Foto Profil Mark Zuckerberg Dengan Bendera Perancis.jpg

Pasca serangan terorisme yang terjadi di Perancis, Facebook sempat menyediakan fitur untuk menambahkan gambar bendera Perancis di foto profil sebagai bentuk simpati atas kejadian tersebut. Fitur ini bukan pertama kali, sebelumnya Facebook pernah memberikan fitur serupa ketika Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis. Nampaknya fenomena ini akan menjadi tradisi tersendiri di Facebook. Yang menjadi pertanyaan, apabila suatu saat terjadi sesuatu di Indonesia, apakah boleh menambahkan bendera Indonesia di foto profil?

Sempat membaca tulisan seorang blogger yang berpendapat bahwa hal ini tidak boleh dilakukan sesuai dengan UU no 24 tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan pasal 24 yang bunyinya:

Setiap orang dilarang:

  1. merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;
  2. memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;
  3. mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;
  4. mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan
  5. memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara.

Sang Blogger berpendapat bahwa yang dilanggar adalah poin “d” dimana disana terdapat kalimat yang melarang setiap orang menambahkan gambar pada Bendera Negara. Jika yang ditambahkan berupa emblem mungkin tidak masalah, tapi pada pemasangan bendera di Facebook menggunakan teknik overlay sehingga gambar bendera menjadi bertumpuk dengan foto  profil.

Oke, perlu dipahami dulu bahwa larangan dalam UU ini sebenarnya bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan simbol-simbol negara, jadi selama tujuan seseorang tidak melecehkan simbol tersebut atau orang lain tidak memandangnya sebagai pelecehan, maka hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Pasal 12 pada UU no 24 tahun 2009 ini sendiri membenarkan penggunaan Bendera Negara untuk tujuan perdamaian dan solidaritas terutama ketika terjadi konflik horizontal, serta sebagai bentuk tanda duka cita atas kejadian tertentu, jadi ya semestinya boleh.

Di luar esensi dari maksud penggunaan bendera, jika kita perhatikan kalimat dalam pasal 24 tersebut, secara literal dikatakan bahwa kegiatan yang dilarang adalah “menambahkan gambar pada bendera”. Penggunaan kata “PADA” pada kalimat tersebut maknanya jelas bahwa yang dilarang adalah ketika situasinya sudah ada Bendera Negara lebih dulu baru kemudian ditambahkan gambar lain. Pada fitur Facebook yang terjadi kan sebaliknya, yaitu sudah ada foto profil lebih dulu, baru ditambahkan gambar Bendera Negara. Jadi secara literal pun UUnya menyatakan boleh.

Nah, di luar masalah UU, saya pribadi orangnya buta dan cenderung cuek dengan peraturan. Terlalu banyak peraturan yang tidak mungkin kita pelajari dan pahami semuanya, maka selama yang saya lakukan niatnya baik dan dilakukan tanpa merugikan orang lain, maka hal tersebut saya anggap benar dan akan tetap saya lakukan. Kalau toh nantinya apa yang saya lakukan ternyata melanggar UU, ya nanti di pengadilan UUnya diujikan kembali. 🙂