Benarkah Makan Atau Minum Sambil Berdiri Berbahaya?

Beberapa hari yang lalu National Geographic Indonesia merilis artikel mengenai bahaya makan atau minum sambil berdiri bagi kesehatan manusia. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa  makan atau minum yang dilakukan saat berdiri bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal, kerusakan lambung, hingga gangguan saraf yang bisa berujung pada kematian.

Konon makan atau minum yang dilakukan dalam posisi berdiri bisa berbahaya bagi kesehatan.

Cerita mengenai bahaya minum sambil berdiri bagi kesehatan sebenarnya sudah lama saya baca. Ketika saya melakukan penelusuran kecil-kecilan, saya menemukan bahwa artikel ini pertama kali ditulis pada Maret 2009 di sebuah blog yang konon mengambil sumber dari Ensiklopedia Islam tanpa menyebut siapa penulis dan penerbitnya.

Berawal dari satu paragraf sederhana, cerita yang sumbernya tidak jelas ini kemudian menyebar dan berkembang makin panjang hingga 6 tahun kemudian sampai ke redaksi NatGeo Indonesia.


Menyebabkan Penyakit Kristal Ginjal

Artikel di NatGeo mengatakan bahwa minum sambil berdiri membuat air yang masuk ke tubuh bisa langsung menuju ke kandung kemih tanpa disaring terlebih dahulu oleh sfringer, yaitu sebuah otot yang bisa membuka dan menutup air kemih agar bisa lewat, dimana sfringer ini katanya hanya bisa bekerja pada saat manusia duduk. Konon jika air yang diminum tidak disaring oleh sfringer maka bisa menyebabkan timbulnya penyakit kristal ginjal yang sangat berbahaya.

Wuiiihhh, serem banget!!
Entah apa yang dimaksud dengan penyakit kristal ginjal itu karena saya belum pernah mendengarnya, mungkin maksudnya kencing batu atau batu ginjal kali ya. Tapi terlepas dari nama penyakit yang rada absurd itu, bagi yang pernah mempelajari sistem ekskresi di SMP atau SMA dengan baik pasti tahu bahwa artikel ini ngawur sekali.

Pertama, karena penulis mengira bahwa air yang diminum manusia akan langsung dibawa ke kandung kemih, padahal air yang diminum manusia dibawa ke saluran pencernaan, jadi air dari mulut akan dibawa ke lambung, dari lambung dibawa ke usus, usus berisi makanan dan cairan itu lah nantinya diserap dan dibawa ke seluruh tubuh oleh darah. Darah yang mengandung cairan tersebut lah yang nantinya disaring oleh ginjal, dibawa ke kandung kemih, yang nantinya menjadi air kencing.

Jadi prosesnya rumit dan lama sekali, tidak langsung air dari mulut jatuh ke kandung kemih macam buah kepala jatuh dari pohonnya, itu konyol sekali. Coba dipikir, jika sekarang anda minum banyak air, anggap lah 4 galas sampai berasa begah, apa seketika itu juga anda langsung merasa ingin kencing? Kan enggak.

Ginjal itu menyaring darah, bukan menyaring air yang kita minum, dan karena ginjal menyaring darah secara terus-terusan selama 24 jam, tidak peduli saat itu kita berdiri, duduk, jongkok, atau jungkir balik, maka cerita minum sambil berdiri yang bisa mempengaruhi keadaan kandung kemih itu sama sekali tidak benar.

Kedua, penulis mengatakan bahwa sfringer adalah otot yang bisa menyaring air, padahal tidak ada yang namanya sfringer pada sistem ekskresi, itu bisa dipastikan cuma isilah karang-karangan saja, sama seperti istilah penyakit kristal ginjal yang juga tidak dikenal dalam dunia kesehatan. Mungkin yang dimaksud adalah sphincter, tapi sphincter bukan berfungsi untuk menyaring air melainkan berfungsi sebagai katup agar air kencing yang terkumpul di kandung kemih bisa ditahan dan tidak keluar. Fungsinya lebih mirip seperti keran air ketimbang sebagai penyaring.

Pernah menahan buang air kencing? Nah, itulah fungsi dari sphincter. Sedang yang berfungsi menyaring darah (bukan menyaring air yang kita minum) namanya nefron yang ada di ginjal.

Sphincter berfungsi sebagai katup pada saluran kemih, bukan sebagai filter yang menyaring air yang diminum oleh manusia´╗┐

Jadi dari klaim ini bisa diketahui bahwa penulis selain tidak paham mengenai sistem ekskresi pada manusia dia juga berbohong dan mengarang-ngarang istilah. Tidak benar bahwa minum yang dilakukan sambil berdiri bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal.

Menyebabkan Luka Pada Lambung

Artikel NatGeo juga mengklaim bahwa makan sambil berdiri bisa menyebabkan luka pada lambung karena makanan bisa berbenturan dengan lambung saat masuk. Sama seperti klaim pertama, untuk klaim ini penulis juga nampaknya membayangkan bahwa makanan yang masuk ke lambung akan jatuh begitu saja seperti buah kelapa jatuh dari pohonnya. Padahal hal tersebut tidak benar, karena makanan yang masuk ke lambung jatuh secara perlahan karena adanya gerak peristaltik pada kerongkongan.

Gerak peristaltik ini tidak hanya menahan makanan agar tidak jatuh begitu saja ke lambung, namun juga membuat makanan bisa tetap mengarah ke lambung sekalipun orang makan dalam keadaan terbaring atau jungkir balik. Ilustrasi gerak peristaltik ini bisa dilihat pada video di bawah:

Tapi oke lah, anggap lah imajinasi penulis itu benar, bahwa makanan akan langsung jatuh ke lambung begitu ditelan. Tapi coba dipikir, jika logikanya makan akan langsung jatuh ke lambung bisa membahayakan, lantas apa yang membuat makan makanan saat berdiri menjadi lebih berbahaya dibanding makan saat duduk?

Baik makan saat duduk maupun saat berdiri posisi mulut dan lambung sama-sama tegak lurus

Baik makan sambil duduk maupun makan sambil berdiri, posisi mulut, kerongkongan, dam lambung, sama-sama tegak lurus. Kecuali kalau makanannya jatuh ke kaki baru deh argumen ini menjadi logis. Jadi klaim makan sambil berdiri lebih berbahaya karena bisa menyebabkan luka pada lambung selain tidak ilmiah juga tidak logis.

Menyebabkan Kematian Mendadak

Ini merupakan klaim paling lebay dengan penjelasan paling rumit. Banyak istilah yang dicatut yang sayangnya tidak tepat, jadi mirip seperti gaya bicaranya Vicky Prasetyo yang nampak intelek namun sebenarnya tidak paham apa yang dibicarakan.

Penulis mengatakan bahwa makan saat berdiri membuat saraf menjadi tegang, dan konon hanya dengan makan sambil duduk orang bisa tenang yang membuat tubuh siap menerima makanan dengan cepat. Penulis kemudian menjelaskan bahwa saraf yang terpengaruh tersebut adalah saraf kelana yang merupakan saraf otak kesepuluh (mungkin maksudnya saraf kranial), kemudian mengatakan bahwa saraf itu banyak terdapat di lapisan endotel pada usus. Makan sambil berdiri akan membuat makanan cepat masuk, sehingga jatuhnya keras dan menyebabkan vagal inhibition.

Sama seperti klaim kedua, masalahnya penulis kembali berimajinasi bahwa makanan yang masuk dari mulut itu jatuh ke usus seperti buah kelapa jatuh dari pohonnya. Padahal proses makanan dari mulut mencapai usus itu harus melalui pencernaan dari lambung terlebih dahulu. Makanan diproses di lambung agar hancur dan mudah diserap.

Karena makanan melalui lambung terlebih dahulu sebelum masuk ke usus, dan karena proses pencernaan di lambung memerlukan waktu yang lama, maka tidak benar bahwa makan makanan sambil berdiri bisa membuat makanan jatuh menubruk usus secara keras yang menyebabkan kematian.

Kesimpulan

Klaim makan atau minum sambil berdiri yang konon bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal, perlukaan atau tukak pada lambung, serta kematian mendadak adalah klaim yang tidak benar, tak mendasar dan tidak logis. Pengarang klaim jelas sekali tidak paham mengenai sistem pencernaan dan ekskresi pada manusia namun dia mencoba menggunakan istilah-istilah rumit agar pembaca menjadi bingung sehingga mudah percaya dengan klaim yang dia tulis.

Sangat disayangkan National Geographic yang semestinya menyediakan artikel yang mendidik justru menerbitkan artikel konyol seperti ini. Saya pribadi memang sudah lama tidak percaya dengan tulisan National Geographic sejak mereka bukan lagi menjadi lembaga non profit melainkan bagian dari perusahaannya Rupert Murdoch. Di Indonesia sendiri National Geographic menjadi bagian dari Kompas Group, dimana tulisan-tulisannya banyak mengutip artikel dari Kompas, Tribun, termasuk artikel ini yang dikutip dari Tabloid Nakita yang juga merupakan bagian dari Kompas Group.

Mungkin Anda juga menyukai