Gempa Nepal dan Azab Allah

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah status dari seorang facebooker bernama Desvan Saersono yang mengatakan bahwa gempa yang baru-baru ini terjadi di Nepal adalah bentuk azab dari Allah karena mereka telah melakukan ritual penyembahan kepada tuhan yang salah. Sebuah tulisan yang sangat provokatif dan tidak etis menurut saya.

Konon gempa di Nepal terjadi karena sebelumnya ada upacara penyembelihan yang ditunjukkan kepada para Dewa-Dewi

PKS Piyungan kemudian ikut-ikutan memuat tulisan facebook tersebut dan mendukungnya dengan menambahkan berbagai dalil sebagai pembenaran atas cocoklogi bencana dan perayaan penyembelihan sapi sebagai pesembahan pada dewa dewi tersebut. Salah satu dalil yang digunakan adalah:

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

QS As-Sajadah ayat 21

Bagi mereka, penyembelihan terhadap hewan sebaiknya hanya diperuntukkan kepada Allah yang katanya adalah tuhan semesta alam yang asli, bukan pada tuhan lain seperti dewa dewi yang dipuja oleh umat Hindu di Nepal.

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

QS al An’am ayat 162

Tidak sampai di sana, PKS Piyungan kembali membuat tulisan yang mengatakan bahwa di Nepal tidak ada masjid yang rusak kemudian membandingkannya dengan kuil Hindu dan Buddha yang rusak. Hal tersebut kemudian lagi-lagi diklaim sebagai bukti kebenaran agamanya.


Tanggapan Mengenai Festival Gadhimai

Sebelum menanggapi mengenai cocoklogi bencana alam dan peringatan dari tuhan karena telah menyembah tuhan yang salah, beragama secara sesat, maka saya ingin menanggapi beberapa hal tentang komentar negatif rekan muslim mengenai festival Gadhimai yang ada di Nepal tersebut.

Benarkah Kejam?

Setelah membaca komentar yang masuk di statusnya Desvan Saersono maupun yang membagikannya (sharing), nampak banyak rekan muslim yang berpandangan bahwa penyembelihan terhadap binatang yang terjadi di Nepal itu sebagai sebuah kekejaman.

Oke, kita boleh pro kontra soal standar kekejaman. Sebagian orang boleh menganggap bahwa pembunuhan hewan ternak secara massal sebagai kekejaman sementara sebagian orang lain beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu kewajaran, namun ada hal yang terlupakan, bahwa rekan muslim juga melakukan hal yang sama (pembunuhan terhadap hewan secara massal sebagai bagian dari ritual agama) saat perayaan Idul Adha, bahkan jumlahnya lebih banyak. Di Jawa Timur saja jumlah sapi yang dibunuh mencapai 75.000 ekor, belum termasuk jumlah kambing, belum termasuk provinsi lain, sehingga jumlah hewan yang disembelih di Indonesia saat Idul Adha, angkanya sudah pasti mencapai jutaan ekor.

Di Jawa Timur, puluhan ribu sapi disembelih secara massal saat perayaan Idul Adha.

Di luar sebagai bagian dari ritual agama, kita pun sebenarnya tiap hari mengonsumsi daging dari ternak sapi, kambing, babi, ayam, dan jumlahnya mencapai jutaan ekor pula. Jika memang persoalannya adalah bahwa pembunuhan hewan ternak secara massal yang dianggap kejam, lantas protes yang sama mestinya ditunjukkan juga kepada perayaan Idul Adha serta penyembelihan hewan ternak untuk kepentingan konsumsi di berbagai rumah potong hewan.

Dagingnya Juga Dikonsumsi

Usut punya usut, ternyata banyak yang salah mengira, menganggap bahwa kerbau dan kambing yang dikorbankan dalam ritual perayaan di Nepal itu hanya digunakan untuk persembahan saja, setelahnya dibiarkan alias disia-siakan alias tidak dikonsumsi, padahal hal tersebut tidak benar.

Jika mengecek berbagai foto perayaan Gadhimai di Google serta mengecek keterangan di berbagai media, maka kita bisa tahu bahwa semua daging hewan yang disembelih pada perayaan tersebut akan dibawa dijual ke beberapa pengusaha atau dibawa pulang atau dikonsumsi sendiri.

“After the festival, the meat, bones and hides of the animals are sold to companies in India and Nepal.”

Laporan Joanna Jolly untuk BBC
Daging hewan pada perayaan Gadhimai dipotong kemudian dibawa pulang untuk dikonsumsi.

Ya, pakai logika aja kali ya. Nepal itu kan bukan negara kaya, penduduknya masih banyak yang kelas menengah ke bawah. Tidak mungkin mereka menyia-nyiakan daging sebanyak itu hanya untuk ritual penyembahan. Di Bali saja buah-buahan dari ritual persembahan akan dikonsumsi kembali, apalagi untuk daging yang harganya lebih mahal.

Bencana Alam dan Kutukan Tuhan

Nah, ini poin pentingnya, di sini saya akan menunjukkan seberapa konyol dan jahatnya pemikiran orang-orang yang suka mengaitkan bencana alam dengan agama yang dianut masyarakat di daerah tersebut dengan menuduh bencana alam sebagai peringatan atau azab dari tuhan khususnya dalam kasus gempa yang baru-baru ini terjadi di Nepal.

Waktu Pelaksanaan Festival Gadhimai

Orang-orang seperti Desvan Saersono dan PKS Piyungan menganggap bahwa kejadian gempa di Nepal ada hubungannya dengan perayaan Gadhimai karena bencana tersebut terjadi segera setelah perayaan. Namun benarkah hal tersebut?

Sesat Logika

Anggapan bahwa suatu peristiwa merupakan sebab dari peristiwa lain hanya karena peristiwa itu terjadi lebih dulu, belum tentu adalah anggapan yang benar, justru itu merupakan bentuk kesesatan logika.

Suatu peristiwa belum tentu memiliki hubungan sebab akibat yang signifikan dengan peristiwa yang terjadi setelahnya. Misal, ada seorang ibu-ibu yang di pagi hari menonton sinetron kemudian di sore hari mengalami kecelakaan di jalan raya, maka belum tentu sinetron itu yang membuat si ibu tersebut kecelakaan. Untuk bisa menyatakan bahwa dua kasus memiliki hubungan sebab akibat, paling tidak dasar teori sebab akibatnya masuk akal dan kejadiannya konsisten (bukan sekali dua kali).

Merupakan perayaan rutin

Perayaan Gadhimai adalah perayaan rutin yang dilakukan umat Hindu di Nepal setiap 5 tahunan. Logikanya, jika tuhan memang ada dan tidak suka dengan perayaan Gadhimai tersebut, maka semestinya sudah dari dulu di Nepal terjadi bencana, kenyataannya kan tidak demikian, baik 5 tahun lalu, 10 tahun lalu, atau 15 tahun yang lalu, Nepal baik-baik saja.

Terakhir dilaksanakan November 2014

Ada yang mengatakan bahwa festival ini dilangsungkan 10 hari sebelum terjadi bencana gempa. Hal tersebut tidak benar karena sesuai pemberitaan BBC, festival Gadhimai ini terakhir dilaksanakan pada bulan November tahun 2014, artinya sudah lebih dari 5 bulan. Masa iya azab tuhan datangnya telat sih?

Jadi karena pelaksanaan festival Gadhimai dilakukan secara rutin dan jauh sebelum kejadian gempa, maka tidak logis mengaitkan kedua peristiwa tersebut, apalagi mengatakan keduanya punya hubungan sebab akibat.

Muslim Juga Pernah Kena Bencana

Yang paling menyedihkan dari tuduhan beberapa orang yang pemikirannya sama dengan PKS Piyungan adalah bahwa mereka seakan lupa bahwa umat muslim di dunia juga pernah mengalami bencana. Di Indonesia saja ada Aceh yang syariat Islamnya kuat pernah kena tsunami tahun 2004, begitu pula dengan Padang dan Banten yang nuansa Islamnya kental ternyata pernah mengalami bencana gempa dan tanah longsor. Jumlah korban dan kerusakan akibat bencana tersebut lebih parah dibanding apa yang terjadi di Nepal.

Provinsi Aceh yang berjuluk Serambi Mekah pun pernah mengalami bencana tsunami dengan jumlah korban yang lebih banyak dibanding gempa di Nepal.

PKS Piyungan juga telah salah ketika mengatakan bahwa di Nepal tidak ada bangunan masjid yang rusak. Bangunan masjid memang lebih tahan gempa dibanding kuil karena usia bangunan yang lebih baru dan bentuknya yang tidak menjulang tinggi, namun tetap saja ada beberapa masjid yang juga mengalami kerusakan.

Salah satu Masjid di Kathmandu rusak akibat gempa.

Saya pribadi tidak percaya bahwa sebuah bencana ada hubungannya dengan kutukan tuhan. Jika tuhan maha bijaksana dan tidak suka manusia berbuat jahat, semestinya tuhan bisa mencegah manusia berbuat jahat, bukannya malah menghukum manusia yang telah berbuat kejahatan. Kalau saja bencana alam jadi dasar untuk menilai mana umat agama yang sesat dan tidak sesat, maka semua agama adalah salah, karena dalam sejarahnya tidak ada umat yang tidak pernah mengalami bencana.

Mungkin Anda juga menyukai