Ketika Rachel Maryam Mengkritik Kebijakan Impor

Beberapa hari yang lalu, seorang mantan artis yang kini menjadi politikus yaitu Rachel Maryam mengunggah sebuah video parodi di Instagram miliknya. Video tersebut berceritakan  mengenai dirinya yang berbelanja bahan kebutuhan pokok namun karena barang yang dijual adalah produk impor yang harganya mahal maka dia kemudian membayarnya dengan uang mainan. Berikut video langsung dari Instagramnya:

Dalam deskripsinya Rachel Maryam mengatakan bahwa video yang diunggah tersebut adalah video parodi. Bagi saya hal tersebut bukan hanya bermakna bahwa RM ingin mengatakan bahwa videonya tersebut untuk lucu-lucuan, namun sekaligus juga bentuk pembelaan di awal, persiapan jika ada yang mengkritik bahwa videonya tidak sesuai kenyataan. (Gak pede ya Bu?)

Video ini mungkin bertujuan mengkritik pemerintah Jokowi dan kebijakan impornya ini (maklum karena beliau ikut partai oposisi), sayangnya video tersebut bukannya menuai dukungan, yang ada malah blunder dimana banyak netizien yang justru memberikan tanggapan negatif dan mempertanyakan kualitas intelektual Rachel Maryam.

Saya tidak ingin berkomentar tentang bagaimana gaya Rachel di video tersebut atau tentang logikanya yang ngawur dimana dia membalas barang impor yang dia beli dengan uang mainan (serius itu logikanya parah banget, masih lebih nyambung kalau dia ceritanya bayar pakai dolar), namun yang lebih penting adalah tentang bagaimana pemahaman Rachel tentang kebijakan impor, karena ini ada hubungannya dengan tujuan di video tersebut dan posisinya sebagai politikus.

Gagal Paham Tentang Impor

Rachel jelas gagal paham soal konsep kebijakan impor, lebih tepatnya dia gagal memahami konsep dasar ekonomi. Dia mengira bahwa impor berakibat pada kenaikan harga barang sehingga merugikan pedagang dan konsumen. Pemikiran ini kemungkinan muncul karena pengalaman Rachel yang selama ini berbelanja barang impor (seperti tas dan baju) dengan harga yang mahal. Pengalaman tersebut kemudian memunculkan stigma dalam dirinya sendiri bahwa barang impor itu cenderung kualitasnya bagus dan harganya mahal.

Dengan stigma bahwa barang impor itu mahal dan kualitasnya bagus, Rachel pasti merasa kebingungan tentang bagaimana mekanisme impor bisa dikatakan merugikan masyarakat kecil, karena dia sendiri sadar kalau barang mahal yang hanya mampu dijangkau oleh masyarakat menengah ke atas semestinya ya hanya berdampak pada masyarakat kelas menengah ke atas, masyarakat kecil mestinya beli barang lokal dengan kualitas rendah yang harganya murah saja. Sayangnya karena Rachel sering mendengar bahwa kebijakan impor itu tidak baik, ditambah dengan keberaniannya untuk mengkritik pemerintah (mungkin juga karena tekanan rekan separtainya) maka muncul lah video dengan ide liar tersebut. Ide yang mengira bahwa kebijakan impor akan membuat pasar dipenuhi dengan produk impor dan menggerus produk lokal sehingga masyarakat terpaksa membeli barang impor yang harganya mahal tersebut.

Kenyataannya apakah impor daging sapi membuat harga daging sapi mahal? Apakah impor garam membuat garam menjadi mahal? Tidak sama sekali. Tidak ada itu cerita orang berbelanja daging sapi impor di pasar dengan harga hampir sama dengan harga emas. Rachel juga nampaknya sadar bahwa di pasar (bukan supermarket) saat ini tidak ada daging sapi impor dengan harga 200 ribu, karenanya di deskripsi dia menulis bahwa videonya hanya parodi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa di awal Rachel sudah mencoba membela diri jika seandainya ada yang membandingkan materi videonya dengan kondisi nyata di lapangan.

Mengapa di pasar harga daging impor tidak mahal? Jawabannya karena justru kebijakan impor bertujuan menurunkan harga pasar.

Sesuai konsep dasar ekonomi, harga barang bergantung pada permintaan dan penawaran. Semakin banyak yang menawarkan daging maka harga daging akan semakin murah, sebaliknya jika jumlah daging itu sedikit maka harganya akan cenderung semakin mahal. Lihat kapan kebijakan impor dilakukan, selalu ketika produksi barang tersebut jumlahnya sedikit atau ketika sedang permintaan meningkat.

Jarang sekali ada cerita bahwa impor dilakukan ketika barang di dalam negeri jumlahnya masih banyak dan harganya murah, negara yang melakukan ekspor pun belum tentu mau karena jika barang diekspor ketika jumlahnya masih banyak dan murah, maka dia akan terpaksa menjual barangnya lebih murah juga agar bisa bersaing, bukannya untung yang ada malah rugi.

Lantas mengapa kebijakan impor sering dikritik? Siapa yang dirugikan? Jawabannya adalah produsen dalam negeri. Pihak yang rugi ketika pemerintah melakukan impor garam adalah petani garam, yang rugi ketika pemerintah melakukan impor daging sapi adalah peternak sapi. Bagi pedagang impor tidak akan berpengaruh besar, justru cenderung menguntungkan karena dengan harga murah maka dia akan lebih mudah menjual barangnya. Sementara yang paling diuntungkan adalah konsumen karena bisa membeli produk dengan harga yang murah.

Kebijakan impor umumnya memang buruk terutama untuk produk yang non-esensial (masih bisa diganti dengan produk lain) seperti daging dan sayur. Biarkan saja daging sapi harganya mahal, masyarakat bisa beralih ke daging ayam atau ikan. Biarkan saja harga kedelai mahal, tidak makan tempe ya cukup makan toge. Kebijakan impor dalam skala makro merugikan perekonomian negara karena akan menurunkan pajak sementara uang mengalir ke negara lain.

Kebijakan impor itu seringkali bertujuan politis. Konsumen jumlahnya besar, jauh lebih besar dibanding produsen. Dengan melakukan impor yang membuat harga produk turun, maka masyarakat yang kebanyakan adalah konsumen akan merasa senang, terutama jika barang tersebut ada kaitannya dengan urusan perut dan konsumennya adalah ibu-ibu rumah tangga dan masyarakat menengah ke bawah (didemo emak-emak itu berat). Karenanya ketika Rachel Maryam mengkritik tentang kebijakan impor dengan mengatakan bahwa yang rugi adalah konsumen dan pedagang dari masyarakat kelas menengah ke bawah, maka kritik tersebut sebenarnya ngawur dan salah sasaran.