Apa Agama Saya?

Agama dan kepercayaan adalah topik yang cukup sering saya bahas dalam blog ini. Berkaitan dengan hal tersebut ada pertanyaan yang cukup sering ditanyakan oleh para pengunjung blog ini, yaitu mengenai apa agama yang saya anut. Ya, mungkin ada yang bingung dan penasaran, karena ketika saya membahas agama yang umumnya berbau kritik dan hampir semua agama (yang diakui di Indonesia) pernah saya saya kritik. Saking penasarannya bahkan sampai ada yang iseng mencari tahu di Google apakah saya ini seorang ateis atau bukan. LOL

Otokritik adalah hal yang biasa

Sebelumnya, perlu saya jelaskan bahwa apapun keyakinan saya itu tidak menghalangi saya untuk mengkritik sesuatu yang saya anggap janggal. Otokritik (mengkritik diri sendiri) bagi saya adalah hal biasa dan memang perlu dibiasakan untuk melatih kejujuran dan agar menemukan solusi atas permasalahan. So, jangan merasa aneh ketika saya mengkritik apa yang menjadi bagian saya, saya justru merasa malu ketika kritik dimulai olah pihak luar. Ibarat ketika kentut saat acara kumpul-kumpul, mending ngaku duluan sebagai orang yang kentut ketimbang pura-pura tidak tahu dan ternyata ketahuan sama orang lain dengan detektor kentut. šŸ˜€

Siapa saya?

Saya lahir di Bali dalam keluarga yang ber-KTP Hindu maka saya pun hingga kini masih ber-KTP Hindu. Walau saya tidak setuju dengan pencantuman agama dalam KTP dan tidak setuju jika negara ikut campur masalah kepercayaan warga negaranya, tapi ya begitulah, secara administratif dan hukum saya terikat pada aturan negara yang terkait dengan Hindu selain aturan adat seperti masyarakat Bali pada umumnya.

Semasa kecil saya suka dengan cerita-cerita berbau mistis, mungkin karena pengaruh kakek saya yang konon pernah menjadi seorang balian (istilah untuk dukun di Bali). Saya masih ingat ketika kecil saya sering menyembah patung pemberian kakek saya sendiri dan membaca buku rajah yang dia wariskan, walaupun tidak tahu apa isinya. Saya juga sering berimajinasi bahwa saya punya kekuatan mistis (karena pengaruh anime dan film horor Cina juga), dan sering bermimpi buruk mengena hantu.

Seiring waktu, karena logika saya semakin terasah serta banyak membaca buku mengenai sains terutama mengenai astronomi dan evolusi serta buku-buku sejarah, makin lama saya makin meragukan hal-hal berbau mistis tersebut yang juga berimbas pada pandangan saya mengenai agama. Sering saya bertanya dalam hati apakah agama itu benar atau tidak, apakah tuhan ada atau tidak, hingga saat SMA saya sangat jarang melakukan aktivitas sembahyang. Sembahyang di sekolah paling hanya ketika menjelang ujian saja.

Mengenai agama lain, awalnya saya punya pandangan negatif pada agama lain terutama Islam, hal tersebut karena sayaĀ melihat kelakukan muslim yang dalam pemberitaan sering melakukan aksi kekerasan terutama kasus Mei 1998, terlebih setelah peristiwa Bom Bali. KemudianĀ ada beberapa peristiwa yang mengubah pandangan saya, yaitu ketika pemilu tahun 2000 dimana ayah saya ternyata lebih memilih Gus Dur dibanding Megawati, sekalipun di Bali saat itu (hingga sekarang pun masih) sedang semangatnya mendukung Megawati. Lho kok bisa-bisanya ayah saya mendukung tokoh agama lainĀ dari partai Islam, kan aneh. Di SMA kelas 10 saya juga berteman baik dengan Diah dan Nazriah yang merupakan seorang muslim, yang membuat saya punya pandangan bahwa muslim tidak seburuk yang saya kira. Bahkan sikap mereka lebih baik dibanding teman satu kelas lain yang berasal dari Kota Karangasem.

Melihat Gus Dur yang ternyata mampu menjadi presiden dengan baik, serta bergaul dengan teman muslim yang ternyata baik juga, membuat pandangan saya berubah menjadi pandangan bahwa semua agama pada dasarnya sama-sama mengajarkan kebaikan. Saya mulai terbuka pada agama lain, bahkan di tahun 2008 saya pernah berpacaran dengan seorang muslim dan kristiani, sayangnya kedua hubungan itu hanya berlangsung dalam waktu sangat singkat (NB: putusnya bukan karena agama).

Sejak tahun 2010 aktivitas internet saya yang dulunya berkutat dengan browsing artikel menjadi “teracuni” dengan kehadiran sosial media terutama Facebook, dan nyasar lah saya di sebuah fanpage bernama Debat Islam Kristen (DIK) disini fanpage ini lah saya melihat perdebatan yang sengit antar kedua umat beragama, saling menunjukkan kelemahan satu dengan yang lain, dan saya mulai tertarik mempelajari bagaimana sesungguhnya kedua agama. Di sosial media pula saya mulai mengenal komunitas orang-orang yang tidak beragama, sebagian menyebut diri mereka freethinker, agnostik, ateis, dsb, dimana kesemua pengalaman itu ikut mempengaruhi keyakinan saya sekarang.

Kepercayaan itu bersifat personal

Pertanyaan mengenai “apa agama saya” sebenarnya bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab, karena menurut saya keyakinan pada tiap orang itu unik. Sulit menggolongkan seseorang ke dalam agama tertentu ketika kenyataannya orang yang mengaku beragama ABC belum tentu punya pandangan sama dengan orang lain yang juga mengaku beragama ABC. Jadi jika saya misalnya mengklaim diri beragama Hindu, maka belum tentu Hindu saya sama dengan Hindu orang lain. Bahkan dalam komunitas ateis pun seringkali ada perbedaan pendapat, dimana pandangan ateis yang satu berbeda dengan ateis yang lain dalam menyikapi agama dan hal-hal spiritual.

Bagi saya penggolongan keyakinan seseorang ke dalam agama dan sekte tertentu adalah pandangan yang sempit, seakan mengatakan bahwa Buddha, Hindu, Islam Kristen, dan agama lain itu hanya punya satu pandangan yang seragam, padahal agama itu sifatnya multi tafsir sehingga sangat wajar ada perbedaan dalam tiap individu yang menafsirkan agama tersebut. Selain itu, dalam perkembangannya ajaran agama itu memang saling mempengaruhi satu sama lain. Islam di Jawa dipengaruhi oleh Siwa Buddha pada masa kerajaan Majapahit. Islam di Timur Tengah dipengaruhi oleh kepercayaan lama orang Quraish dan Kristen Ortodoks. Kristen di Eropa dipengaruhi oleh ajaran Yahudi, Romawi, dan Yunani.

Perbedaan kepercayaan ada di tingkat personal. Tiap orang memiliki kepercayaan yang unik.

Karena keyakinan pada tiap manusia itu unik, maka saya berusaha untuk tidak menggolongkan diri saya atau orang lain dalam agama tertentu, jadi kalau ditanya apa agama saya, sebut saja “Agamanya Candra Wiguna“. Walau demikian saya akan sedikit memaparkan mengenai pandangan saya terhadap agama dan ketuhanan.

Pandangan mengenai tuhan

Percaya dengan tuhan? Apakah tuhan ada? Sebelum menjawab ini maka kita harus sepakat dulu mengenai apa definisi tuhan. Jika yang dimaksud tuhan adalah entitas tertinggi maka saya setuju bahwa tuhan itu ada, namun jika yang dimaksud tuhan adalah sosok personal yang menciptakan alam semesta maka saya tidak setuju dengan hal tersebut.

Bagi saya alam semesta tidak diciptakan, sesuai hukum kekekalan massa dan energi, alam semesta itu emang sudah ada dari sonony, alam semesta tidak pernah tidak ada dan akan selalu ada. Yang saya maksud sebagai entitas tertinggi, tiada lain adalah alam semesta itu sendiri, dengan kata lain saya menganut paham panteisme, bahwa alam semesta adalah tuhan, kita (manusia) adalah bagian dari tuhan itu sendiri.

Bagaimana mungkin alam bisa ada tanpa ada pencipta?

Ya mungkin saja, mereka yang percaya tuhan personal seperti Allah, Yahweh, Siwa, Zeus, dan tuhan personal lain itu percaya bahwa tuhan mereka bisa ada tanpa diciptakan oleh sosok personal yang lain, mengapa mereka menolak teori jika alam semesta juga tidak diciptakan?

Tuhan kan pencipta, bukan ciptaan, jadi tidak perlu sosok pencipta lain

Begitu kira-kira jawaban umum yang sering saya dengar, tapi pembagian pencipta dan ciptaan itu kan karang-karangan mereka sendiri. Mereka membuat asumsi bahwa pencipta itu sifatnya tidak mungkin diciptakan oleh sosok lain, kemudian seenaknya mengarang cerita bahwa alam semesta diciptakan oleh sosok personal tanpa landasan logis apapun apalagi bukti ilmiah. Mereka menganggap bahwa pertanyaan mengenai siapa pencipta tuhan personal tidak perlu dicari tahu karena tuhan personal bersifat gaib. Pokoknya kalau jawabannya gaib, maka masalahnya selesai.

Hal-hal yang gaib mungkin membuat rasa penasaran seseorang terpuaskan. Orang yang tidak tahu bagaimana makhluk bisa hidup dan mati kemudian mengarang konsep roh dan jiwa yang sifatnya gaib, orang yang tidak tahu proses penciptaan alam kemudian mengarang konsep tuhan yang juga sifatnya juga gaib, semua dilakukan demi menjawab rasa penasaran manusia. Tapi sayangnya tidak semua orang puas hanya dengan jawaban, beberapa orang butuh tidak sekadar jawaban tapi jawaban yang benar.

Pertanyaan mengenai bagaimana pelangi bisa ada bisa dijawab dengan mengatakan bahwa pelangi adalah ciptaan tuhan dengan mantra sim salabim abra kadabra. Anak kecil bisa puas dengan jawaban ini, tapi tidak bagi orang dewasa yang haus dengan kebenaran. Mereka yang haus kebenaran butuh jawaban yang disertai dengan alasan logis dan bukti ilmiah, dan memang secara ilmiah terbukti pelangi bisa ada tanpa memerlukan keterlibatan sosok personal yang sifatnya gaib.

Faktanya semakin jauh perkembangan pengetahuan masyarakat maka keyakinan mengenai tuhan personal juga semakin pudar. Hal ini sangat wajar karena rasa penasaran orang semakin terjawab dengan sains, dan sains membuktikan bahwa memang tidak ada keterlibatan hal-hal gaib dalam berbagai fenomena alam. Petir yang konon berasal dari pukulan palu Zeus ternyata bersumber dari gesekan awan hujan yang bermuatan listrik, hujan yang konon dibawa oleh Dewa Indra ternyata hanya wujud kondensasi dari uap air yang ada di angkasa, bintang-bintang yang konon adalah diciptakan Allah sebagai alat pengusir setan ternyata hanya benda angkasa yang sejenis dengan matahari. Peran tuhan personal dalam menjelaskan fenomena alam semakin sedikit, seiring terjawabnya rasa penasaran manusia dengan sains. Proses terjadi alam semesta memang belum terjawab, namun jika fenomena alam lain terbukti tidak memerlukan keterlibatan tuhan personal, maka saya pikir tidak ada alasan untuk mempertahankan hipotesis bahwa proses terjadinya alam juga memerlukan tuhan personal.

Apakah masih menyembah tuhan?

Pada umumnya penganut panteisme tidak memuja tuhan personal, namun di sini uniknya kepercayaan saya. Saya tidak percaya dengan konsep tuhan personal namun saya masih memuja tuhan dalam filosofi Hindu. Contoh, saya masih memuja Saraswati ketika saya menemui masalah dalam hal akademik, saya juga sering melafalkan mantra Tri Sandya ketika sedang merasa terancam atau dalam situasi yang berbahaya. Saya tidak memungkiri bahwa saya merasa nyaman dan tenang berkat pemujaan tersebut.

Jadi apakah pemujaan pada tuhan hanya dianggap sebagai metode menenangkan diri?

Iya, akal saya mengatakan demikian. Namun kenyataannya (mungkin terjadi secara kebetulan atau saya melakukan cherry picking secara tak sadar), pemujaan dan doa yang saya lakukan seringkali berhasil dikabulkan. Ada beberapa peristiwa yang benar-benar sulit dilupakan, misalnya ketika saya berdoa agar buku agama saya di SD yang hilang bisa ditemukan, eh besoknya kakak pertama saya yang sekolah di kota pulang kampung dan mengatakan bahwa buku agama saya tertinggal di tasnya, ada juga ketika saya dinyatakan lulus sebagai cadangan saat penerimaan mahasiswa dan berdoa agar ada lulusan cadangan bisa diterima, eh besoknya ada pengumuman bahwa semua lulusan cadangan diterima, dan banyak peristiwa lain yang sulit dilupakan. Itu sebabnya sampai sekarang pun saya masih sering melakukan pemujaan terhadap tuhan dalam filosofi Hindu.

Aneh memang, tapi saya sendiri tidak ambil pusing dengan hal tersebut, karena toh tuhan itu terlalu absurd untuk dibicarakan, dan bagi saya konsep dasar ketuhanan tidak bergitu berhubungan dengan masalah sosial, jadi tidak terlalu penting untuk dibahas. Nikmati saja lah.

Pandangan mengenai agama

Pandangan mengenai agama lebih penting dibanding konsep dasar ketuhanan, karena dalam agama tidak hanya menyangkut hal-hal spiritual yang sifatnya gaib namun juga menyangkut masalah sosial, politik, ekonomi, hingga sains yang tidak hanya mempengaruhi kehidupan pribadi umatnya juga orang lain di sekitar umat agama tersebut.

Secara umum saya memandang agama sebagai sebuah kebudayaan, sebagai sebuah hasil pemikiran manusia. Yahudi ya merupakan kebudayaan suku Yahudi, Kristen ya lahir dari pemikiran Yesus dan murid-muridnya, Islam ya hasil pemikiran Muhammad, Hindu hasil pemikiran bangsa India, dan Buddhism adalah hasil pemikiran Siddharta Gautama.

Naif sekali menampik agama sebagai sebuah kebudayaan ketika kenyataannya isi ajaran agama sangat dipengaruhi oleh kehidupan di mana para pengarang agama itu muncul. Apa Islam dan Kristen pernah mengutip tentang pinguin, beruang kutub, anoa, dan cendrawasih dalam kitabnya? Jelas tidak, karena di Timur Tengah tidak ada pinguin, adanya onta dan domba, maka wajar binatang itu yang disebut dalam kitab suci emereka. Jika tuhan benar menciptakan alam semesta dan maha tahu maka paling tidak ada binatang dari benua lain yang juga disebut, kalau perlu disebut juga makhluk dari planet lain, kenyataannya kan tidak demikian. Mungkin hanya Buddhism yang jujur mengakui bahwa agamanya memang buah dari pemikiran Siddharta, agak beda dengan umat agama abrahamik yang terkesan congkak dengan mengklaim agamanya sebagai agama langit dan agama lain sebagai agama bumi.

Sebagai sebuah hasil dari kebudayaan manusia, maka agama itu tidak sempurna, ada ajaran kebaikan di dalamnya namun ada pula ajaran yang tidak baik. Ajaran yang tidak baik bukan berarti bahwa ajaran tersebut memang sengaja dibuat dengan tujuan tidak baik, bisa jadi ajaran tersebut baik untuk kondisi saat itu namun tidak baik untuk diterapkan dalam situasi umum di zaman sekarang, bisa jadi juga ajaran tersebut tidak baik karena tidak dipikirkan secara matang akibat kurangnya pengetahuan dari pengarang agama tersebut.

Karena ada ajaran yang tidak baik dalam agama, maka bagi saya suatu agama tidak mesti diikuti sepenuhnya, ambil ajaran baiknya dan tinggalkan ajaran yang dianggap tidak baik, dan tidak mesti juga hanya berpatokan pada satu agama, jika ada kebaikan dalam agama lain tidak ada salahnya jika ajaran itu diikuti.

Contoh: Islam mengajarkan bahwa anak sebaiknya diberi ASI sampai usia 2 tahun, dari segi kesehatan ini adalah ajaran yang baik maka pantas untuk diikuti, di Kristen ada cerita di mana Yesus menentang hukuman rajam, bagi saya itu adalah ajaran yang baik yang juga perlu diikuti. Mendapati kedua agama mengajarkan hal baik tidak lantas membuat saya harus mengikuti kedua agama tersebut secara sempurna sesuai ajaran dalam kitab suci mereka ketika kenyataannya Kristen dan Islam mengajarkan hal yang menurut saya tidak baik seperti ajaran kebencian terhadap kaum LGBT.

Saya percaya bahwa manusia sejak lahir dibekali dengan otak bukan dengan kitab suci, maka dengan otak yang telah diasah lah manusia semestinya bisa menilai mana yang benar dan tidak, mana yang patut diikuti dan mana yang tidak, bukan menyerahkan standar kebenaran pada kitab suci yang belum tentu benar berasal dari tuhan.

Bagaimana cara menilai mana ajaran baik dan tidak baik dalam agama?

Dengan logika, pengetahuan, dan empati. Kita mengenai apa yang disebut dengan golden rule, yang artinya perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Maling pun tidak ingin barangnya kemalingan, maka kita bisa tahu bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik. Dengan pengetahuan misalnya kita tahu bahwa ternyata homoseksual terkait dengan genetik, bahwa spesies lain selain manusia juga menunjukkan fenomena homoseksual maka menjadi tidak wajar jika kita mendiskriminasi kaum LGBT. Berkat teknologi kesehatan kita bisa mengobati penderita kusta hingga sembuh tanpa takut menularkannya pada orang lain, maka mengasingkan penderita kusta menjadi sebuah hal yang tidak baik.

Oke, jadi semua agama punya ajaran baik dan tidak baik, tapi di antara semua agama, mana agama yang paling baik?

Sejauh yang saya pelajari, saya mendapati bahwa Buddhism adalah adalah ajaran yang paling humanis dan rasional, walau demikian saya tidak merekomendasikan orang lain untuk pindah agama, karena seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa kita tidak mesti mengikuti agama secara sempurna seperti dalam kitab suci, ambil baik-baiknya saja kemudian tinggalkan ajaran yang dianggap tidak baik, lagi pula pindah agama seringkali menimbulkan masalah dalam keluarga dan masyarakat. Jika kita bisa mengikuti kebaikan dalam agama lain tanpa harus ikut agama tersebut, mengapa mengambil risiko untuk menambah masalah baru? Kecuali jika anda memang mendapati ketenangan dan kebahagian dengan berpindah agama. Tapi hey, kebahagian yang baik bukan hanya ketika seseorang merasa bahagia, tapi juga ketika kebahagiaan itu juga bisa membahagiakan orang-orang lain di sekitar kita.


Oke, semoga artikel ini bisa menjawab rasa penasaran anda mengenai apa agama atau keyakinan yang saya anut. Jika ada pertanyaan lain terkait kepercayaan saya bisa ditulis di komentar dan penjelasannya mungkin akan saya tambahkan di artikel ini.