Akhirnya Website OPD Klungkung Menggunakan WordPress

Zaman ketika hampir semua hal bisa dikerjakan lewat internet, maka sudah semestinya sebuah instansi pemerintah yang berkewajiban memberikan pelayanan dan informasi publik kepada masyarakat, memiliki apa yang disebut dengan website. Sayangnya, jika kita mengunjungi website pemerintah, kebanyakan website pemerintah itu tampilannya culun, berantakan, dan sulit menemukan konten yang dicari, salah satu masalahnya adalah karena CMS yang dipakai.

Saya dari dulu bingung mengapa website pemerintah jarang yang mau menggunakan WordPress sebagai CMSnya malah bikin CMS sendiri yang gak jelas, padahal WordPress itu canggih, gratis, open source, dan karena dipakai dan dimantenance oleh banyak orang maka CMS ini cenderung aman dan stabil. Lantas masalahnya di mana?

Masih Ada Yang Meremehkan WordPress

Beberapa orang masih mengira bahwa WordPress itu hanyalah sebuah platform untuk blog, tidak cocok digunakan untuk sebuah website perusahaan, apalagi media besar. Saya dulu termasuk orang yang berpendapat demikian.

Saya masih ingat ketika menjadi anggota Pers Akademika Universitas Udayana, saat itu kami mengadakan pelatihan pembuatan website. Rencananya Pers Akademika tidak hanya menerbitkan tulisan melalui media cetak tapi juga punya website sendiri. Diundanglah kami ke salah satu perusahaan yang menangani website dan hosting yaitu Bali Orange Communications (BOC). Di sana kami mendapat pelatihan tentang apa itu website dan bagaimana cara memulainya.

Nah, ketika tutornya menjelaskan cara pembuatan website dengan WordPress, saya dan beberapa rekan langsung saling menoleh sambil mengerucutkan dahi. Protes gak berani karena pihak BOC sudah mau mengajari kami secara gratis, mau lanjut belajar tapi semangat udah gak ada. Sepulang dari BOC baru kami saling menggerutu “Kok diajari tentang WordPress sih? WordPress kan cuma blog?”

Yap, kami saat itu tahunya WordPress cuma untuk blog. Beberapa anggota Pres Akademika, termasuk saya juga sudah ada yang rajin ngeblog di WordPress (waktu itu saya masih pakai Blogspot), jadi tidak punya gambaran bahwa WordPress layak dipakai untuk media informasi pers kampus.

Pasca saya keluar dari Akademika, mencoba belajar cara menggunakan WordPress, baru saya sadar bahwa selama ini saya salah. Ternyata situs-situs keren yang sering saya kunjungi, kebanyakan pakai WordPress sebagai CMSnya, sebut saja New York Times, BBC, Times, Tech Crunch, Mashable, dsb. Dari saya baru saya paham bahwa WordPress bukan hanya sebuah platform blog. Saya pun kemudian mantap menggunakan CMS sebagai platform website buatan saya. Lucunya, saat saya sudah pakai WordPress, situs Pers Akademika masih menggunakan Joomla yang tampilannya jadul (untungnya kemudian mereka tercerahkan).

Balik ke topik. Dugaan saya, sebagian orang di pemerintahan jangan-jangan masih ada yang berpikiran seperti itu, bahwa WordPress itu cuma platform blog, sehingga ketika developer menawarkan untuk menggunakan WordPress, mereka langsung menolaknya mentah-mentah.

Ingin Terlihat Bekerja

Kalimat “Kalau ada yang susah, buat apa dipermudah?” mungkin terdengar konyol. Masa iya sih ada orang yang sengaja nyari susah. Ternyata jawabannya ada. Alasannya adalah karena dengan bersusah payah maka mereka terlihat bekerja, dan semakin terlihat bekerja maka mereka punya alasan untuk meminta bayaran lebih.

Membuat website dengan WordPress itu sangat mudah, sama mudahnya dengan menginstal aplikasi di komputer. Tinggal klak klik beberapa kali, website sudah online, lanjut setting satu dua tiga, website sudah bisa dioperasikan, posting beberapa kali, maka website sudah siap untuk dipublikasi. Bagian yang susah itu adalah bagian desainnya, agar tampilan website sesuai dengan kebutuhan, tapi kalau tampilannya tidak terlalu rumit, pakai tema yang sudah ada di koleksi WordPress juga bisa. Gratis, tinggal download, dan pasang.

Saking mudahnya cara membuat website dengan WordPress di grup facebook WordPress Indonesia yang saya kelola pernah ada yang menawarkan jasa pembuatan website dengan WordPress seharga 50.000 rupiah saja (di luar domain dan hosting), dan jangan salah, walau murah tampilan yang ditawarkan cukup ciamik. Tidak heran, karena dia sebenarnya cukup mengerjakan satu desain dan desainnya itu bisa dia pakai berulang-ulang di banyak situs.

Nah, sekarang bayangkan kalau ada proyek pembuatan website dari pemerintah yang nilainya jutaan, lantas kita membuat website dengan modal klak klik sana sini, pasti nanti akan jadi pertanyaan dan temuan. Bisa dikira korupsi nanti.

Di perusahaan swasta, harga sebuah website bukan bergantung pada seberapa susahnya website tersebut dibuat, tapi soal apakah perusahaannya puas dengan hasil website tersebut atau tidak. Walaupun cara membuatnya mudah tapi kalau hasilnya ciamik dan mendatangkan profit, apa masalahnya? Tapi di pemerintahan hal itu bisa jadi masalah.

Di pemerintahan, karena yang dipakai adalah uang masyarakat, bukan uang sendiri, maka proses pertanggungjawabannya lebih rumit. Uang yang dikeluarkan dari pendanaan harus ditukar dengan sesuatu yang nilainya bisa diukur secara objektif. Pembangunan gedung kantor misalnya, yang menjadi ukuran adalah luas dan tinggi bangunan, spesifikasi bahan, serta lama pengerjaan. Pada pembuatan website, lama pengerjaan, jumlah karyawan, dan spesifikasi server bisa menjadi ukuran untuk menentukan sebuah harga. Karenanya, pihak developer pun terkadang tidak mau membuat website yang dibuat dengan modal klak klik, karenanya biar harganya tinggi, mereka malah repot-repot membuat CMS sendiri yang belum tentu lebih bagus dibanding WordPress.

Akhirnya Pakai WordPress

Sebelumnya, sebagai admin di website Dinas Kesehatan Klungkung, saya menyadari bahwa website sempat down selama beberapa bulan. Saya tanya ke bagian Diskominfo sebagai OPD yang menangani website, dikatakan bahwa semua website OPD sedang dalam proses maintenance. Hingga bulan Juni kemarin saya menyadari bahwa tampilan website sudah berubah.

Walau belum bisa login ke admin panelnya (belum punya password), tapi dengan melihat tampilannya yang khas dan halus, saya sudah menduga bahwa website OPD Klungkung sekarang pakai CMS WordPress. Setelah saya inspeksi melalui browser, benar saja bahwa websitenya memang telah menggunakan WordPress. Muncul perasaan senang dan lega dalam diri saya. Akhirnya stress saya bisa berkurang.

Sebelum pakai WordPress, website OPD masih menggunakan CMS buatan sendiri. Tidak bisa dibilang buruk, tampilannya lumayan baik dan user friendly, hanya saja saya yang punya kecenderungan OCD ini merasa terganggu dengan beberapa keterbatasan pengaturan di CMS tersebut serta bagaimana editor di CMS itu yang kadang tidak menampilkan hasil sesuai ekspektasi. Alhasil saya jadi agak malas-malasan membuat artikel, lebih sering memposting langsung kegiatan di Fanpage Facebook.

Nah kemarin, setelah diadakan pelatihan teknis pengelolaan website oleh Diskominfo Klungkung, maka saat itu website OPD yang menggunakan CMS WordPress ini resmi beroperasi. Saya yang menjadi admin kemudian mencoba mengubah tampilan website tersebut agar terlihat lebih elegan. Saya pakai tema Hestia agar terlihat lebih elegan, ternyata hasilnya lumayan. Saat mengubah tapilan website OPD juga saya sadar bahwa Hestia punya tipografi yang sangat bagus dan mudah dibaca, alhasil blog ini yang dulunya pakai tema Hueman juga saya ubah pake Hestia.

Ke depannya, semoga makin rajin update artikel kali ya, tidak hanya di sini, di website Dinkes Klungkung juga. 🙂

Mungkin Anda juga menyukai