Ambulans Tidak Boleh Menjemput Pasien Pakai Sirene?

Artikel ini bermula ketika kemarin sempat hangat berita tentang Rocky Gerung dan kawan-kawannya yang menaiki ambulans agar bisa sampai ke Universitas Muhammadiyah Jember dimana peristiwa tersebut diceritakan oleh Muhammad Said Didu dalam cuitan Twitternya.

Di artikel ini saya tidak akan membahas kasus ambulansnya Rocky Gerung, yang ingin saya bahas adalah tentang undang-undang yang mengatur tentang penggunaan ambulans, yaitu Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dimana setelah saya baca ternyata ada hal yang menurut saya janggal.

Menurut pasal 134 UU nomor 22 tahun 2009, dikatakan bahwa pengguna jalan yang memperoleh hak utama sehingga boleh menggunakan sirene adalah sebagai berikut:

  1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;
  2. Ambulans yang mengangkut orang sakit;
  3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;
  4. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;
  5. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;
  6. Iring-iringan pengantar jenazah; dan
  7. Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Mungkin saya yang salah mengartikan kalimat pada poin kedua tersebut. Tapi menurut saya, kalimat tersebut bermakna bahwa ambulans hanya boleh menyalakan sirene ketika dia sedang mengantarkan pasien. Artinya, sudah ada pasien sakit dulu dalam ambulans, baru ambulansnya boleh menyalakan sirene.

Kalau benar demikian maknanya, maka menurut saya aturannya sudah salah, karena fungsi ambulans yang paling krusial itu bukan mengantarkan pasien melainkan memberikan pertolongan pertama pada pasien agar kondisi pasien lebih stabil. Jadi ambulans yang baik itu adalah ketika ambulansnya ngebut dan cepat mendatangi pasien, pasiennya diberikan pertolongan pertama dengan bantuan alat medis dan tenaga medis, setelah stabil baru dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Kalau tugas ambulans cuma sekadar mengantar pasien, ya ganti saja dengan mobil pick up.

Jika saya yang salah mengartikan, bahwa makna di kalimat undang-undang tersebut adalah “ambulans juga boleh menggunakan sirene ketika menjemput pasien”, maka ke depan, jika ada kesempatan untuk merevisi undang-undang ini, alangkah baiknya jika kalimat di aturan tersebut diubah agar tidak menimbulkan salah penafsiran. Kalimat di pasal tersebut bisa diganti dengan “ambulans yang menjemput dan mengantarkan orang sakit”.

Saya pikir sebuah aturan yang baik itu bukan hanya ditulis dalam kalimat yang singkat dan padat, namun juga dengan bahasa yang mudah dimengerti dan terhindar dari salah penafsiran.

Mungkin Anda juga menyukai