Ketika Ustad Abdul Somad Menghina Salib

Buka sosmed di hari HUT Kemerdekaan dengan harapan bisa nonton video lomba dan pertunjukan 17’an, eh yang nongol malah status yang ngomongin soal UAS. Heran, tahun pelajaran baru kok ngomongin UAS, padahal UTS aja belom. Ternyata oh ternyata, UAS yang dimaksud adalah Ustad Abdul Somad.

UAS yang populer karena dulu dalam ceramahnya pernah menghina hidung seorang artis, kini nampaknya membuat sensasi lagi. Korban hinaan kali ini adalah simbol agama sepupunya, yaitu Kristen. Ketika ada jemaat yang bertanya tentang salib, beliau mengatakan bahwa salib itu tempatnya jin kafir. Video UAS dalam ceramah itu kemudian tersebar ke sosmed dan membuat berang masyarakat yang menganggap hal tersebut sebagai bentuk penghinaan

Ceramah di Ruang Privat

Sebagian muslim (pendukung UAS tentunya) menganggap bahwa apa yang disampaikan oleh Ustad Abdul Somad bukan hal yang bisa diperkarakan, pasalnya beliau menyampaikan hal tersebut di depan jemaatnya yang notabene adalah sesama muslim. Bagi pendukung UAS, seorang ustad yang berceramah di hadapan jemaat masuk dalam kategori ruang privat dan tidak masalah jika orang menjelek-jelekan agama lain di ruang privat.

Batasan Ruang Privat

Dari kasus ini kemudian saya menjadi sadar, batasan ruang privat itu sejauh mana sih? Antar dua orang kah, keluarga kah, pertemanan kah, segolongan kah? Apakah orang yang bicara sesama dalam kelompoknya sekalipun itu dalam jumlah yang banyak masih bisa disebut ruang privat?

Jika Jokowi seorang presiden bicara di depan masyarakat yang notabene sama-sama berkewarganegaraan Indonesia kemudian menjelek-jelekan negara lain, apa masih disebut ruang privat juga? Gak ngajakin perang tuh namanya?

Di undang-undang sendiri saya kesulitan menemukan definisi dan standar batas ruang privat dan ruang publik, namun dari beberapa artikel yang saya baca, bahwa istilah “di muka umum” dimaknai sebagai di hadapan banyak orang tidak peduli itu hanya sesama kelompoknya atau melibatkan kelompok lain.

Masjid dan Toa

Jujur saya agak sulit menerima argumen bahwa ceramahnya dilakukan di ruang privat sementara masjid itu berstatus ruang publik. Betul bahwa ruang publik di sini mungkin terbatas pada umat muslim saja, namun perlu diingat bahwa tidak semua muslim punya pemikiran yang sama dengan Ustad Abdul Somad. Bisa saja ada muslim yang tidak setuju dengan pernyataan Ustad Abdul Somad, bisa saja ada muslim yang masih memiliki kerabat atau keluarga yang beragama Kristen kemudian merasa tidak nyaman dengan apa yang disampaikan beliau.

Dalam video juga terlihat bahwa ceramah Ustad Abdul Somad disampaikan dengan bantuan pengeras suara. Tujuannya jelas agar beliau tidak perlu berteriak-teriak agar isi ceramahnya bisa didengar oleh semua pendengar, tapi di sisi lain isi ceramah tersebut juga pasti akan terdengar sampai ke luar masjid. Bisa saja ada orang yang tinggal di dekat sana, atau yang secara kebetulan melintas di dekat sana kemudian mendengar ceramah Ustad Abdul Somad lantas merasa tersinggung dengan isi ceramah yang disampaikan, terlepas dari agama orang tersebut, apakah dia Kristen atau bukan.

Membiasakan Penghinaan

Terlepas dari perdebatan apakah ceramah Ustad Abdul Somad itu dilakukan di ruang privat atau bukan, saya kok merasa ngeri dengan ide bahwa “seseorang boleh melakukan penghinaan selama itu disampaikan kepada orang yang satu golongan dengan kita“. Apa jadinya negeri ini kalau semua orang berpandangan seperti itu?

Orang Islam boleh menjelek-jelekan agama Kristen dalam khutbah jumat. Orang Bali boleh menjelek-jelekan budaya Jawa di forum adat. Musisi jazz boleh menjelek-jelekan musik metal di sela-sela konsernya. Yang model begitu apa tidak membuat dunia semakin suram ya? Orang jadi kebiasaan melakukan penghinaan, menumbuhkan prasangka negatif kepada kelompok lain, menumbuhkan kebencian dan bibit perpecahan.

Bukan Sekadar Menghina

Walau penghinaan bagi saya adalah sesuatu yang buruk, namun saya juga berpendapat bahwa penghinaan sebenarnya tidak perlu ditanggapi secara serius. Menghina umumnya adalah perilaku yang muncul karena frustrasi dan stres, alih-alih merasa tersinggung, saya biasanya kasihan dengan pelaku penghinaan.

Untuk kasus Ustad Abdul Somad, yang beliau lakukan bukan hanya menghina simbol salib, namun juga mengandung tuduhan bahwa umat Kristen berusaha mengkafirkan umat muslim dengan ambulans, dan menghasut umat muslim untuk mengubah lambang salib di ambulans menjadi bulan sabit. Selain sebuah tuduhan semestinya dilengkapi dengan bukti yang kuat, saya takut bahwa ajakan Ustad Abdul Somad untuk mengubah lambang palang di mobil ambulans berujung pada aksi vandalisme dan perusakan fasilitas publik.

Sesuai Ajaran Islam?

Paling ajaib dari kasus ini adalah ketika sebagian muslim membela ceramah Ustad Abdul Somad dengan mengatakan bahwa apa yang disampaikannya memang sesuai ajaran Islam. Ehh… Sungguh saya baru tahu bahwa Islam mengajarkan bahwa di dalam salib itu terdapat jin kafir. Emang ada di ayat atau hadist mana sih?

Pertama, tidak semua salib itu ada patungnya. Kristen katolik umumnya menggunakan salib yang juga ada patung Yesus, namun di Protestan justru lebih sering menggunakan salib yang tanpa ada patung Yesusnya.

Kedua, Ustad Abdul Somad boleh ngeles bilang bahwa semua patung itu pasti ada jinnya. Tapi ketika Ustad Abdul Somad berceramah, alangkah baiknya jika hal tersebut disertai dalilnya. Apakah ada dalil yang mengatakan bahwa semua patung itu akan ada jin kafirnya, sehingga ketika Ustad Abdul Somad memberikan jawaban maka jawaban tersebut adalah apa yang disampaikan oleh tuhan dan nabinya, bukan pendapatnya pribadi.

Ketiga, di surah An’am ayat 108 jelas sekali ada larangan bagi kaum muslim untuk menghina sesembahan umat agama lain. Berdasarkan asbabun nuzulnya diceritakan bahwa di zaman Nabi Muhammad ada kaum muslim yang menghina patung sesembahan kaum Quraish dan itu diprotes oleh kaum Quraish sehingga turunlah ayat tersebut. Apa yang dilakukan Ustad Abdul Somad adalah pengulangan kesalahan yang sama.

Keempat, anggap lah bahwa materi yang disampaikan oleh Ustad Abdul Somad itu benar, namun apa hal itu tidak bisa disampaikan dengan lebih sopan? Misal ada yang bertanya apakah daging babi itu halal atau haram, apa elok jika dijawab “Ya haram lah, goblok!”, kan enggak.

Ada adab yang harus diperhatikan sebelum menyampaikan ilmu. Ketika Ustad Abdul Somad memperagakan Yesus saat disalib mungkin dia sedang melucu, berusaha memancing tawa agar ceramahnya tidak membosankan, namun nercanda dan melucu juga ada tempatnya, dan saya pikir kita tidak pantas menertawakan simbol ketuhanan orang lain, bahkan ketika orang tersebut tidak ikut mendengar apa yang disampaikan.

Pendeta Juga Menghina Islam

Ketika kasus Ustad Abdul Somad mencuat, banyak para pendukungnya kemudian membagikan ceramah dari pendeta yang berisi pembahasan tentang umat Islam. Pendukung Ustad Abdul Somad kemudian mengklaim bahwa umat agama lain pun melecehkan Islam di mimbar agama mereka, dan bagi mereka itu sebuah kewajaran yang tidak perlu dipersoalkan.

Salah satu video ceramah pendeta yang banyak diunggah adalah ceramah Saifudin Ibrahim, seorang mantan muslim pengurus Pesantren Al Zaytun yang kemudian murtad dan menjadi pendeta.

Ceramah pendeta yang dianggap menghina Islam.

Saya pernah beberapa kali menonton video Saifudin Ibrahim. Beliau memang keras mengkritik Islam. Di video tersebut Saifudin sebenarnya lebih mengkritik umat muslim yang membenci Yahudi ketimbang mengkritik konsep ajaran Islam, entah mengapa video ini yang dicomot, karena di video lain beliau lebih terang-terangan mengkritik teologi Islam, bedanya Saifudin selalu mengkritik dengan dalil (Quran dan Alkitab) membandingkannya dengan logika dan fakta.

Oke lah, anggap yang dilakukan oleh Saifudin Ibrahim tersebut adalah sebuah pelecehan, namun satu hal yang tidak diketahui (atau pura-pura tidak tahu) oleh para penyebarnya adalah bahwa Saifudin Ibrahim sudah dituntut dan dipenjara atas ceramahnya tersebut.

Kasus Pendeta dipenjara karena melecehkan Islam juga bukan sekali itu saja, tahun 2001 pernah ada kasus Pendeta Suradi ben Abraham yang membuat MUI sangat berang sampai mengeluarkan fatwa hukuman mati dimana MUI meminta pemerintah yang membunuh Pendeta Suradi atau mereka yang membunuh secara langsung (ngeri banget). Padahal, ceramah kedua pendeta tersebut sebenarnya direkam dan disebarkan untuk kalangan terbatas, sama seperti kasus Ustad Abdul Somad.

Kasus yang paling parah dan tidak masuk akal adalah kasus yang menimpa Meiliana, seorang ibu rumah yang mengeluh tentang suara adzan yang dianggapnya terlalu keras. Meliana menyampaikan keluhannya secara pribadi, dengan bahasa yang sopan, pun yang dikeluhkan adalah TOA, yang nobatene sama sekali tidak ada hubungannya dengan simbol dan teologi keislaman. Tapi kaum muslim yang marah dengan Meiliana kemudian melakukan aksi pembakaran Vihara dan Kelenteng, dan oleh pengadilan yang dihukum adalah Meiliana, bukan pembakar tempat ibadah tersebut.

Menuntut Keadilan

Sebagai seorang liberal, saya sepenuhnya mendukung kebebasan seseorang dalam berpendapat, bahkan ketika pendapat itu sifatnya penghinaan terhadap apa yang saya yakini. “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.”, begitu kata Evelyn Beatrice Hall. Sayangnya, Indonesia mengatur batasan tentang bagaimana seseorang menyampaikan pendapat yang sialnya selama ini aturan tersebut lebih sering menjerat masyarakat miskin, aktivis, serta kaum minoritas.

Kasus Ustad Abdul Somad kali ini adalah ujian bagi pemerintah dan kaum mayoritas, apakah masih mampu bersikap adil atau tidak terhadap peraturan yang mereka sepakati sendiri. Sejak kasus 1998 dan demo 212 Indonesia banyak mendapat pemberitaan negatif terkait rasisme dan radikalisme, kepercayaan masyarakat dari kalangan minoritas juga semakin turun. Pemerintah seakan tidak punya wibawa, penegak hukum nampak seperti pengecut. Seandainya Ustad Abdul Somad kemudian bebas, maka itu adalah pembuktian ketidakadilan dan ketidakmampuan pemerintah. Maka jangan salahkan jika nanti ada daerah yang menuntut kemerdekaan, menuntut untuk melepaskan diri dari negara yang melanggar dasar negaranya sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai