Hikmah Cerita Malin Kundang

Gara-gara di luar negeri sibuk merayakan Hari Ibu sementara di Indonesia orang-orang sibuk mengutuk aksi terorisme yang kemarin terjadi di Surabaya, saya malah jadi ingat tentang cerita Malin Kundang, cerita dimana seorang ibu mengutuk anaknya yang durhaka hingga anaknya tersebut menjadi batu. Sebuah cerita yang populer karena sering dimuat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia anak sekolah dasar.

Karenanya ceritanya sudah populer, maka cerita tersebut tidak perlu saya kutip lagi. Kali ini saya akan membahas hikmah dari cerita tersebut. Berikut adalah beberapa hikmah yang bisa diambil dari cerita Malin Kundang.

1. Gunakan Kontrasepsi

Dalam cerita Malin Kundang diceritakan bahwa kedua orangtua Malin adalah orang miskin, dimana saking miskinnya, Malin yang semestinya menikmati masa kecil dengan bermain dan belajar terpaksa harus ikut bekerja membanting tulang agar bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Berdasarkan cerita tersebut, nampak bahwa orangtua Malin adalah orangtua yang egois. Mereka yang sadar bahwa hidup dalam kemiskinan masih tetap memaksakan diri untuk memiliki anak, dan ini sama saja mereka telah menjerumuskan seorang anak dalam kemiskinan.

Anak tentu tidak ingin lahir sebagai orang miskin, tidak ingin lahir sebagai orang cacat, sayangnya karena tidak memiliki pilihan untuk itu, maka yang bisa mencegah agar anak tidak lahir dalam keluarga miskin dan tidak cacat adalah tergantung pada orangtuanya. Sebagai orangtua yang baik, jika sadar bahwa kondisi ekonominya masih kurang, hanya cukup untuk hidup berdua, maka sebaiknya jangan punya anak dulu.

2. Jangan Jadikan Anak Sebagai Investasi

Dalam cerita Malin Kundang, Ibu Malin selalu menunggu kedatangan Malin di tepi pantai sambil menatap cakrawala. Ketika melihat Malin pulang dalam keadaan raya raya, Ibu Malin langsung memeluk anaknya dan memuji kekayaannya. Sayangnya, ketika Malin tidak mau mengakui dirinya yang miskin dan berpakaian lusuh itu sebagai orangtua, Ibu Malin langsung merasa kecewa kemudian mengutuk anaknya.

Berdasarkan cerita tersebut nampak bahwa Ibu Malin adalah orang yang pamrih, dia merawat dan membesarkan Malin dengan harapan agar anaknya tersebut akan membalas dirinya dengan kebaikan. Ibu Malin juga tidak mempersiapkan hari tuanya dengan baik, kemungkinan dia juga berharap bahwa ekonominya di masa tua ditanggung oleh anaknya, dengan kata lain Ibu Malin menganggap anak sebagai sebuah investasi.

Orangtua semestinya menyadari bahwa anak tidak punya pilihan untuk dilahirkan, yang bisa memilih untuk punya anak adalah orangtua, karena itu yang harus berterima kasih atas kelahiran anak adalah orangtua, bukan anak yang harus berterima kasih karena sudah dilahirkan. Orangtua semestinya sudah cukup merasa bahagia atas kehadiran anak tanpa perlu mengharap balasan kebaikan. Merawat dan membesarkan anak adalah kewajiban dan tanggung jawab orangtua atas pilihan punya atau tidak punya anak yang telah mereka tentukan, namun apakah anak membalas orangtuanya dengan kebaikan atau tidak sifatnya tidak wajib, melainkan pilihan. Karena membalas orangtua dengan kebaikan sifatnya pilihan, maka sebaiknya orangtua tidak perlu berharap banyak terhadap anaknya, apalagi sampai menganggap anak sebagai sebuah investasi untuk masa tua. Bagaimana kehidupan di masa tua, kita sendiri yang harus mengaturnya.

3. Berdoalah Dalam Kebaikan

Karena kecewa dengan perlakukan anaknya, Ibu Malin kemudian berdoa agar jika benar orang yang berlaku kasar padanya tadi adalah anaknya yaitu Malin maka kutuk orang tersebut agar menjadi batu. Akibat kutukan dari Ibu Malin, maka kapal mewah yang dinaiki Malin kemudian karam, dan Malin pun berubah menjadi batu. Cerita Malin Kundang berakhir sampai di sana. Akhir ceritanya tidak membahagiakan. Malin Kundang menjadi batu, ibu yang mengutuknya masih miskin dan tidak ada yang peduli padanya, saking tidak pedulinya sampai tidak ada yang tahu siapa namanya.

Berdasarkan cerita ini bisa diketahui bahwa doa-doa dalam bentuk kutukan tidak ada manfaatnya. Seandainya saja Ibu Malin berdoa agar anaknya sadar, tentu akhir ceritanya akan lebih baik, dia bisa berkumpul bersama anaknya lagi, dan hidup berkecukupan, sayangnya Ibu Malin lebih memilih untuk mengikuti emosinya, ditambah dengan ketidak-cerdasarannya, maka yang dia ucapkan hanya kalimat kutukan yang merugikan Malin dan dirinya sendiri.