Ketika Dinyatakan Positif Menggunakan Narkoba

Setelah masalah saya dengan Ibu Kapolsek terkait pelanggaran lalu lintas selesai, beberapa saat kemudian saya mendapat masalah baru, dimana ada perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) datang ke kantor dan ingin melakukan tes urin kepada saya. Waduh kok bisa ya? Apakah ini ada kaitannya dengan kasus saya sebelumnya?

Saya tidak tahu mengapa saya bisa sampai diminta menjalani tes urin ini, tapi kemungkinan ini atas permintaan atasan saya dimana sebelumnya beliau memang sudah ada janji dengan perwakilan BNN. Mengetahui masalah tadi, maka beliau berinisiatif melakukan tes urin terhadap saya karena siapa tahu saat berkendara tadi saya dipengaruhi oleh zat tertentu yang membahayakan.

Well, agak berlebihan sih, tapi oke lah saya jalani saja, toh saya juga dari dulu penasaran dengan proses tes narkoba ini.

Kembali ke ruang rapat, di sana saya menemui 3 orang yang saya kurang tahu dari perwakilan mana saja. Setelah mendengar penjelasan saya dan salah satu perwakilan dari BNN maka saya langsung menjalani tes urin sesuai instruksi.

Yang namanya tes urin, ya mesti kencing dulu. Saat kencing saya diawasi oleh seorang petugas, mungkin untuk menghindari menipulasi, takut kalau kencing yang saya serahkan nanti bukan kencing saya tapi kencing orang lain yang saya ambil dari toilet yang belum disiram. đŸ˜€

Urin yang nanti digunakan untuk tes ditampung dalam wadah kecil, kemudian saya serahkan pada petugas untuk dites. Oleh petugas, kencing yang telah ditampung tersebut kemudian dipindahkan ke wadah lain (botol air mineral yang dipotong) agar nanti alatnya tesnya bisa masuk.

Alat yang digunakan yaitu Sensor Diagnostic DOA 5 Drugs Panel Test, alat ini didatangkan dari Kanada dan diimpor oleh PT. Laniros Dian Pharma. Seperti namanya, alat ini bisa digunakan untuk melakukan 5 test narkoba sesuai keterangan yang ada di tiap panelnya, yaitu morphine (MOR), ganja atau tetra-hydro-cannabinol (THC), shabu-shabu atau methamphetamine (MET), ekstasi atau 3,4-methylenedioxymethamphetamine (MDMA), serta benzodiazepine (BZD).

Tes dilakukan dengan mencelupkan sebagian alat tes ini ke cairan urin yang telah ditampung dalam botol air mineral bekas yang telah dipotong kemudian menunggunya selama beberapa menit. Seseorang akan dinyatakan positif narkoba apabila garis yang muncul adalah garis yang bagian atas saja, tes dinyatakan negatif jika muncul dua garis, sedangkan tes dinyatakan gagal apabila garis bagian bawah saja yang muncul.

Setelah menunggu beberapa menit, hasilnya sungguh mengejutkan dan di luar dugaan, berikut adalah foto hasil tesnya:

Pada tes THC (biru) yang terlihat jelas hanya satu garis

Jika dilihat dari foto tersebut maka hasil tes sebenarnya bisa dikatakan meragukan, karena pada tes THC garis di bagian bawah masih terlihat walau warnanya sangat buram, pada tes MDMA dan benzodiazepine juga garis bawah agak buram (lebih buram dibanding garis atasnya), namun jika dibandingkan dengan garis bawah pada tes THC maka keduanya jauh lebih terang.

Nah karena saya tidak tahu seberapa batas terang sebuah garis hingga bisa dikatakan terlihat atau tidak terlihat, maka penilaian positif saya serahkan saja ke ahlinya yaitu pada petugas BNN, dan oleh beliau hasil tes dikatakan positif THC, walau demikian beliau juga mengatakan bahwa hasil tersebut masih meragukan. Yang agak lucu adalah ketika petugas BNN mengatakan bahwa hasil tes tersebut berarti saya kemungkinan mengonsumsi shabu-shabu, eeh. Mungkin petugasnya lupa kali ya tiap panel tes itu menyatakan kandungan zat mana, tapi oke lah, bagian yang penting adalah soal mengapa saya bisanya dinyatakan positif THC.

Karena saya sama sekali tidak merasa pernah mengonsumsi narkoba jenis apapun, jadi ya santai saja, asli ini cuma false positive. Saat itu yang saya pikirkan adalah hal-hal terakhir yang saya lakukan dan makanan minuman terakhir yang saya konsumsi yang kemungkinan bisa membuat saya dinyatakan postif THC.  Tidak ada hal aneh yang saya lakukan, makanan terakhir yang saya makan adalah gado-gado dan capcay buatan kakak saya, sedang minum cuma air putih dan Teh Rio, tidak ada yang mencurigakan. Kecurigaan saya kemudian beralih kepada tes itu sendiri. Apakah alat tesnya masih dalam kondisi baik? Apakah tesnya telah dilakukan sesuai standar?

Alasan mengapa saya mencurigai alat tes ada beberapa:

  1. Alat tesnya hampir kadaluarsa
    Di bagian belakang pembungkus alat tes tertulis bahwa alat tes tersebut expired pada Mei 2018, artinya bulan depan alat itu sudah kadaluarsa alias tidak layak pakai lagi. Walau masih belum mencapai tanggal expired namun apakah akurasi alatnya tidak berkurang? Secara Indomie kalau sudah mau kadaluarsa lagi sebulan bumbunya biasanya sudah basah, tidak berbentuk serbuk lagi. Ya kali aja alat ini sama seperti Indomie kan?
  2. Dibawa tanpa alat khusus
    Saya tidak melihat petugas membawa perlengkapan khusus yang digunakan untuk membawa alat tes. Sementara tes dilakukan di kantor tempat saya bekerja yang lokasinya lumayan jauh dari kantor BNN.
  3. Pakai botol bekas Aqua
    Itu botol Aqua dapat dimana ya? Sudahkah dicuci? Apakah tesnya valid dengan cara seperti ini?

Walau dengan berbagai kecurigaan tersebut, namun karena sulit dibuktikan apa penyebab pasti yang bisa membuat hasilnya jadi false positive, maka saya kemudian bertanya langsung ke pihak BNN, dengan hasil ini saya mau diapakan, tindak lanjutnya seperti apa, dll.

Awalnya pihak BNN membujuk saya untuk mengaku secara jujur apakah saya memakai narkoba atau tidak, atasan saya yang reaksinya agak berlebihan itu malah mengatakan bahwa dia siap menjadi jaminan (lha maksudnya coba?), namun karena saya memang tidak memakai apapun, jadi apanya yang mau diakui? BNN sempat menanyakan obat-obatan apa yang sempat saya konsumsi, saya bilang saya cuma minum parasetamol dan ibuprofen 2 dan 3 hari yang lalu karena sempat merasa pusing, namun oleh BNN dikatakan obat tersebut tidak ada pengaruhnya.

Tidak ingin berlama-lama diskusi tanpa arah, maka saya kemudian bertanya kepada BNN, “Seandainya ada orang yang mengonsumsi narkoba, sampai kapan dia dites hasilnya masih positif?” dijawab bahwa seminggu setelah memakai narkoba orang tersebut jika dites hasilnya akan tetap positif. Setelah memberi penjelasan eh mereka malah mengira bahwa pertanyaan itu mengesankan seakan-akan saya adalah pengguna narkoba. Aneh, dapet kesimpulan dari mana coba?

Saya kemudian menjelaskan maksud pertanyaan saya, “Maksudnya, jika batas waktunya adalah sampai seminggu maka besok saya akan tes lagi di tempat yang berbeda, dan hasilnya tes tersebut bisa digunakan sebagai perbandingan atas tes ini” usul saya.

Setelah mengatakan hal tersebut mereka masih diskusi panjang lebar, dan ujung-ujungnya mengatakan “Kami hanya ingin mengetes saja, kalau kamu tidak memakai (narkoba) ya sudah” kemudian saya pun diperbolehkan keluar ruangan.

Lha, itu maksudnya apa coba? Jadi tes tadi hanya iseng saja? Benar-benar aneh.
Tapi untuk berjaga-jaga, maka saya tetap berencana untuk melakukan tes ulang keesokan harinya.


Keesokan harinya, saya melakukan tes di Rumah Sakit Bhayangkara milik Polri yang berlokasi di Jalan Trijata Denpasar, dan seperti yang sudah saya duga, hasilnya ya negatif.

Duh, ngabis-ngabisin duit aja. Tapi ya mungkin ini yang namanya karma. Anggap saja ini bayar denda tilang. Bermasalah sama polisi, sekarang uang tes narkoba masuk diterima oleh polisi juga. Semoga karmanya sampai di sini saja ya.