini sangat banyak, bisa ditemukan di media online, cetak, hingga jalanan. Udah macem kacang goreng lah. Tapi tampaknya teman-teman muslim seakan tutup mata dan pura-pura tidak tahu akan kenyataan ini. Berteriak lantang memprotes MNC seakan kasusnya baru terjadi kali ini saja, berusaha mengesankan bahwa muslim selama ini telah dizalimi atau mengesankan bahwa non muslim ingin mengajak perang.

Yang membuatnya semakin kesal adalah yang protes itu adalah orang-orang yang sama dengan mereka yang tidak setuju Ahok sebagai Gubernur Jakarta hanya karena agamanya. Orang yang sama yang menyerukan untuk tidak memilih gubernur non muslim, orang yang sama yang menyerukan bahwa non muslim tidak layak memimpin, orang yang sama yang menyerukan bahwa pemimpin non muslim hanya akan membawa bencana dan azab tuhan.

Sangat aneh ketika agen atau pelaku diskriminasi turun ke jalan dan protes untuk menentang sesuatu yang dia anggap sebagai hal yang diskriminatif. Apa definisi diskriminasi saya beda dengan mereka, mereka tidak punya empati sehingga tidak kenal prinsip golden rule, atau niatnya memang cuma heboh-hebohan doang? Entahlah, hanya mereka yang tahu.

Diskriminasi Pada Pelamar Kerja

Anggap lah MNC tidak membantah iklan tersebut, bahwa benar mereka memprioritaskan pelamar non muslim seperti halnya PT Sushantco Indonesia yang mewajibkan pelamarnya beragama Islam. Lantas masalahnya dimana? Itu kan perusahaan swasta, milik pribadi, jadi terserah mereka merekrut siapa yang jadi karyawannya. Mau mengangkat anaknya kek, keponakannya kek, temannya kek, orang yang satu kampung dengan dia kek, orang yang satu suku dengan dia kek, atau orang yang satu agama dengan dia kek, ya terserah. Kenapa orang luar seperti kita ikut protes dan campur tangan urusan perusahaan itu?

Kita harus paham bahwa tiap orang punya preferensi yang berbeda, punya alasan dan tujuan yang berbeda, dan sikap rasisme, kedaerahan, kekeluargaan pada dasarnya memang sulit untuk dihilangkan. Seorang muslim mungkin lebih memilih mempekerjakan sesama muslim karena muslim dianggap lebih jujur dan tidak suka mabuk, yang non muslim mungkin memilih mempekerjakan non muslim agar tidak dipusingkan dengan penyediaan mushola, katering halal, atau aturan berbusana dalam Islam.

Benar bahwa ini diskriminatif (diskriminasi = perbedaan perlakukan), tapi saya sendiri berpendapat bahwa diskriminasi itu wajar selama tidak da pihak yang dirugikan dan alasannya memang logis.

  • Contoh 1:
    Dalam merekrut pemain basket pelatih cenderung memilih pemain yang postur tubuhnya tinggi. Apakah ini bentuk diskriminasi terhadap orang pendek? Menurut saya jelas iya. Tapi apakah saya sebagai orang pendek layak untuk marah? Ya enggak, karena saya tahu alasan pemilihan pemain tinggi itu agar mereka lebih mudah memenangkan pertandingan, sebagai orang pendek saya yang harus tahu diri dan mencari olahraga lain yang lebih cocok, catur misalnya, atau bowling.
  • Contoh 2:
    Dalam merekrut seorang tour guide, agen travel di Bali mengutamakan agar pelamarnya adalah orang yang berasal dari Bali dan beragama Hindu. Apakah ini bentuk diskriminasi berbasis agama, kesukuan dan asal daerah? Iya, tapi hal ini semestinya dianggap wajar karena pelamar yang asli dari Bali diharapkan telah mengenal peta, jalan, dan tempat wisata, sedang dengan beragama Hindu pelamar diharapkan bisa menjelaskan filosofi dari arca, relief candi, bangunan, atau hal lain pada wisatawan karena tempat-tempat wisata di Bali kebanyakan berhubungan dengan ajaran Hindu.

Sedang contoh diskriminasi yang tidak layak itu adalah diskriminasi yang merugikan orang lain, hal ini biasanya terkait dengan pelayanan sipil oleh pemerintah terhadap warga negara sehubungan dengan asas keadilan sosial. Contoh: umat muslim, kristen, hindu, buddha, sama-sama membayar pajak pada pemerintah, tapi ketika pemerintah menggunakan anggaran hanya untuk memenuhi kebutuhan salah satu umat, misalnya pengadaan jilbab yang nilainya sampai 600 milyar dari pemerintah pusat hanya untuk kebutuhan polwan yang beragama Islam, atau bantuan pembuatan ogoh-ogoh senilai 700 juta dari pemerintah kabupaten Jembrana hanya untuk kebutuhan masyarakat yang beragama Hindu, tanpa diimbangi dengan kompensasi bagi umat agama lain dengan jumlah yang proporsional, maka disini lah diskriminasi menjadi tidak pantas dilakukan.

Catatan:
Dirugikan tidak sama artinya dengan tidak diuntungkan. Ketika seseorang gagal mendapat pekerjaan maka orang itu tidak dirugikan oleh perusahaan atau oleh saingannya, yang benar adalah tidak diuntungkan. 

Bagaimana Dengan Undang-undang?

Saya kurang tahu bagaimana undang-undangnya, kalau tidak salah mengungkapkan diskriminasi di ruang publik memang dilarang. Tapi ketika bicara perekrutan karyawan, entah itu ada penjelasan syarat agama di iklan lowongan pekerjaan atau tidak, diskriminasi bisa tetap dilakukan, tinggal minta aja calon pelamar mengisi kolom agama di CV mereka, nanti akan ketahuan siapa yang beragama A atau beragama B.

Walau hal tersebut benar menurut undang-undang, tapi hal ini justru membuat kita menjadi tidak jujur, yang jadi korban adalah penyeleksi karena pekerjaan mereka jadi tambah berat, juga pelamar karena jadi korban PHP (pemberi harapan palsu). Ibarat seorang gadis yang dilarang menunjukkan bahwa dirinya matre dan dipaksa untuk mengatakan “saya tidak memilih pacar berdasarkan dompetnya” tapi ketika pria-pria miskin melamarnya semua pada ditolak, kan kasihan para cowoknya.