Alasan Menolak Hukuman Mati

Kemarin banyak tulisan di sosial media yang membahas mengenai eksekusi mati terpidana kasus narkoba. Dilihat dari jumlah postingan, saya simpulkan bahwa mayoritas masyarakat mendukung adanya hukuman mati pada mereka. Iseng saya tanya alasan mengapa mereka mendukung hukuman mati, ternyata jawabannya cukup variatif, berikut adalah beberapa jawaban yang saya anggap bagus.

Alasan Mendukung Hukuman Mati

  1. Memberikan Rasa Keadilan Pada Korban
    Yang mendapat hukuman mati adalah mereka yang melakukan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) seperti aksi terorisme yang menghilangkan banyak nyawa manusia, narkoba yang merusak masa depan generasi muda, dan korupsi sebagai penyebab miskinnya negara. Tindakan mereka dianggap jahat luar biasa sehingga hukuman penjara dianggap tidak sebanding untuk membalas perbuatannya, maka hukuman mati dianggap hukuman yang pantas dan setimpal atas perbuatan mereka.
  2. Kontrol Lapas di Indonesia Masih Lemah
    Mendapat penjara dengan ruangan seperti istana, bebas keluar masuk penjara hingga sempat menonton pertandingan tenis internasional, adalah contoh kasus yang pernah terjadi pada terpidana korupsi di Indonesia. Pada terpidana narkoba, banyak kasus dimana mereka masih mampu mengatur transaksi via telepon atau internet. Melihat kasus itu, tampaknya penjara sama sekali bukan penghalang bagi mereka untuk berhenti melakukan aksi kejahatan atau setidaknya membuat mereka menyesali kejahatannya. Karena risiko seperti itu masih ada, maka akan lebih baik jika pada terpidana itu dieksekusi mati saja secepatnya.
  3. Biayanya Mahal
    Memenjarakan manusia seumur hidup sama artinya membebani negara dengan biaya tanggungan kehidupan mereka. Jika harga 1 porsi makan adalah 5000 rupiah, makan makan 3 kali sehari selama 10 tahun untuk 100 terpidana sudah menghabiskan biaya 1,83 milyar, jumlah yang cukup untuk membangun 1 sekolah berkualitas baik. Mempertahankan hidup mereka hanya membuat negara semakin rugi, tidak ada untungnya, ya sudah bunuh saja. Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran pada pendukung eksekusi mati tersebut.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa alasan tersebut salah. Tiap orang punya dasar argumentasinya sendiri. Latar belakang pengalaman serta pengetahuan akan memberikan jawaban yang berbeda pula. Saya yang tidak pernah menjadi korban langsung dari kejahatan luar biasa tentu argumen saya tidak bisa disandingkan dengan mereka yang pernah langsung menjadi korban kejahatan tersebut. Tapi ya secara pribadi saya memang menolak hukuman mati, saya punya jawaban tersendiri kenapa menolak hal tersebut, dan alasan-alasan yang tadi saya tulis saya anggap bukan alasan yang tepat.

Ilustrasi hukuman mati dengan cara penembakan

Alasan Menolak Hukuman Mati

Alasan umum yang sering dilontarkan orang-orang untuk menolak hukuman mati diantaranya adalah karena mereka menganggap manusia tidak berhak mencabut nyawa manusia, urusan kematian dianggap urusan tuhan. Ada juga alasan lain yang mengatakan bahwa setiap penjahat seharusnya diberikan kesempatan untuk bertobat.

Well, saya bukan orang yang terlalu religius, pun pandangan saya akan ketuhanan sedikit berbeda. Bagi saya, segala yang terjadi di alam adalah bagian dari rencana tuhan, manusia membunuh, manusia mengadili, semua tidak lepas dari kehendak tuhan, tidak ada pemisah pasti antara mana hasil pekerjaan tuhan dan mana hasil pekerjaan manusia. Jadi ketika negara mengeksekusi mati penjahat, maka itu bagian rencana tuhan, hanya saja yang menjalankan adalah manusia.

Saya juga bukan orang yang terlalu naif hingga berharap bahwa tiap penjahat itu bisa bertobat. Jangankan membuat penjahat tobat, mengubah perilaku masyarakat yang sederhana seperti buang sampah pada tempatnya saja susahnya minta ampun. Hal ini karena terkait dengan lingkungan, kehidupan di masa lalu (masa kecil), pengetahuan, dll, yang kesemuanya tidak tidak bisa langsung diubah begitu saja. Manusia itu seperti tanah liat yang jadi tembikar, ketika sudah kering (dewasa) sulit untuk dibentuk, memaksa membentuknya ketika kering hanya akan membuatnya jadi pecah.

Jadi apa dong alasan saya menolak hukuman mati?

Tidak Ada Peradilan Yang Sempurna

Alasan utama menolak hukuman mati adalah karena yang namanya peradilan oleh manusia tidak mungkin bisa sempurna. Selalu ada kemungkinan orang baik dinyatakan bersalah. Misalnya ada orang jahat yang masukkan narkoba ke tas seseorang sehingga orang itu disangka sebagai pengedar narkoba, atau dengan rencana yang rapi seseorang bisa difitnah sehingga seolah-olah dia telah melakukan pembunuhan berencana, dan tentu saja hal itu semakin mudah dilakukan ketika polisi dan lembaga peradilan mudah disuap seperti di Indonesia.

Carlos De Luna

Faktanya ada banyak kasus dimana seseorang dinyatakan tidak bersalah setelah mereka dieksekusi mati, sebut saja kasus yang menimpa Carlos de Luna, Ellis Wayne Felker, atau Jesse Tafero. Bahkan Amnesty Internasional mencatat bahwa untuk di wilayah Amerika Serikat saja sejak tahun 1973 telah terjadi 130 kasus orang tidak bersalah yang divonis mati. Bayangkan anda atau keluarga anda yang mengalami nasib sial itu, apa yang bisa negara lakukan atas ketidakadilan tersebut?

Bandingkan dengan kasus yang dialami oleh David Ranta dan Iwao Hakamada, dimana mereka dinyatakan tidak bersalah setelah divonis penjara selama puluhan tahun. Mereka akhirnya dibebaskan, nama baiknya dipulihkan, pengadilan meminta maaf, negara bisa memberi ganti rugi. Walaupun hal itu mungkin tidak sebanding dengan penderitaan mereka selama dipenjara, tapi setidaknya mereka bisa merasakan kebahagiaan. Bagaimana dengan orang yang sudah mati? Bisa dihidupin lagi?

Saya pernah mendengar istilah, bahwa “Membebaskan 100 penjahat lebih baik daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah”. Saya pikir hukum seharusnya memang seperti itu, prioritas utamanya adalah melindungi orang baik, menghukum orang jahat adalah urusan kedua.

Itu jika pengadilan tidak sengaja menjatuhkan vonis yang salah. Bagaimana penguasa negara secara aktif memanfaatkan hukuman mati untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya? Penguasa yang melakukan pembunuhan langsung pasti akan menimbulkan gejolak protes di masyarakat, tapi ketika lawan politiknya dibunuh sebagai penjahat, masyarakat tidak akan protes, malah pemerintah dianggap sebagai pahlawan yang tegas memberantas kejahatan. Bayangkan jika Nelson Mandela dulu dieksekusi mati, bukan dipenjara, maka Afrika Selatan tidak akan bisa seperti sekarang.

Anda bisa mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi jika hukuman mati diterapkan untuk kasus tertentu saja, misalnya untuk kasus narkoba, dan tidak boleh diterapkan pada kasus yang terkait politik. Tapi coba pikirkan, kasus apa sih yang tidak bisa direkayasa? Hakim negara mana yang tidak bisa disuap? Bukan hal yang mustahil membuat seorang Mandela tampak sebagai seorang bandar narkoba kelas kakap, atau tuduh saja dia bekerjasama dengan Al Qaeda untuk melakukan pemberontakan, jadilah dia teroris.

Karena peradilan tidak sempurna, karena kejahatan bisa direkayasa, karena nyawa orang baik begitu berharga, karena kita tidak ingin orang baik tidak mendapatkan ketidakadilan hingga akhir hayatnya, maka hukuman mati menjadi tidak layak. Kalau kata Soe Tjen Marching, hukuman mati adalah sebuah pernyataan kecongkakan bahwa tidak akan ada kesalahan atau hal yang perlu direvisi dalam keputusannya. Sebuah bentuk kekerasan tersendiri yang seharusnya ditiadakan dalam zaman modern.

Hukuman Mati Bukan Solusi

Secara umum hukuman pada penjahat bertujuan untuk menciptakan dan menjaga keamanan, memberikan rasa keadilan pada korban, serta memperbaiki individu dari penjahat tersebut. Tapi dalam kasus hukuman mati, tujuan mana yang ingin dicapai? Benarkah hukuman mati merupakan metode yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut?

Tidak semua orang takut mati

Salah satu tujuan pemberian sanksi pada pelaku kejahatan adalah untuk memberikan efek jera, agar pelaku kejahatan tidak mengulangi aksinya, agar calon penjahat berpikir dua kali sebelum melakukan kejahatan. Untuk itu, maka pelaku kejahatan perlu diperlakukan secara tidak nyaman atau buat mereka tidak bahagia.

Cara agar mereka tidak bahagia tentu banyak, mulai dari membatasi hak mereka (memenjarakan), menyiksa mereka seperti pemberian hukum cambuk, dan tentu saja membunuh mereka. Asumsi sebagian orang yang setuju hukuman mati adalah bahwa semua orang takut mati, semua orang tidak ingin mati. Mereka beranggapan bahwa kematian adalah hal buruk yang paling dihindari semua manusia. Benarkah?

Sayangnya tidak. Sebagian pelaku kejahatan melakukan aksinya karena frustasi akan hidup, yang ada di kepala mereka adalah pilihan antara melakukan kejahatan atau mati, mereka tidak punya solusi untuk hidup bahagia tanpa melakukan kejahatan. Orang yang sudah tidak niat hidup ya tidak takut pada kematian, mungkin mereka berharap menemukan kehidupan yang lebih baik setelah mati (jika mereka percaya after life atau reinkarnasi).

Beda lagi dengan teroris yang mengatasnamakan agama. Mereka pada dasarnya memang cari mati, sukses atau gagal melakukan aksi karena tertangkap Densus 88 mereka ujung-ujungnya akan mati juga, sehingga kematian dianggap jalan atau bagian dari proses perjuangan. Lha, orang yang pada dasarnya ingin mati dan siap mati, kok ditakut-takuti dengan kematian, ya tidak mempan. Ibarat menghukum cambuk para masochist, ya tambah senang mereka.

Kalau mau bikin jera teroris, saya pikir ada lebih banyak hal yang bisa membuat mereka takut dan tersiksa. Contoh, karena mereka terlalu fanatik pada agama saya yakin mereka akan tersiksa ketika disuruh tidur di kandang babi atau karena mereka terobsesi bertemu bidadari surga maka kebiri saja mereka. Walau bagi masyarakat umum hal tersebut terkesan konyol, tapi tidak bagi mereka. Lihat saja bagaimana kelompok radikal di timur tengah ketakutan ketika mereka dihadapkan pada tentara perempuan karena mereka percaya mereka tidak akan mendapat surga ketika dibunuh oleh perempuan, atau lihat foto umat radikal di samping dimana mereka lebih mementingkan untuk mengamankan kelaminnya dibanding jantungnya karena percaya bahwa jika kelaminnya rusak maka perjuangan mereka untuk bertemu bidadari surga akan sia-sia.

Efek jera kok eksekusinya tertutup?

Lagi soal efek jera (detterent effect). Katanya eksekusi mati bertujuan sebagai peringatan pada calon penjahat lain di luar sana, bahwa “Ini lho akibat yang kalian dapatkan jika melakukan kejahatan”. Sayangnya eksekusi terpidana mati di Indonesia dilakukan secara tertutup, tidak ada masyarakat yang menyaksikan secara langsung, pun tidak disiarkan media. Masyarakat hanya tau bahwa pelakunya sudah mati, itu saja.

Pilihan eksekusi tertutup tentu saja berdasarkan pertimbangan etika. Mempertontonkan aksi pembunuhan dianggap hal yang tidak pantas, kejam, dan berpengaruh buruk pada mental masyarakat. Tapi hal ini kan tidak sejalan efek jera yang ingin didengungkan. Bagaimana caranya memberi peringatan kepada calon kriminal akan sakitnya penderitaan ditembak ketika eksekusi penembakan itu tidak pernah ditunjukkan pada mereka? Hal ini tentu sulit dan tidak efektif.

Vonis maksimal jarang dijatuhkan

Si A terdakwa korupsi, hukumannya hanya 2 tahun penjara. Si B terdakwa kasus terorisme, hukumannya hanya 5 tahun penjara. Pelaku korupsi tidak jera, teroris masih ada, masyarakat tidak mendapatkan rasa keadilan. Atas kejadian tersebut lantas diusulkan lah agar pelaku korupsi dan terorisme sebaiknya dihukum mati saja.

Yang membuat saya heran adalah, mengapa masyarakat berpikirnya langsung loncat ke hukuman mati? Mengapa masyarakat yang tidak puas akan vonis peradilan beranggapan bahwa keberadaan hukuman mati bisa menjadi solusi ketidakpuasan mereka? Memangnya vonis ringan yang diberikan para penjahat itu terjadi karena ketidakadaan hukuman mati? Ini logikanya gimana coba.

Ini ibarat orang bawa motor ke bengkel, tapi ketika di bengkel yang dibenerin cuma saringan udaranya, kita tidak puas, lantas kita menuntut agar motornya diganti saja dengan yang baru, padahal menurut buku tata cara perawatan motor, tuh motor bisa di full service dengan ganti oli dan membersihkan mesin bagian dalam. Hal yang tidak pernah dilakukan Sang Bengkel yang kita juga tidak pernah menuntutnya.

Maaf jika analoginya sulit ditangkap, tapi intinya dengan atau tanpa adanya hukuman mati, ketika peradilan itu buruk, maka vonis yang tidak adil akan tetap terjadi. Sebelum beranjak ke hukuman mati, seharusnya kita menuntut agar pelaku divonis maksimal dulu, atau setidaknya kita bisa menuntut vonis maksimalnya ditambah, misalnya dari 20 tahun penjara menjadi penjara sumur hidup. Ketika vonis itu sudah sering dijatuhkan pada para penjahat, namun kejahatan masih tetap marak, barulah seharusnya kita memikirkan solusi yang lebih ekstrim dan berisiko seperti hukuman mati.

Tidak efektif mengurangi kejahatan

Ada banyak penelitian yang membandingkan antara negara yang menerapkan hukuman mati dengan negara yang menghapus hukuman mati, dan dari hasil perbandingan tersebut diketahui bahwa penerapan hukuman mati tidak lebih efektif dibanding hukuman penjara, bahkan negara dengan hukuman mati angka kriminalitasnya secara signifikan lebih tinggi dibanding negara yang menghapus hukuman mati.

Di Amerika misalnya, pernah dilakukan perbandingan antara negara bagian yang masih menerapkan hukuman mati untuk kasus pembunuhan dengan negara bagian yang tidak menerapkan hukuman mati. Hasilnya negara bagian yang masih menerapkan hukuman mati justru kasus pembunuhannya lebih banyak dibanding negara bagian yang sudah menghapus hukuman mati, dan nilai perbedaan ini signifikan. Atas dasar ini maka tidak salah jika kemudian muncul pandangan bahwa hukuman mati hanya menghilangkan nyawa, bukan menghilangkan kejahatan itu sendiri.

Ternyata hukuman mati tidak membuat jera pelaku kriminal. Sebaliknya, justru angka pembunuhan di negara yang mengenal hukuman mati lebih tinggi dibanding negara yang tidak mengenal hukuman mati.
Ternyata hukuman mati tidak membuat jera pelaku kriminal. Sebaliknya, justru angka pembunuhan di negara yang mengenal hukuman mati lebih tinggi dibanding negara yang tidak mengenal hukuman mati.

Catatan:
Banyak yang berkomentar bahwa hasil ini tidak bisa digunakan untuk membandingkan Amerika yang merupakan negara maju dengan Indonesia yang masih berkembang. Hal tersebut tidak benar karena dalam kasus tersebut yang dibandingkan adalah 2 negara bagian Amerika yang memiliki nilai sosial, tingkat pengetahuan masyarakat, serta kemampuan ekonomi yang sama, artinya ketiga faktor sudah diperhitungkan dan hasil ini tidak akan berubah sekalipun penelitiannya dilakukan di negara dengan tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang berbeda.
Sama seperti membandingkan antara perokok gendut dan non perokok yang juga sama-sama gendut, maka ketika hasilnya perokok gendut lebih cenderung terkena kanker maka itu artinya baik orang gendut maupun orang kurus yang merokok akan lebih cenderung menderita kanker dibanding non perokok.

Manusia hidup lebih berharga daripada mayat

Saya tidak setuju bahwa membiarkan penjahat hidup di lapas hanya membebani negara. Memang betul bahwa biaya hidup mereka akan ditanggung negara, masalahnya kita tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan napi tersebut untuk bekerja? Jadi tukang sapu jalanan misalnya, atau tempatkan lapas di samping TPA kemudian suruh mereka memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dan kerajinan tangan, yang nanti hasilnya dibagikan pada masyarakat. Mirip kerja rodi, tapi tentu tidak sekejam zaman penjajahan, yang tidak mau bekerja paling porsi makanannya dikurangi, sedang yang giat bisa diberi kompensasi berupa kamar lapas yang lebih baik.

Bandingkan jika mereka ditembak, yang ada cuma jadi mayat. Untungnya apa selain memuaskan nafsu balas dendam korban kejahatan yang sifatnya sementara? Tidak bisa dimanfaatkan, yang ada negara cuma beban menanggung biaya pemakamannya.

Penjahat bisa tobat, amarah bisa berlalu

Seperti yang saya katakan sebelumnya, mengharap penjahat untuk tobat bagi saya terlalu naif, bahwa mengubah pandangan penjahat itu sangat sulit, namun saya tidak memungkiri bahwa kemungkinan itu selalu ada. Ketika penjahat baru tobat setelah vonis mati dijatuhkan, apa yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya? Dia tidak mendapat kesempatan itu selain minta maaf. Tapi dengan membiarkannya hidup, maka kita telah memberikan dia kesempatan untuk berbuat lebih banyak, baik terhadap keluarga korban secara langsung, atau kepada negara seperti memberikan informasi mengenai jaringan organisasinya. Jika penjahat hidup saja bisa lebih berguna dibanding mayat, apalagi mantan penjahat (yang telah tobat), pastinya akan lebih bermanfaat, tidak hanya bagi negara, bagi korban, tapi juga bagi dirinya sendiri.

Soal rasa keadilan yang dialami korban. Ah, tidak semua korban ingin pelaku kejahatan itu mati. Ingat kasus pembunuhan Ade Sara dimana ibu korban dengan mudah memaafkan kedua pelaku pembunuh anaknya, marah tidak ada artinya toh anaknya sudah meninggal. Mungkin sebagai ibu dia tidak ingin ibu pelaku merasakan kehilangan anak seperti dirinya. Walau kesannya Ibu Ade Sara ini aneh dan terlalu baik, tapi ya model orang seperti ini memang ada. Lagi pula saya percaya bahwa waktu bisa hampir menyembuhkan segala luka. Orang boleh marah saat ini, tapi 10 tahun kemudian apakah dendam itu masih ada? Saya tidak yakin, karena saya tahu marah dan dendam itu melelahkan dan tidak ada gunanya.

Soal kontrol lapas yang masih lemah

Ini memang ada hubungannya dengan menjaga keamanan, mencegah agar pelaku tetap melakukan aksi kejahatan selama hidup dalam tahanan. Tapi saya itu bukan alasan yang tepat untuk membenarkan hukuman mati. Membenarkan hukuman mati dengan alasan seperti ini kesannya terlalu menyederhanakan masalah dan tidak menghargai nyawa manusia.

Sebagai perbandingan, bagaimana jika kasusnya adalah lapas yang mudah diterobos kabur oleh napi, apa itu bisa menjadi alasan untuk menghukum mati pencuri singkong dengan alasan untuk mencegahnya meloloskan diri? Tidak kan. Jika yang bermasalah adalah lapasnya, maka lapasnya yang perlu diperbaiki, bukan napinya yang dibunuh.

Memperburuk Citra Negara

Untuk menjaga hubungan internasional dengan negara lain, Indonesia harus menyesuaikan diri dengan standar moral dan hukum yang berlaku di negara lain. Saat ini, negara-negara maju telah banyak menghapus hukuman mati, mereka beranggapan bahwa hal tersebut merupakan pelanggaran HAM yang tidak layak diterapkan di zaman sekarang. Ketika Indonesia masih menerapkan hukuman mati, tentu negara lain akan berpandangan bahwa pemikiran masyarakat Indonesia masih terbelakang, belum siap untuk maju, pengawasan di lapas masih kurang, serta menunjukkan bahwa Indonesia lebih suka mengambil jalan pintas sekalipun tidak efektif.

Walau tidak sampai dikecam dan dikeluarkan dari keanggotaan PBB tapi filosofinya yang berbeda akan membuat negara tersebut enggan bekerjasama dengan Indonesia. Hal ini tentu merugikan karena kebanyakan negara yang menentang hukuman mati tersebut adalah negara maju dan berpengaruh. Indonesia sendiri pernah beberapa kali diprotes oleh negara lain atas vonis mati. Australia misalnya, pada tahun 2008 menolak hukuman mati pada Amrozi dan kelompoknya sekalipun korban bom Bali paling banyak adalah dari warga negara mereka, begitu pula untuk eksekusi mati kali ini Belanda dan Brazil sampai ingin menarik duta besarnya.

Bertentangan Dengan Undang Undang Dasar

Ini argumen tambahan saja, karena saya sendiri bukan orang yang suka menilai benar salah berdasarkan undang-undang. Undang-undang kan buatan manusia, hasil kesepakatan manusia. Apa yang dipikirkan pembuat undang-undang belum tentu sama dengan apa yang saya pikirkan. Tapi jika anda fanatik pada undang-udang, menganggap bahwa undang-undang sebagai hukum absolut yang harus ditaati maka sepantasnya anda menolak hukuman mati, karena pada pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 dengan jelas mengatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”

Karena menggunakan kata setiap orang, maka hal itu juga berlaku pada terdakwa kasus kejahatan, bahkan berlaku bagi mereka yang bukan warna negara Indonesia. Hal tersebut kemudian diperjelas pada Undang-undang tentang HAM nomor 39 tahun 1999 dimana pada pasal 9 ayat 1 dikatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya”.

Jadi jelas, bahwa negara memandang bahwa semua orang berhak untuk hidup, bahwa membunuh adalah tidak pantas, siapapun pelakunya, termasuk jika jika dilakukan oleh negara. Jadi ketika negara melaksanakan eksekusi mati, maka sejatinya negara telah melanggar hukum buatannya sendiri.

Kesimpulan

Intinya,  bagi saya hukuman mati adalah bentuk hukuman yang sudah tidak layak diterapkan di zaman sekarang, selain karena sebagai bentuk pelanggaran HAM dan ketidakkonsistenan negara dalam menjalankan undang-undang, ada kemungkinan kesalahan vonis dalam pengadilan, tidak solusitatif (bahasanya Vicky Prasetyo), tidak sesuai dengan cara pandang negara maju, juga karena hukuman mati tidak lebih efektif dalam menekan angka kejahatan sehingga hukuman mati lebih banyak merugikan negara dibanding manfaatnya.

Mungkin Anda juga menyukai