Apakah Mungkin Teror Bom di Surabaya Adalah Rekayasa?

Pasca kejadian pengeboman di beberapa tempat di Surabaya, seperti biasa, muncul komentar dari beberapa orang terutama dari kelompok muslim konservatif yang seakan ingin mengatakan bahwa kasus teror tersebut hanya rekayasa. Saya katakan “seperti biasa” karena pola ini sudah saya lihat sejak kasus pengeboman di Jakarta tahun 2009.

Untuk kasus pengeboman di Surabaya sempat muncul isu bahwa tersangka teroris yang merupakan satu keluarga itu awalnya hanya membawa paket barang, dimana karena barangnya harus diantar ke tiga tempat yang berbeda dalam waktu yang cepat maka mereka kemudian berpencar dan tiba-tiba oleh “pelaku sebenarnya” kemudian paket diledakkan dengan menggunakan remote kontrol. Teori konspirasi pun dibangun, bahwa penjahat yang asli sengaja ingin memperburuk citra Islam, ada juga yang berteori bahwa hal ini adalah rekayasa pemerintah untuk mengalihkan isu, rekayasa polisi agar bisa mendapat kucuran dana pemerintah, atau bagian dari konspirasi Amerika Serikat.

Status Aris Munandar Tentang Kasus Terorisme di Surabaya

Status salah satu teman saya di Facebook. Mengajak untuk tidak berprasangka buruk pada terduga teroris tapi berprasangka buruk pada aparat penegak hukum dan media.

Oke, jika pertanyaannya adalah apakah mungkin kasus bom di Surabaya adalah rekayasa pemerintah dan polisi? Saya jawab “mungkin saja”. Apakah mungkin jika hal tersebut adalah rekayasa kaum anti Islam untuk menumbuhkan sikap islamophobia di masyarakat? Jawabannya juga sama, yaitu “mungkin saja”

Yang namanya kemungkinan pasti ada. Bahkan jika ditanya apakah pelaku teror di Surabaya adalah alien yang ingin menjajah bumi, jawabannya juga “mungkin saja”. Yang kemudian menjadi permasalahan adalah seberapa besar kemungkinan tersebut bisa menjadi sebuah kebenaran?

Prinsip Occam Razor

Dalam menjelaskan suatu kasus, kita bisa menyampaikan banyak hipotesis, dugaan, teori, atau apa lah namanya, namun tentunya tidak semua dugaan atau teori bisa diterima. Salah satu cara untuk memilah mana hipotesis tersebut adalah dengan prinsip Occam Razor, dimana dalam prinsip ini, teori atau hipotesis yang lebih sederhana, tidak berbelit, dan mudah dijelaskan, itulah yang dianggap lebih logis, dan yang lebih logis itu kemungkinan lebih benar.

Sebagai contoh, ada kasus dimana uang yang ditaruh dalam brankas sebuah perusahaan hilang. Brankas dalam keadaan utuh, dan kejadiannya terjadi saat jam kerja. Siapa yang mungkin menjadi pelaku pencurian tersebut?

  1. Pencurinya adalah Tuyul atau Babi Ngepet
  2. Pencurinya adalah salah satu masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan.
  3. Pencurinya adalah orang dalam atau salah satu karyawan dari perusahaan itu sendiri.

Untuk membuktikan bahwa uang itu dicuri oleh Tuyul, maka setidaknya harus dibuktikan dulu bahwa sosok sejenis Tuyul itu memang ada, bukan sekadar fiksi. Kalau sosok Tuyul saja sampai saat ini belum pernah dilihat, dilihat oleh publik, hanya berdasarkan testimoni satu dua orang, maka tentu sulit membuktikan teori ini. Pun kalau Tuyul kemudian terbukti ada, maka harus dibuktikan lagi apakah cara Tuyul dalam mencuri bisa cocok dengan kondisi dan situasi di tempat pencurian uang di perusahaan. Misalnya jika Tuyul hanya bisa melewati tempat sempit tapi tidak bisa menembus tembok, maka diukur dulu apakah celah pada brankas  bisa dilewati tuyul atau tidak, dst. Pokoknya nanti akan ada banyak hal yang perlu dibuktikan dari teori ini, pun prosesnya berbelit.

Pada teori kedua, jika pelakunya benar adalah orang sekitar, bukan karyawan, maka perlu dijelaskan lagi bagaimana karyawan yang kerja di saat kejadian bisa tidak sadar dengan keberadaan pelaku. Bagaimana pelaku bisa mendapatkan izin satpam, bagaimana pelaku bisa tahu kode pada brankas, dst.

Teori ketiga adalah teori yang paling mudah dijelaskan. Jika pelakunya memang orang dalam maka memang mungkin dia bisa melewati penjaga dan bisa tahu kode brankas, maka bisa dikatakan teori ini yang paling sederhana, tidak berbelit, mudah dijelaskan, sehingga berdasarkan prinsip Occam Razor teori ini merupakan teori yang paling logis dan masuk akal.

Kasus Pengeboman di Surabaya

Kembali ke kasus pengeboman yang terjadi di Surabaya. Oke, boleh saja mengatakan bahwa teorinya adalah non muslim, tapi teori ini akan butuh banyak penjelasan dan pembuktian lain. Misalnya jika memang pelakunya adalah non muslim, maka bagaimana bisa KTP terduga teroris tersebut bertuliskan “Islam”? Bagaimana mungkin tetangga korban mengaku bahwa terduga rajin sholat ke masjid? Atau jika terduga memang beralih keyakinan, maka sejak kapan dan apa yang menyebabkan terduga beralih keyakinan? Apa motifnya melakukan terorisme dan apa keuntungan yang dia dapat secara personal atas tindakannya tersebut? Sederet pertanyaan lain yang butuh pembuktian secara rumit bahkan ajaib diperlukan untuk bisa menyatakan bahwa teori tersebut benar.

Apa mungkin seorang non muslim begitu berniat untuk menghapal Al Quran?

Boleh juga mengatakan bahwa terduga teroris adalah orang yang dijebak dengan modus bom yang disamarkan sebagai sebuah paket kiriman, tapi teori ini juga nanti akan membutuhkan pembuktian dan penjelasan yang berbelit. Misalnya, jika benar terduga mengira bom yang dia bawa adalah paket kiriman, maka dengan asumsi terdakwa membawa paket dengan cara ditenteng, maka bagian tubuh yang paling rusak adalah bagian pinggang dan tangan, pun jika asumsinya terdakwa membawa paket dengan cara dipeluk, maka bagian tubuh yang paling rusak adalah bagian dada. Kenyataannya, bagian yang paling rusak adalah bagian perut bagian depan. Selain itu juga, perlu dijelaskan mengapa terdakwa perlu berlari ketika mereka dipanggil oleh petugas keamanan?

Penjelasan akan kasus terorisme di Surabaya akan lebih sederhana dan mudah dijelaskan jika terduga memang diasumsikan sebagai teroris yang mengatasnamakan agama. Agama yang menjanjikan kebahagiaan di akhirat memang memungkinkan orang nekad untuk mati, pun dari pengakuan tetangga terdakwa, keluarga terdakwa ini memang punya keyakinan yang tinggi akan agama. Orang yang lari mencurigakan ketika dipanggil petugas memang kemungkinan punya niatan jahat. Jika asumsinya pelaku memang teroris maka memang wajar jika bom tersebut disembunyikan di perut agar tidak mencurigakan (dikira buncit atau hamil). Berdasarkan kemungkinan yang lebih sederhana itu maka berdasarkan prinsip Occam Razor, kita bisa mengatakan bahwa dugaan terorisme di Surabaya itu memang aksi teror bermotif agama lebih logis dan masuk akal dibanding teori konspirasi yang menyatakan bahwa kejadian tersebut hanya sebuah rekayasa.

Kembali ke judul, jadi apakah mungkin kejadian teror di Surabaya adalah sebuah rekayasa? Jawabannya saya: Mungkin, tapi jauh lebih mungkin jika kejadian tersebut memang terorisme yang mengatasnamakan agama, sehingga memilih mengatakan bahwa kasus tersebut adalah rekayasa ketimbang memilih untuk mempercayai bahwa terorisme atas nama agama itu memang benar terjadi, adalah sebuah pilihan yang tidak masuk akal.