Benarkah Meniup Makanan Panas Dapat Menyebabkan Asidosis?

Sempat beredar artikel yang mengatakan bahwa meniup makanan yang masih panas dengan tujuan untuk mendinginkannya adalah hal yang tidak baik karena hal tersebut bisa menyebabkan terjadinya asidosis, yaitu kondisi meningkatnya kadar asam dalam darah sehingga timbul efek seperti keracunan.

Konon fenomena terjadinya asidosis akibat meniup makanan panas tersebut terjadi karena adanya reaksi antara gas karbondioksida yang dikeluarkan saat bernafas dengan uap air yang keluar pada makanan. Reaksi antara karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O) tersebut akan menghasilkan gas asam karbonat (H2CO3) yang bersifat asam.

Menurut reaksi kimia, apabila uap air bereaksi dengan karbondioksida akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang bersifat asam. H2O + CO2 → H2CO3

Asam karbonat tersebut kemudian akan beraksi dalam darah sehingga menyebabkan kadar asam dalam darah naik di mana kondisi tersebut disebut sebagai asidosis yang bisa berujung pada kematian. Karena dianggap berbahaya maka penulis klaim kemudian menyarankan agar sebaiknya kita tidak meniup makanan panas, cukup ditunggu sampai makanannya dingin atau dikipas-kipas saja.

Wah serem ya kalau orang bisa mati cuma gara-gara meniup makanan panas. Tapi benarkah klaim tersebut? Apa iya, meniup makanan panas yang biasa dan sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tersebut ternyata memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan?


Nafas Manusia Mengandung Uap Air

Sebenarnya saya agak malas menanggapi klaim ini karena saya pikir klaim ini terlalu konyol untuk dipercaya. Penulis mengabaikan fakta yang sangat mendasar yang anak SD pun sebenarnya tahu, yaitu bahwa nafas manusia tidak hanya mengandung karbondioksida namun juga mengandung uap air.

Pembuktian adanya uap air pada nafas manusia bisa dilakukan dengan mudah, misalnya dengan melihat adanya uap air yang keluar dari nafas saat udara dingin, atau dengan menghembuskan nafas ke dekat kaca yang akan membentuk embun.

Uap air yang nampak pada saat bernafas di cuaca dingin

Pada pernafasan normal asam karbonat pun memang terbentuk, karena itu lah dalam fisiologi asam karbonat juga disebut sebagai asam pernafasan (respiratory acid) karena merupakan satu-satunya zat asam yang dieksresikan dalam bentuk gas.

Nah, dengan fakta sederhana ini saja kita bisa tahu bahwa klaim yang disampaikan tidak masuk akal. Jika memang meniup makanan bisa menyebabkan asidosis akibat terjadinya reaksi antara karbondioksida dan uap air, maka reaksi tersebut sudah terjadi setiap hari ketika manusia sedang bernafas, maka seketika manusia bernafas saat itu juga manusia keracunan. Faktanya kan tidak demikian.

Persamaan Reaksinya Salah

Bagi yang paham kimia dan memperhatikan reaksi kimia yang ditulis oleh penulis klaim tersebut, maka akan nampak bahwa persamaan reaksi tersebut tidak tepat. Penulis mengatakan bahwa reaksi antara uap air, karbondioksida, dan asam karbonat adalah sebagai berikut:

H2O + CO2 → H2CO3

Kesalahan pada persamaan reaksi tersebut adalah arah dari reaksi. Reaksi antara uap air, karbondioksida, dan asam karbonat tidak berlangsung satu arah, melainkan arahnya bolak balik, sehingga penulisan yang benar adalah seperti berikut:

H2O + CO2 ⇄ H2CO3

Apa penting arah reaksi tersebut? Jawabannya, penting banget. Dalam kimia, reaksi yang arahnya bolak balik tersebut disebut reaksi kesetimbangan. Ini artinya bahwa sekalipun dalam reaksi antara uap air dan karbondioksida membentuk asam karbonat, maka pada saat yang sama asam karbonat juga bisa terpecah kembali menjadi uap air dan karbondioksida.

Asam Karbonat Sulit Terbentuk

Ketika penulis mengatakan bahwa uap air dari makanan dan karbondioksida dari pernafasan akan membentuk asam karbonat, maka penulis mengira bahwa asam karbonat bisa terbentuk dengan mudah dan cepat di udara bebas. Kenyataannya tidak demikian, reaksi pembentukan asam karbonat dari air dan karbondioksida bukanlah reaksi yang mudah. Tanpa adanya katalis yaitu semacam zat yang mampu mempercepat reaksi, maka kesetimbangan akan lama tercapai.

Asam Karbonat Dalam Tubuh Manusia

Asam karbonat yang merupakan zat asam lemah ditemukan secara alami dalam darah. Zat ini dibentuk dari hasil metabolisme yang dibantu oleh enzim  karbonik anhidrase dimana enzim ini lah yang berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi. Asam karbonat dibentuk oleh tubuh karena berfungsi sebagai zat penyangga (buffer) yang mampu menjaga keseimbangan asam basa darah

Jadi ceritanya, ketika manusia melakukan metabolisme, terbentuk zat sisa berupa HCO3 yang bersifat basa dan H+ yang bersifat asam kuat. Karena sifatnya asam, maka H+ dianggap beracun dan akan segera diikat oleh hemoglobin (Hb), sedangkan HCO3 akan dibawa oleh plasma darah (ini yang kemudian membuat darah secara umum bersifat basa).

Ketika manusia melakukan metabolisme berlebih, saat olahraga misalnya, maka zat H+ yang terbentuk juga lebih banyak. Zat H+ bisa bertambah dengan cepat, namun tidak dengan pembentukan hemoglobin. Dengan jumlah hemoglobin yang terbatas maka dalam situasi tersebut tidak semua H+ akan mampu diikat oleh hemoglobin. Agar darah tidak menjadi terlalu asam oleh adanya H+ maka direaksikan lah H+ tersebut dengan HCO3 sehingga terbentuk asam karbonat yang bersifat asam lemah. Asam karbonat yang terbentuk nantinya akan dibawa oleh darah dan ketika sampai di paru-paru asam karbonat akan dipecah menjadi H2O (uap air) dan CO2 (karbondioksida).

Begitu pula dengan hemoglobin, ketika sampai di paru-paru dan bertemu dengan oksigen, maka karena ikatan oksigen dan hemoglobin lebih kuat, maka H+ akan dilepaskan dan oksigen akan diikat. Zat H+ yang bebas akan segera diubah menjadi asam karbonat, untuk kemudian dipecah lagi menjadi uap air dan karbondioksida.

Reaksi yang melibatkan asam karbonat dalam darah

Kesimpulan

Jadi asam karbonat bukan lah zat yang berbahaya, sebaliknya justru keberadaannya sangat penting dalam menjaga asam basa darah dan proses pembuangan zat sisa metabolisme, karenanya tubuh manusia sampai repot-repot membuat enzim karbonik anhidrase untuk membentuk zat ini. Tanpa adanya asam karbonat, maka ketika manusia melakukan metabolisme berlebih darahnya akan menjadi cepat asam, dan saat tersebut lah justru terjadi asidosis.

Reaksi uap air, karbondioksida, dan asam karbonat adalah reaksi kesetimbangan yang arahnya bolak balik. Asam karbonat sulit terbentuk tanpa adanya katalis. Karena dalam darah asam karbonat sudah banyak, maka ketika sampai di paru-paru bukan asam karbonat yang masuk ke dalam tubuh, justru asam karbonat yang nanti dipecah menjadi uap air dan karbondioksida.

Faktanya, ketika uap air dan karbondioksida dilepas oleh paru-paru, sebagian kecil (sangat sedikit) memang bereaksi membentuk asam karbonat, dan asam karbonat tersebut akan keluar bersama dengan nafas yang dihembuskan. Karena asam karbonat juga dikeluarkan saat bernafas, maka dalam fisiologi asam karbonat juga disebut sebagai respiratory acid alias asam pernafasan.

Kalau masih ngeri dengan asam karbonat dari hasil niup-niup uap panas yang jumlahnya sangat sedikit itu, ya sekalian jangan pernah mandi air panas, atau sekalian jangan bernafas, takut kehirup asam karbonat yang dibentuk oleh tubuh anda sendiri. 😀

Mungkin Anda juga menyukai