Benarkah Daging Babi Berbahaya Bagi Kesehatan

Pernahkah anda membaca artikel di blog atau sosial media mengenai bahaya daging babi bagi kesehatan jika dikonsumsi? Benarkan daging babi sedemikian berbahaya hingga perlu dihindari? Nah, sebagai anak yang lahir di keluarga peternak babi yang juga memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, saya akan mencoba membantah klaim yang menurut saya tidak benar, berikut adalah diantaranya (diurut dari yang paling konyol).

Sifat dan Kelakuan Babi Buruk

Sebuah artikel yang ditulis oleh seorang dosen dari Universitas Negeri Jakarta pernah mengatakan bahwa orang yang terbiasa dan gemar makan babi, tidak mudah cemburu bahkan ketika pasangan hidupnya selingkuh. Dia juga mengutip bahwa ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi babi secara terus menerus menyebabkan terjadinya penurunan intelektual lemahnya kepekaan terhadap kehormatan diri.

Terkait tulisan itu, di media sosial juga sempat beredar tulisan yang mengatakan bahwa konsumsi daging babi pada manusia akan menyebabkan sifat babi tersebut menular ke manusia. Konon pernah ada percobaan dimana 1 ekor babi betina dipertemukan dengan 2 babi jantan yang berujung pada kawin gilir, dan ini kemudian diklaim bahwa manusia yang makan babi sifat cemburunya rendah dan mudah melakukan seks bebas.

Sungguh, saya penasaran dengan penelitian tersebut, yang dengan susah payah saya cari ternyata tidak ketemu jurnal ilmiahnya atau paling tidak artikel berita dimana Prof. KH Ibrahim Hosen sendiri yang menceritakan soal penelitian tersebut. Ini penelitian ada atau cuma hoax?

Makanan memang mempengaruhi seseorang, misalnya kalau banyak makan makanan yang mengandung protein, maka kecerdasan anak akan lebih baik, makan makanan berlemak akan membuat orang cenderung gemuk, dsb, tapi hal tersebut hanya berhubungan dengan nutrisi yang dikandung makanan, bukan sifat dari dari hewan yang dijadikan bahan makanan.

Argumen yang mengatakan bahwa sifat makanan bisa menular ke orang yang memakannya itu mengada-ngada, hanya mitos, tidak ada penelitian yang mendukung hal tersebut. Kalau logikanya seperti itu, maka makan madu akan membuat wanita suka digangbang mengingat lebah hanya memiliki satu ratu dengan banyak pejantan, atau kalau mau gesit dan lincah bekerja sekalian makan daging cheetah, atau kalau mau tambah cerdas makan saja daging manusia seperti Sumanto.

DNA Babi Mirip Dengan DNA Manusia

Benar, tapi pada dasarnya semua DNA makhluk hidup tersusun atas unsur yang sama jadi memang masing-masing memiliki kemiripan. DNA sapi, kambing, juga ada kemiripan dengan DNA manusia. DNA babi hanya sedikit (sangat sedikit) lebih mirip dibanding hewan ternak lain, dan perbedaan yang sedikit itu tidak membuat babi menjadi spesial, membuat sifat babi bisa menular ke manusia apabila mengonsumsi dagingnya, atau membuat manusia menjadi kanibal hanya karena makan daging babi.

Babi Itu Makan Apa Saja, Hidupnya Jorok dan Kotor

Ini tidak benar. Sebagai keluarga peternak babi, saya tidak pernah melihat babi saya makan plastik, makan besi, makan bangkai, atau makan pagar tetangga. Babi memang termasuk omnivora, dia bisa makan daging ataupun sayur tapi bukan berarti semua yang dilihatnya akan dimakan.

Babi binatang yang bersih

Babi adalah binatang yang cerdas, kecerdasan babi bahkan bisa dibandingkan dengan anjing dan monyet, adalah tidak mengherankan jika babi menggunakan kecerdasannya untuk menjaga kebersihan dan kesehatannya. Anggapan bahwa babi adalah binatang yang jorok berbanding terbalik dengan fakta dan penelitian ilmiah.

Babi jorok dan kotor adalah karena kondisi kandang yang sempit yang membuat mereka terpaksa hidup dekat dengan kotoran mereka sendiri. Dalam peternakan yang luas babi bisa membedakan mana tempat makan, tidur, dan buang kotoran. Di alam liar babi bahkan sangat higienis. Babi memilih secara hati-hati makanannya, bahkan ada yang mencuci makanannya sebelum dimakan.

Sebuah video dari BBC tentang kehidupan babi liar di Kebun Binatang Besel Swiss sangat menarik untuk disimak, di sana para babi nampak mencuci apel yang akan mereka makan, dan ini merupakan hal yang rutin mereka lakukan. Fenomena ini kemudian mengundang beberapa peneliti, hasil penelitiannya pun menarik, dimana ketika apel yang bersih disodorkan pada babi maka apel itu akan langsung dimakan, namun ketika yang disodorkan adalah apel yang berpasir maka babi akan lebih dulu mencuci apel itu hingga pasirnya hilang sebelum dimakan, hal itu dilakukan bahkan ketika babi dalam keadaan sangat lapar. Ini membuktikan bahwa dalam kondisi yang terdesak sekalipun babi masih memperhitungkan kebersihan makanannya.

Babi makan kotoran?

Tidak benar, sekalipun babi omnivora, babi liar (alami) sekitar 90% makanannya adalah tubuhan, dan seperti yang saya tulis sebelumnya, babi sangat menjaga kebersihan makanannya. Dalam peternakan yang sempit, babi memang sesekali mengendus-ngendus dan mempermainkan kotorannya, tapi tidak sampai dimakan. Karenanya sebagai peternak, kotoran babi harus sering-sering dibersihkan. Saya biasanya membersihkan dengan air, sambil sesekali memandikan babi, kandang dan babinya jadi bersih. Kalau di luar negeri orang menggunakan jerami yang sudah kering, sehingga ketika ada kotoran, kotorannya langsung menempel di jerami dan bisa dibersihkan dengan mudah. Jadi soal kotoran dan joroknya binatang, itu tergantung bagaimana peternaknya saja.

Bicara makan kotoran, sebenarnya kelinci jauh lebih kotor dibanding babi. jika babi hanya mengendus dan memainkan kotoran, kelinci bahkan dengan sengaja memakan kotoran mereka sendiri. Hal ini biasa dilakukan karena makanan yang dimakan kelinci seringkali tidak tercerna dengan sempurna. Pada sapi yang merupakan hewan pemamah biak, mereka akan memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan, dari lambung dibawa ke mulut untuk dikunyah lagi, itu sebabnya mulut sapi terlihat selalu mengunyah sesuatu padahal tidak sedang makan. Beda lagi dengan lele, mereka memakan bangkai dan kotoran hewan lain bahkan kotoran manusia. Tapi dengan kenyataan ini sangat jarang yang mempermasalahkan daging kelinci dan lele.

Babi suka main lumpur?

Benar, tapi lumpur bukan berarti jorok. Terlihat kotor, tapi bukan berarti sumber penyakit. Orang malah ada yang menggunakan lumpur sebagai masker di klinik kecantikan. Babi main lumpur untuk menjaga suhu tubuhnya mengingat bulunya (baca: rambut) sedikit dan mereka tidak memiliki kelenjar keringat, dan hal ini tidak hanya dilakukan oleh babi tapi juga badak dan gajah di alam liar.

Badan penuh lumpur yang dianggap jorok oleh kebanyakan orang secara ilmiah justru menunjukkan bahwa lumpur itu digunakan oleh binatang bukan hanya untuk menjaga suhu tubuh melainkan untuk mencegah dan mengurangi parasit di kulit seperti jamur dan kutu. Jadi ketika babi berkubang di lumpur, mereka sebenarnya bukan mengotori diri, justru sedang mandi.

Babi suka makan sampah?

Nah, definisi sampah disini apa dulu? Saya biasa membuang sisa makanan kemarin untuk babi saya. Sisa nasi dan sisa sayur kalau bisa untuk pakan babi, mengapa mesti dibuang. Bagi saya ini bukan masalah justru baik karena kita bisa mendapatkan daging dengan biaya murah sekaligus bisa mengurangi sampah organik di rumah tangga, lagipula yang nanti kita makan kan daging babi, bukan sisa makanan yang telah kita buang. Babi bisa mengolah sisa makanan menjadi daging bukan berarti nanti kita makan sisa makanan, sama seperti tumbuhan bisa mengolah pupuk kandang menjadi buah bukan berarti ketika makan buah itu sama artinya kita makan pupuk kandang yang dibuat dari kotoran binatang.

Babi suka makan tanah?

Tidak tepat, yang mereka cari sebenarnya bukan tanah, tapi kandungan mineralnya dalam tanah. Hal ini biasa dilakukan hewan kok karena makanan yang mereka makan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mineral tubuh mereka. Sapi pun biasa menjilati tanah secara rutin untuk memenuhi asupan mineralnya. Untuk hewan dalam kandang, biasanya yang dimakan itu kandangnya yang terbuat dari bata, karenanya agar kandangnya tidak dirusak, hewan perlu diberi suplemen mineral.

Babi Tidak Punya Leher

Wah, yang ini ngasal sekali. Babi ya jelas punya leher (emangnya tuh kepala nempel di patat?). Hanya karena tidak ada lekukan antara moncong mulut dan dada, bukan berarti mereka tidak punya leher. Anatominya memang seperti itu, sama seperti badak dan gajah. Anatomi babi yang seperti ini bukan alasan untuk menilai apakah suatu hewan boleh dikonsumsi atau tidak. Tuh, ikan juga tidak terlihat batas lehernya dimana, apa lantas ikan teri tidak boleh dikonsumsi?

Ada tidaknya lekuk leher biasanya dihubungkan dengan pemisahan darah saat pemotongan hewan berlangsung. Konon babi yang tidak punya leher darahnya sulit dikeluarkan dibanding hewan dengan lekuk leher, padahal ya sama saja. Di negara maju, pemotongan babi dilakukan dengan cara digantung kaki belakangnya, disembelih, maka darahnya akan lebih banyak keluar, cara ini lebih efektif dibanding penyembelihan secara tradisional pada hewan lain di Indonesia.

Lagipula, apa masalahnya dengan konsumsi darah? Hanya kultur Islam yang melarang konsumsi darah, sedang hampir semua kultur lain di dunia memperbolehkannya. Di Eropa darah dijadikan bahan sosis, di Thailand dijadikan sate, sedang di Bali sendiri darah diolah dijadikan lawar.

Daging Babi Banyak Mengandung Racun

Konon daging babi mengandung jauh lebih banyak racun dibandingkan daging hewan lain, hal tersebut terjadi karena pencernaan babi yang cepat sehingga tidak mampu membuang racun dengan sempurna, juga karena babi memiliki sedikit kelenjar keringat di mana keringat dianggap sebagai salah satu cara tubuh membuang racun dalam tubuh.

Klaim tersebut tidak benar. Tidak ada penelitian yang menyebut hal demikian. Cepat atau tidaknya makhluk dalam mencerna makanan tidak ada hubungannya dengan kemampuannya untuk membuang racun. Kalau pencernaannya cepat, artinya metabolismenya juga cepat, dan akibatnya sistem ekskresinya juga cepat.

Saya kurang begitu paham bagaimana sistem pencernaan yang cepat dihubungkan dengan kemampuan membuang racun, bukannya kalau pencernaannya lambat maka tubuh cenderung malah menyerap banyak sisa makanan di usus ya? Logikanya gini deh. Bayangkan jika manusia tidak buang air besar dalam waktu yang lama, maka sisa makanan di usus besar akan diserap banyak oleh tubuh, akibatnya feses akan padat, susah buang air besar, dan tentu saja itu artinya tubuh banyak menyerap makanan yang seharusnya segera dibuang.

Soal kelenjar keringat, memang benar bahwa babi memiliki sedikit kelenjar keringat, tapi kebanyakan mamalia lain juga sama seperti itu. Sapi, kambing, domba, badak, gajah, semua binatang itu memiliki kelenjar keringat yang sedikit, karenanya di alam liar hewan tersebut juga hidupnya berkubangan dengan lumpur, hanya manusia satu-satunya spesies kera besar (apes) yang memiliki banyak kelenjar keringat.

Minimnya keringat juga bukan berarti bahwa suatu makhluk menyimpan banyak racun dalam tubuhnya. Keringat pada dasarnya berfungsi hanya sebagai alat untuk mendinginkan suhu tubuh, bukan sebagai detoksifikasi. Air keringat hanya terdiri dari 99% air dan sisanya adalah garam mineral. Kebanyakan zat makanan yang dikategorikan beracun bagi tubuh hanya bisa larut dalam lemak dan minyak, bukan di air. Racun dalam tubuh mamalia hampir semuanya diproses di hati dan ginjal, bukan di kulit.

Daging Babi Mengandung Parasit Berbahaya

Ketika ditanya mengapa daging babi dikatakan berbahaya bagi kesehatan maka semua jenis parasit disebutkan, padahal tidak semua yang disebut merupakan parasit yang bisa menular dari babi ke manusia, dan di antara parasit tersebut yang paling sering dicatut namanya adalah cacing pita, seakan cuma babi yang menjadi tempat perantara parasit tersebut (dalam kesehatan disebut dengan istilah hospes), padahal yang mengadung parasit bukan hanya babi saja, hewan lain juga bisa.

Sapi misalnya, bisa menjadi hospes untuk beberapa parasit seperti cacing hati (walau memerlukan keong sebagai hospes perantara), cacing Gongylonema scutum yang terdapat pada mulut sapi namun juga bisa ditemukan pada mulut manusia, termasuk juga cacing pita. Jika cacing pita pada babi namanya Taenia solium, pada sapi namanya Taenia saginata.

Taenia saginata, cacing pita pada sapi yang juga bisa menular pada manusia.

Babi Menularkan Bakteri dan Virus

Selain mengandung parasit, babi dikatakan berbahaya karena mengandung bakteri dan virus, dimana yang paling ditakuti adalah virus H1N1 atau yang lebih dikenal dengan istilah flu babi (swine influenza). Virus ini dianggap sangat berbahaya karena pada tahun 2009 sempat terjadi pandemi yang menyebabkan ribuan orang mengalami kematian di seluruh dunia.

Mengenai flu babi, perlu diluruskan bahwa flu babi tidak ditularkan melalui konsumsi daging babi melainkan melalui interaksi dengan babi yang masih hidup, jadi orang yang berisiko bukan pemakan daging babi melainkan pekerja peternakan, pekerja rumah potong babi, dan masyarakat di sekitar peternakan dan rumah potong tersebut.

Babi memang mengandung bakteri dan virus, namun hampir semua hewan juga sama. Sapi, kambing, domba, ayam, ikan, bahkan telur juga bisa mengandung bakteri yang membahayakan kesehatan manusia. Sapi misalnya berpotensi mengandung bakteri Bacillus anthracis yang dapat menyebabkan penyakit antraks, dan justru penyakit antraks ini yang bisa menular melalui konsumsi daging. Telur ayam misalnya, bisa mengandung bakteri Salmonella yang merupakan penyebab penyakit tifus.

Perlu diketahui juga, bahwa ada penyebab penyakit yang lebih mematikan dibanding bakteri maupun virus, yaitu prion. Prion ini hanya sejenis proten, tidak mampu bereplikasi, namun bisa mengubah protein lain menjadi seperti dirinya, sehingga apabila masuk ke tubuh protein dalam tubuh akan diubah menjadi prion tersebut dan apalagi telah terakumulasi dalam jumlah banyak akan menyebabkan penyakit. Prion tidak dapat dimusnahkan dengan panas atau radiasi, jadi tidak ada solusi untuk makanan yang sudah terkontaminasi oleh prion. Prion menyebabkan berbagai penyakit yang umumnya menyerang sistem saraf dan angka mortalitasnya mencapai 100%, artinya semua orang yang terjangkit oleh prion berujung pada kematian, tidak ada satupun yang pernah bertahan hidup.

Nah, hingga kini belum tercatat ada penyakit akibat prion yang menular dari babi ke manusia, yang ada justru adalah penyakit akibat konsumsi daging sapi, penyakit tersebut adalah bovine spongiform encephalopathy (BSE) atau yang lebih dikenal dengan nama penyakit sapi gila. Seperti halnya HIV, masa inkubasi  BSE sangat lama sekitar 2,5 hingga 8 tahun, jadi sulit dideteksi apakah sapinya telah terjangkit BSE atau tidak, dipotong tahu-tahu sudah menular. Tercatat BSE pernah menjangkiti 177 orang di Inggris dan 55 orang di negara lainnya dan seperti yang saya tulis di awal, semua yang terjangkit penyakit oleh prion akhirnya meninggal.

Daging Babi Penyebab Kanker

Konon ada penelitian yang mengatakan bahwa daging babi merupakan penyebab kanker colon dan anus. Saya tidak menyangkal hal ini, namun fakta yang seringkali ditutupi adalah bahwa kesimpulan penelitian tersebut (silahkan baca artikel Harvard Health Publications dan NCBI) tidak terbatas pada daging babi saja melainkan pada semua jenis daging merah olahan, apakah itu daging babi, daging sapi, daging domba, daging kambing, dsb. Artinya, jika memang ingin menghindari kanker colon dan anus, maka konsumsi daging sapi dan kambing pun semestinya dihindari.

Pada dasarnya konsumsi daging merah bisa meningkatkan risiko kanker, bukan terbatas pada kanker usus dan anus saja, semakin merah daging, artinya kandungan myoglobin dalam dagingnya makin tinggi, itu juga berarti bahwa risiko kankernya juga cenderung lebih tinggi. Nah, sekarang bandingkan saja warna antara daging babi dengan daging lain. Kenyataannya daging babi warnanya cenderung tidak lebih merah dibanding daging hewan ternak lain seperti sapi dan kambing.

Perbandingan warna daging sapi (beef), daging sapi muda (veal), dan daging babi (pork)

Mengandung Banyak Lemak

Benar bahwa babi mengandung banyak lemak dan kolesterol, tapi perlu diketahui bahwa tidak semua lemak dan kolesterol itu buruk, bahkan keduanya merupakan zat makanan penting bagi sistem imun (kekebalan) dan metabolisme tubuh. Selain itu, belakangan banyak penelitian yang justru meragukan bahaya konsumsi lemak dan kolesterol. Penelitian di masa lalu yang menyatakan bahwa konsumsi lemak sebagai penyebab berbagai penyakit degeneratif konon adalah penelitian yang disponsori oleh produsen gula, sementara gula dianggap lebih berbahaya dibanding lemak.

Di daerah urban, masyarakat kelas menengah ke atas yang ingin memperoleh tubuh sehat dan ideal justru banyak yang menjalani diet tinggi lemak atau yang dikenal dengan diet ketogenik, dan banyak di antara mereka yang berhasil.

Babi, sekalipun kandungan lemaknya tinggi ternyata kandungan lemak jenuh babi lebih rendah dibanding dibanding daging merah lain seperti lemak sapi atau lemak domba. Lemak babi bukan hanya lebih sehat, bahkan lemak babi dianggap salah satu makanan paling bergizi. Lemak babi kaya akan vitamin B dan mineral baik serta tinggi asam oleat yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, kulit, serta hormon.

Mana Yang Lebih Sehat?

Pertanyaan mana daging yang lebih sehat adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Tapi tidak perlu jauh-jauh, bandingkan saja kesehatan antara negara Eropa dan Asia Timur yang penduduknya makan babi dengan penduduk Timur Tengah yang umumnya tidak makan babi karena alasan kepercayaan. Apa iya penduduknya lebih sehat? Lebih giat bekerja? Lebih produktif?

Salah satu indikator umum untuk menilai kesehatan adalah dengan melihat usia harapan hidup penduduk tersebut. Pada sensus tahun 2010 Bali merupakan provinsi dengan usia harapan hidup penduduknya paling tinggi ke 4 di Indonesia dan Papua tertinggi ke 3 di Indonesia setelah Jakarta dan Yogyakarta. Lho, kok bisa, padahal Bali dan Papua penduduknya banyak yang makan babi?

Belum ada penelitian atau data statistik yang menunjukkan bahwa konsumsi babi berpengaruh buruk pada kesehatan. Daging babi tidak selalu lebih sehat atau lebih tidak sehat dibanding daging yang lain. Faktor seperti pemberian makanan pada ternak, kondisi kebersihan ternak, cara pengolahan daging, cara memasak dan penyajian, hingga pola makan menjadi faktor yang lebih penting ketimbang mempertanyakan dagingnya berasal dari hewan mana.

Babi dan Manfaatnya

Sudah bukan rahasia bahwa babi punya banyak peran dan manfaat dalam kehidupan manusia. Christien Meindertsma yang merupakan seorang penulis buku pernah melakukan penelusuran untuk mengetahui kemana perginya bagian tubuh babi setelah keluar dari rumah potong. Hasilnya sangat mengejutkan, ternyata hampir tidak ada bagian dari babi yang terbuang percuma dan bagian dari tubuh babi tersebut digunakan dalam berbagai industri, mulai dari pembuatan cat, filter rokok, hingga militer.

Dalam dunia kesehatan sendiri, babi berguna untuk pembuatan vaksin, obat, kapsul obat, hingga transplantasi organ yang kini sedang marak dikembangkan. Di masa depan penderita penyakit jantung dan diabetes mungkin bisa bertahan hidup melalui transplantasi organ dengan bantuan babi.

Hal yang membuat babi istimewa adalah kemampuannya menghasilkan daging dengan cepat dan bisa memakan makanan sisa, hal ini membuat harga babi menjadi relatif lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Bandingkan dengan antara babi, kambing, dan sapi, berapa tahun waktu yang diperlukan untuk menghasilkan 1 kg daging? Berapa pakan dan dan air yang dihabiskan? Vaksin dan obat misalnya, keduanya memang bisa dibuat dengan zat dari hewan lain selain babi, tapi harganya jauh lebih mahal mahal, yang jika digunakan akan membebani keuangan masyarakat dan negara.

Karena manfaat babi begitu besar, maka sayang sekali jika tidak dimanfaatkan.


Kesimpulan

Tiap makanan mengandung risiko tersendiri, apakah itu daging sapi, daging babi., atau daging ayam. Jangankan daging yang rentan terhadap penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia), sayur saja berpotensi mengandung parasit dan pestisida. Karenanya, yang lebih penting diperhatikan daripada sekadar memperdebatkan makan babi atau tidak makan babi adalah bagaimana cara kita memilih bahan makanan yang berkualitas, bagaimana cara mengolah bahan makanan tersebut sehingga risiko penyakit akibat makanan itu bisa diminimalisir, serta bagaimana mengatur pola makan agar kandungan gizi makanan yang dikonsumsi bisa seimbang.

Babi sendiri memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Babi digunakan dalam dunia kesehatan, kosmetik, pakaian, dimana karena babi mampu menghasilkan daging dengan cepat, maka babi merupakan komoditas yang harganya relatif murah dan lebih ramah lingkungan dibanding hewan lain seperti sapi dan kambing.

Masalah mau makan babi atau tidak, itu urusan pribadi. Ada muslim yang tidak makan babi, ada Hindu yang tidak mau makan daging sapi, ada Yahudi yang tidak mau makan udang, ada penganut Jainisme yang tidak mau makan daging sama sekali. Namun apapun pilihannya, apapun keyakinannya, jangan sampai memberikan informasi yang tidak benar sehingga membohongi publik hanya untuk melakukan pembenaran terhadap keyakinan tersebut.